Kamis, 15 Juli 2021

Tips Pengawetan Kayu

Jika sekali waktu Anda berkunjung ke kawasan Jawa Tengah bagian selatan, terutama daerah Purworejo hingga Kebumen, akan Anda jumpai rumah-rumah tradisional khas Kedu selatan yang usianya di atas 50 tahun-an.


Padahal kayu yang digunakan umumnya bukanlah jenis kayu unggulan seperti jati, bengkirai, glugu, maupun nangka, melainkan kayu sengon, waru, bahkan ada juga kayu sukun.

“Sebelum digunakan untuk bangunan, kayu-kayu tersebut direndam di kolam terlebih dahulu selama hampir dua bulan. Cara seperti itu sudah biasa dilakukan hingga kini,” jelas Suatmaji (51 th) warga Karangyoso, Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

Tujuan pengawetan itu sendiri agar kayu tak mudah rusak, terutama oleh serangan hama kayu seperti bubuk, teter, rayap, bubuk (jamur), dan lain-lain. Pengawetan dilakukan dengan teknis maupun bahan yang ada di alam sekitar.

Cara Mengawetkan Kayu

Pengawetan kayu bertujuan untuk menambah umur pakai agar lebih lama, terutama jenis yang digunakan untuk konstruksi bangunan serta perabot rumah tangga.

Berikut ini adalah teknik pengawetan kayu yang sering dilakukan oleh masyarakat, yaitu:

1. Merendam Kayu di Sungai

Merendam kayu balok maupun kayu gelondongan di sungai merupakan cara mudah mengawetkan dan meningkatkan kualitas kayu. Tujuan dari perendaman ini adalah agar kayu menyerap air sehingga memicu keluarnya zat ekstraktif yang larut air, seperti nitrogen, glukosida, tanan dan zat warna kayu. Sedangkan zat ekstraktif yang tidak larut air seperti pati tetap ada di dalam pori-pori kayu.

Zat ekstraktif yang larut tersebut mempengaruhi kondisi air di sekitar kayu. Mikroba seperti Bacillus subtilis, Bacillus masentriricus, Lactobacillus sp., dan Staphylococcus sp. akan berkembang dan mengurai zat ekstraktif kayu yang tidak terlarut sehingga lambat laun akan ikut terlarut. Proses ini dikenal dengan nama fermentasi berantai.

Proses fermentasi berantai ini menghasilkan asam organik, gas dan alkohol serta menurunkan kadar air di dalam kayu. Selain itu, kandungan pati kayu yang menjadi sumber makanan perusak seperti rayap juga akan menurun karena larut ke dalam air. Hasilnya adalah ketahanan kayu meningkat karena berkurangnya minat serangga perusak untuk memakan kayu.

2. Merendam Kayu di Kolam

Perendaman kayu di dalam kolam dengan tambahan bahan-bahan alami juga dapat mengawetkan kayu. Pelepah pisang, daun tembakau, merang padi, serta bunga cengkeh adalah bahan alami yang biasanya digunakan. Proses perendaman umumnya memakan waktu 2 hingga 3 bulan untuk mencapai hasil maksimal.

Sebelum kayu direndam, kayu harus dicuci selama 7 hari berturut-turut. Air yang digunakan untuk mencuci merupakan campuran 1 liter air dengan 10 gram tembakau, 10 gram cengkih, dan 10 gram pelepah pisang. Air campurtan tersebut digosok ke seluruh permukaan kayu kemudian keringkan menggunakan kain lap.

Setelah pencucian selama 7 hari, kayu kemudian direndam ke dalam kolam dan ditambahkan bahan-bahan alami. Setelah proses perendaman selama 2 hingga 3 bulan selesai, kayu harus dikeringkan terlebih dahulu menjemurnya dibawah tempat teduh.

3. Campuran Oli & Solar atau Oli & Minyak Tanah

Oli bekas juga dapat digunakan untuk mengawetkan kayu dan memperpanjang usia pakainya. Caranya adalah dengan membuat cairan dari campuran oli dan solar dengan perbandingan 1:1.

Oleskan cairan tersebut pada permukaan kayu secara merata menggunakan kuas. Selanjutnya biarkan selama beberapa hari agar cairan meresap dan mengering secara alami.

Agar mendapat hasil maksimal, sebelum kayu digunakan untuk konstruksi bangunan maka dapat diolesi kembali dengan cairan oli dan solar dengan perbandingan 1:2. Jika kayu akan diserut, maka pengolesan dilakukan setelah kayu diserut.

Bahan-pengawet sederhana yang kerap digunakan masyarakat pedesaan misalnya oli bekas, minyak tanah yang diramu urea dan juga campuran ampas kelapa dengan cuka.

4. Teknik Pengasapan Kayu

Metode pengasapan belum terlalu banyak dilakukan oleh masayarakat untuk mengawetkan kayu. Mengasapi kayu dilakukan selama 3 hari agar kualitas kayu meningkat. Jenis kayu yang biasanya diasapi adalah kayu sengon dan pulai menggunakan bahan bakar kayu mangiun.

Pengasapan sederhana sering dilakukan warga pedesaan dengan cara menempatkan batangan kayu, yang akan digunakan untuk bahan bangunan atau mebel, di atas tungku masak di dapur yang bahan bakarnya menggunakan kayu bakar.

Kayu yang terkena asap secara langsung dan rutin selama jangka waktu tertentu dipastikan tahan rayap, bubuk, jamur atau lapuk, maupun serangga kayu lainnya.

Bukti keampuhan pengawetan ini bisa dilihat pada kayu, baik kasau, reng, maupun tulangan yang ada di bagian dapur yang terletak persis diatas tungku.

Karena sering terkena asap saat memasak, maka bagian tersebut akan lebih awet dibanding lainnya. Teknik pengasapan cocok untuk semua jenis kayu.

Namun melakukan pengawetan kayu dengan cara pengasapan juga membutuhkan ruangan yang relatif luas. Ruangan ini untuk penataan agar seluruh permukaan kayu dapat menangkap asap saat proses pengasapan.

5. Mengecat Kayu

Melapisi kayu dengan cat merupakan cara paling mudah untuk membuat kayu menjadi awet. Cat yang digunakan dapat berupa cat kayu, cat minyak dan pelitur. Namun hasil keawetan menggunakan cara pengecatan kayu tidak seawet teknik-teknik lