Rabu, 29 Juli 2026

Harta untuk apa?

Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya sibuk mengumpulkan harta. Ia berkata: > "Nanti kalau sudah kaya, aku akan bertaubat." > "Nanti kalau sudah mapan, aku akan bersedekah." > "Nanti kalau sudah tua, aku akan mendekat kepada Allah." Namun ternyata kematian datang lebih cepat daripada rencananya. Kini ia berdiri di Padang Mahsyar. Di hadapannya ada gunungan emas yang dahulu ia banggakan. Tetapi emas itu tidak dapat berbicara. Tidak dapat membela. Tidak dapat membeli keselamatan. Saat itu ia baru menyadari: > Yang paling berharga bukanlah apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi apa yang berhasil kita persiapkan untuk akhirat.

Hati hati dengan Dosa

DOSA KEPADA SESAMA ?? Menjaga diri dengan berusaha menahan dan menghindari agar tidak menyakiti hati orang lain itu penting, karena tidak semua luka yang telah tergores dapat di tebus dengan kata maaf🌾 Jika kita masih ingat, maka segeralah kita selesaikan sekarang, selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan, selagi kita masih hidup🍀 Segeralah dengan mengembalikan haknya, menggantinya, meminta maaf atau meminta kehalalan atas kedzaliman yg pernah kita perbuat🌿 Karena jauh lebih ringan menunaikan hak-hak orang lain ketika kita masih di dunia, dari pada kita harus mempertanggung jawabkannya di akhirat nanti🕌🕋..

Selasa, 28 Juli 2026

Hadiah terbaik

HADIAH TERBAIK 1. Hadiah terbaik untuk sahabat adalah "Do'a." 2. Hadiah terbaik untuk musuh adalah "kema'afan." 3. Hadiah terbaik untuk guru adalah "penghormatan." 4. Hadiah terbaik untuk murid adalah "tauladan." 5. Hadiah terbaik untuk sebuah kehidupan adalah "kasih sayang." 6. Hadiah terbaik untuk sebuah kematian adalah "al-Fatihah." 7. Hadiah terbaik untuk orang tua adalah "berbakti." 8. Hadiah terbaik untuk isteri adalah "penghargaan." 9. Hadiah terbaik untuk suami adalah "kesetiaan." 10. Hadiah terbaik untuk anak adalah "pendidikan." 11. Hadiah terbaik untuk diri sendiri adalah "kejujuran." 12. Hadiah terbaik untuk orang yang tidak dikenali adalah "senyuman." 13. Hadiah terbaik untuk family adalah "Silaturrahmi" 14. Hadiah terbaik untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihiwaSallam adalah *"Shalawat."* Rasulullah ﷺ bersabda : "Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai." Selalulah bermurah hati untuk menghadiahkan sesuatu buat sesama terutama di sekeliling kita karena pemberian atau bantuan kita tersebut sangat menyenangkan perasaan mereka, yang sejatinya kita lah semestinya yang lebih senang karena kita dapat menolong sesama,karena bantuan yang kita berikan tersebut pada hakikatnya adalah membantu atau menolong diri sendiri. Pemberian yang tulus inshaa Allah bermanfa'at di dunia dan akhirat. *~ Saling mendo'akan dan saling mengingatkan lah dalam kebaikan.*

Minggu, 26 Juli 2026

Lawan rasa Malas

Rasa malas adalah tanda kehilangan arah. Tubuh dan pikiran sedang memberi pesan untuk memperbaiki arah hidupmu. 1. Malas muncul karena kamu kehilangan makna. Ketahui dengan jelas "mengapa" kamu lakukan sesuatu. Otakmu otomatis akan mencari cara untuk bergerak. Jadi, jangan kejar motivasi — kamu tidak butuh dorongan dari luar. Temukan makna sbg bahan bakar. Tulis ulang alasan bekerja, belajar, dan berjuang. 2. Malas datang karena kamu menunggu mood, bukan membangun sistem. Jangan bergantung pada suasana hati. Disiplin adalah jembatan antara niat dan hasil. Mulailah kecil tapi konsisten — tulis satu halaman tiap pagi, olahraga sepuluh menit, belajar lima belas menit. Lama-lama, tindakan itu menjadi mode otomatis 3. Kamu malas karena terlalu sering menunda hingga menjadi "tabungan stres". Cobalah trik: "lakukan 5 menit saja." Begitu bergerak, otakmu menyalakan momentum. Malas hanya kuat di awal — setelah itu, ia hilang. Lawan malas dengan langkah kecil yang menyalakan gerak. 4. Rasa malas kadang muncul karena kamu terlalu keras pada diri sendiri. Otakmu jenuh, tubuhmu lelah, dan akhirnya kamu kehilangan fokus. Ingat: tidak semua diam berarti malas — kadang itu tanda tubuhmu sedang memulihkan tenaga. Berhentilah sejenak kalau perlu, tapi pastikan kamu kembali dengan visi yang lebih jernih. 5. Di balik malas, sering ada ketakutan. Segala Ketakutan yg membuat diam — bukan karena tidak mau bergerak, tapi karena takut kecewa dengan diri sendiri. Ubah fokusmu, cukup ukur kemajuanmu hari ini dibanding kemarin. Begitu kamu berani bergerak tanpa menunggu sempurna maka Otakmu mulai menikmati proses belajar Rasa malas adalah cermin yg sering bertanya: Apakah masih berjalan ke arah yang benar? Apakah masih tahu alasan kenapa aku memulai? Satu langkah kecil saja setiap hari, akan berubah menjadi bahan bakaruntuk tumbuh & terus bergerak bahkan saat malas datang. Tampar & Bangkit, agar kamu terus diingatkan untuk tidak berhenti di tengah jalan...

Sabtu, 25 Juli 2026

The Wedding..?

"PERNIKAHAN BUKAN MENCARI SEMPURNA"🌼* _*Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang sempurna.*_🌾 _*Kesempurnaan itu hanya ada dalam bayangan, bukan dalam kenyataan.*_💐 _*Setiap manusia membawa cerita, luka, dan kekurangan.*_🍂 _*Dan ketika dua orang memutuskan untuk menikah, mereka tidak sedang mencari sosok tanpa cela, melainkan belajar menerima ketidaksempurnaan satu sama lain.*_🌿 _*Karena pada akhirnya, kesempurnaan pernikahan bukan terletak pada pasangan yang tanpa salah, melainkan pada dua orang yang mau menerima, mau berjuang, dan mau tumbuh bersama dalam segala ketidaksempurnaan.*_🕌🕋

Minggu, 19 Juli 2026

Diam dalam Faham

Sebagian yg sudah rajin "IBADAH RITUAL" & merasa MENGENAL "NAMA" Tuhan & seakan akan: - sudah "DEKAT' dengan Tuhan nya, - seakan akan sudah "kenal" dengan Tuhan nya, - seakan akan sudah *bersih* , - seakan akan sudah *Suci* . - sudah merasa *khusu'* . - sudah merasa *Rajin* . Tetapi, koq efek nya Masih : - Merendahkan Sesama, - Merusak alam, - Menyakiti sesama, - Mengabaikan kasih sayang, - *Membenci atau mengolok olok sesama*, bahkan menyiksa binatang, dll yang *Bertentangan dg perilaku TAUHID* . _Perjalanan menuju TAUHID itu ada *SISTEM* nya :_ Laqad Kana lakum fi rasulullahi Uswatun Hasanah" (QS 33:21) *SURI TAULADAN / SOPAN SANTUN / AKHLAK :* - Kepada Allah Swt = *HABLUM MINALLAH*. - Kepada alam semesta, sesama manusia = *HABLUM MINANNAS*. Kalau masih *membenci* dan *mengolok olok* sesama dan mahluk Allah Swt, ciri orang *masih menyembah NAMA*, _belum menyembah Wujud Nya_ ... *Kenyataannya* _masih banyak orang baru *MENYEMBAH NAMA* NYA_...yah *Bagaimana cara ingin melihat WUJUD nya , agar bisa MENYEMBAH WUJUD NYA ??? وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā *liya‘budūn* _Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk *beribadah* kepada-Ku. (Q.S Az-Zariyat [51] : 56) liya‘budūn = beribadah = menyembah .... *Menyembah* itu juga arti nya luas : - Memberi, - Condong, - Menghormat, - *USHALLI* ( Sembahyang ) , - dll .... اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا innallāha wa malā'ikatahū yuṣallūna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanū ṣallū ‘alaihi wa sallimū taslīmā _Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya *berShalawat* untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, *berShalawatlah* kamu untuk Nabi dan *ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya* (Q.S Al-Ahzab [33] : 56) *SALAM PENGHORMATAN*. 🌹🌹🌹 Untuk melihat dan kenal sang *WUJUD* Tuhan , _salah satu nya dengan pendekatan *RUKUN ISLAM*: Syahadat ➡️ Sholat ➡️ Zakat ➡️ Puasa ➡️ Haji . *SYAHADAT = BERSAKSI*, _bukan Berucap_ ... 🌹Orang kalau sudah *Bersaksi* , efek nya *SADAR /Shalat* _bukan Ushalli_ yah ... _Sadar kemana ?_ *Sadar ke Wujud*, QS 1:2 dan QS 2:115. _Tapi jangan ngaku Tuhan yah_ ... Segala puji bagi Gusti Allah Tuhan seluruh alam,, *Seluruh alam = Tuhan = Wujud*. 🌹Orang kalau sudah *BERSAKSI* , lalu *SADAR* (sadar Daim istiqmah ), 🌹lalu setelah _sadar_ saling *MEMBERI / Sedekah / ZAKAT*. 🌹 Kalau sudah *saling memberi* berarti sudah bisa *NAHAN ( PUASA )*. Nahan amarah, nahan godaan setan, ngatur amarah, nahan ego selaras dgn alam , dll 🌹Setelah mengolah Rasa, _puasa / nahan amarah / ngatur amarah_ ,,, nanti akan *HAJI / datang / Sampai /WUSHUL* ,,,, _Wushul nya dg cara_ *memaknai dan mengerjakan isi dari* QS 1:2 , QS 2:115 , dll *setiap hari* . *Hasil nya :* *WUSHUL VISUAL* , ➡️ misal Sedang duduk santai di rumah, kebun, dimana saja, duduk dg Hening ... Tiba2 ada yg bayangan *sret lewat*, _awas jangan pikiran negatif yah_ ( *ana inda Ghani abdibi* ) , tapi pikiran positip : *"OH INI GURU SEJATIKU"* _La maujuda ila llah_ ,,,, Kemana saja menghadap, disitulah *wajah* Allah Swt. (QS 2:115) *Mengerjakan Ayat2 diatas dgn sistem keilmuan :* - Ucapkan - Bacakan - Amalkan / kerjakan *Syarat nya :* - *KOSONGKAN* ( di Sucikan = tidak ada/terlihat ) dulu, - *Fitrahkan* ( di bersihkan, di Sucikan ) dulu, idul Fitri , seperti bayi baru lahir ( seperti kita sdg tidur, nggak punya apa2, nggak punya rekaman pahala, dosa, kemelekatan , keAkuan, dll ) ... _Dua hal yg perlu di kosongkan yi_: *JIWA* dan *RAGA* nya ... 🌹🌹🌹 Jika *meng Agung2 kan NAMA* , _nanti ada jebakan obyek subyek_ , *karena* waktu baca Qur'an itu bisa untuk : - Edukasi ( pelajaran ), - Praktek . *Misal* , _di surat Al Ikhlas :_ _*Katakanlah Tuhan itu satu*_ , ➡️ berarti Tuhan sebagai *Subyek* menyuruh Manusia sebagai *Obyek* .. Kalau untuk *Edukasi* manusia mengatakan firman itu *ngak jadi masalah* .... Tapi kalau untuk *praktek pribadi* , Firman nya Tuhan jangan di Akui , nanti nya *NEMPEL , MELEKAT* di diri ini , _manusia bisa jadi Subyek_ ➡️ *Wayang jadi Dalang* . _Kalau manusia sudah jadi Subyek ( jadi dalang )_ *akan mudah :* - meng Kafir2 kan orang. - me murtad2 kan orang. - mem Bidah2 kan orang. - men jelek2 kan orang. - me dosa2 kan orang. ➡️ Ini disebut *MENYEMBAH NAMA* , _belum MENYEMBAH WUJUD_ . Kalau orang sudah Melihat dan Kenal Tuhan, lalu *Menyembah Wujud Tuhan*, pasti akan lebih banyak *DIAM DALAM PAHAM*. Lembut, penuh kasih sayang, dll. INSYA ALLAH bermanfaat ...

Minggu, 18 Mei 2025

MENDAMBAKAN NEGERI YANG GEMAH RIPAH DAN BERKAH

by Zulkarnain Lubis Konon kabarnya ada sebuah negeri yang berada entah di antah berantah dan entah di bumi sebelah. Negeri ini punya pemandangan alam yang sangat indah, membentang sepanjang dan seluas negeri dengan alam, laut, gunung, dan hamparan aneka tumbuhan dan dengan tampilan pesona sejuta wajah. Kekayaan alam melimpah ruah, mulai dari perut bumi, hutan, dan air yang mestinya tak akan membuat hidup susah. Namun sayangnya negeri ini seakan tak bertuah, boleh jadi Allah seakan enggan memberi berkah, justru yang ada adalah hutang berlipat-lipat dan bertambah-tambah, rakyatnya semakin banyak yang hidup susah, kekayaan yang melimpah malah dikuasai oleh orang-orang serakah. Orang-orang berebut untuk menjadi penguasa dan saling memaksa untuk menjadi bagian dari yang memerintah. Pemerintahnya suka melanggar sumpah, gila disembah, dan tak suka disanggah. Penguasanya serakah, politisinya banyak berakhlak rendah, legislatifnya banyak yang perilakunya parah, pengusahanya banyak yang tukang hisap laksana lintah, premannya banyak dan nuraninya sekelas sampah, banyak pula yang serasa intelektual gagah, tambil dalam bungkusan jubah, dengan sederat gelar akademik megah, tapi diperoleh dengan cara salah, sehingga ilmunya tak sampai sepenggalah, karena sesungguhnya tak jelas apakah tamat sekolah atau mungkin tak pernah sekolah. Di negeri itu banyak penjahat yang tampak gagah padahal sesungguhnya adalah sampah dan etikanya rendah, mereka maling berjamaah, memanfaatkan penegakan hukum yang lemah dan pandai mencari celah. meraka adalah para begundal dan bedebah yang menguasai pemerintah atau justru bagian dari pemerintah. Mereka bisa duduk manis dengan wajah cerah, bersembunyi di balik sikap yang ramah, namun bisa juga dengan muka merah dan marah bahkan bisa membuat mangsanya berdarah-darah, ketika kedudukannya dan kepentingannya dijamah. Mereka siap tampil dalam debat dengan berbantah-bantah, adu argumen dan debat kusir yang tak pernah mengaku salah dan tak mau kalah, meskipun argumentasinya lemah dan bicaranya tak genah. Ada lagi yang lebih parah, yaitu pejabat pemerintah yang tampil sebagai penguasa bermental rendah, ada pula pengusaha serakah, dan politisi bermental sampah. Mereka berjamaah untuk menjarah dengan cara memecah, membelah, membuat resah, mengubah-ubah, membedah, mencegah, dan membuat tumpah, sehingga yang benar dijadikan salah, yang masak bisa dijadikan mentah, yang utuh bisa dinyatakan pecah, yang putih bisa dikatakan merah, bahkan gajah bisa dikatakan sebagai jerapah. Mereka bisa melakukannya karena mereka yang punya mahkamah, mereka yang menguasai orang-orang berjubah, mereka yang mengatur para pensiasah, pengadil rasuah, dan segala kasus jenayah. Semakin lengkap nasib negeri ini seperti kehilangan berkah, ketika rakyat di negeri itu juga tidak mau kalah, mereka tak mau peduli dan tak mau susah, banyak yang tak peduli benar atau salah, tak mau berlelah-lelah, tidak mau memilah-milah, mudah percaya terhadap kabar dan berita, apalagi gosip dan gibah, semua ditelan mentah-mentah. Memang negeri ini sepertinya sedang terkena musibah, gunjing, gosip, dan gibah tumpah ruah di seluruh wilayah dan masuk ke rumah-rumah, di tengah sawah, di halaman sekolah, di tempat jualan buah, di tempat orang makan mi kuah, di gedung mewah, bahkan di tempat ibadah. Bergunjing dan bergibah juga menjadi terbiasa dilakukan ketika menyampaikan makalah, saat menikmati juadah, ketika sedang rehat melepas lelah, sewaktu berbincang dengan tetangga sebelah, sedang mencuci pecah belah, atau sedang membuat gerabah. Bergunjing dan gibah juga merata, mulai dari yang masih gagah sampai mereka yang fisiknya sudah lemah, mulai dari mereka yang berpendidikan rendah sampai pendidikannya tinggi dengan sederet gelar yang megah. Gunjing, _hoax_, gosip, dan gibah semakin parah dengan kelakuan para pendegung yang bikin resah, baik pendengung yang mendapatkan jatah maupun yang sukarela mendengung meskipun tak mendapatkan jatah. Para pendengung ini memang sering membuat jengah, mereka membuat berita untuk mengupayakan popularitas pujaannya berada di puncak yang megah atau membuat pesaing mereka jatuh terpuruk ke lembah terendah. Melalui pendengung ini, kita bisa berpersepsi salah, pandangan bisa berubah, semut bisa dilihat seperti gajah, dan batang yang kokoh bisa pula dipandang sekedar pelepah. Rakyat juga banyak yang salah kaprah, dikasih uang sedikit saja, langsung berubah, banyak yang tidak punya pendirian dan pendiriannya hanya diukur dengan setingkat remah, langsung membela tanpa melihat lagi siapa yang benar siapa yang salah. Mereka sadar atau tak sadar untuk ikut perintah, bahkan kadang dalam sekejap mereka bisa menyerang ibarat sekelompok lebah yang sarangnya dijamah, dengan mudahnya rakyat terpisah dan terbelah. Negeri ini memang seakan kehilangan tuah, sehingga susah untuk mendapatkan berkah, bagaimana pula akan berkah ketika hampir semua ranah menjadi menyalah, melawan arah, tak terarah, aturan berubah-ubah, banyak pemegang amanah justru tak amanah. Demikianlah memang yang terjadi, serba kontroversi, serba kontradiksi, penuh dengan hipokrasi, jauh dari konsistensi, lebih banyak berapologi, penuh dengan basa basi, lain di mulut lain di hati lain lagi yang dieksekusi. Banyak yang senang mengumbar janji tapi tak banyak yang ditepati, banyak yang gemar berdusta, seakan berbohong sudah mentradisi, banyak yang mementingkan diri sendiri yang memperjuangkannya dengan cara menyakiti, melukai, memasukkan ke bui, bahkan membuat merana sampai mati. Sosok pemimpin yang berkomitmen, bertanggungjawab, amanah, dan jujur sudah semakin langka dan susah dicari, tenggelam dalam banyaknya sosok pengkhianat, perilaku bejat, tega melakukan perbuatan terlaknat, terlibat dalam persekongkolan jahat, dan menggemari maksiat, tapi semua keburukan mereka dibungkus dengan perilaku yang seolah-olah baik, seolah-olah penyayang, sepertinya derrmawan dan pemurah, serta kelihatannya seperti ringan tangan dan penolong. Mereka dibalut pula oleh tampilan yang mempesona serta tindakan yang terkesan sopan dan ucapan yang santun dalam bertutur kata. Hal di ataslah sesungguhnya penyebab mala petaka, sehingga masyarakatnya dihadapkan kepada para pelaksana negara yang tidak kompeten di bidangnya, justru bertentangan dari yang seharusnya. Kasus korupsi ditangani oleh penggemar tindak korupsi, berharap penyelesaian masalah oleh orang-orang yang punya masalah bahkan merekalah sesungguhnya sumber masalah, penjahat ditugasi membina orang-orang jahat dan menangani kasus-kasus kejahatan, pencuri disuruh mengurangi pencurian dan menangkap para pencuri, penjilat justru jadi pejabat, pemimpin justru orang yang karakternya tak layak jadi pemimpin, yang palsu dipuja yang asli justru dihina, yang betul-betul hebat hidup melarat, yang pura-pura hebat mendapat tempat terhormat, ulama sejati dengan ilmu mumpuni dicaci dan tidak dihargai tapi orang yang pura-pura jadi ulama yang pandai main drama justru menjadi ternama, dinanti-nanti ceramahnya yang sesungguhnya lebih banyak retorika dan propaganda. Di negeri ini, orang yang sekedar pandai bicara yang kadang cacat logika dan tidak berdasarkan fakta lebih dipercaya daripada para intelektual yang bicara dengan bukti dan data, memiliki segudang ilmu dan jelas reputasinya. Aneh memang negeri ini, pejabat yang diangkat justru banyak yang kelakuannya tidak terpuji, banyak yang masih hijau dan tak punya bekal berarti, hanya berbekal bahagian dari dinasti, bermodalkan materi untuk membayar suara dan bersekongkol dengan panitia, baik yang berjudul komisi maupun panitia seleksi. Ada lagi yang kebagian kursi karena menjadi pendukung, pemuja, dan pembela membabi buta terhadap junjungannya, maka ketika junjungan berhasil duduk di singgasana, mereka mendapatkan cipratan kekuasaan menjadi urusan khusus, staf ahli, bahkan menjadi menteri. Memang negeri ini susah dimengerti, perbedaan pendapat tidak diakomodasi, mereka yang mengkritik dituduh sebagai barisan sakit hati, mereka yang berpendapat beda sering dihujat, orang yang pernyataannya tidak disukai, banyak yang dikriminalisasi. Penjara dan rumah tahanan menjadi ancaman untuk membungkam mereka yang dianggap sebagai opisisi, rekayasa menjadi cara untuk mengkriminalisasi, melalui kasus yang dibuat-buat, pasal-pasal yang dipaksakan untuk menjerat, saksi disiapkan secara cermat, sehingga target bisa disasar dengan akurat. Ada lagi yang disindir dan dihujat dengan ungkapan dan kata-kata menyengat, menyuruh minggat dari negerinya, menuding kampungan, mengancam membuldoser, menyebut kalau mau bersih-bersih tunggu nanti di sorga, kalau mau sempurna pergi saja ke sorga, serta berbagai ungkapan lainnya yang menyudutkan dan memojokkan orang-orang yang tidak seirama dengan mereka. Negeri itu kelihatannya sudah seperti berada di jaman jahiliyah, perlu sosok yang bisa membawa negeri ini untuk berhijrah, berpindah dari suasana gelap menjadi cerah, sehingga yang datang bukan lagi musibah tetapi adalah berkah. Memang bukan saatnya lagi negeri itu untuk mencari pemimpin yang bisa membawa hijrah, karena pestanya sudah usai dan para pemimpin terpilihlah sudah, bukan saatnya lagi bagi mereka untuk mencari dan menuding siapa yang salah, kini adalah saatnya bagi negeri itu untuk berbenah. Kita mungkin hanya berharap dan meminta para pemimpin mereka yang barusan terpilih pada tingkatan mana sajapun untuk mengajak berubah yang tentu dimulai dari diri mereka untuk bertekad hijrah agar keadaan negeri itu tidak semakin parah. Para pemimpinnya diharapkan terus istiqamah dalam memegang amanah, sehingga negeri itu kembali bertuah, sehingga terwujud masyarakat negeri yang gemar ripah dalam berkah Allah.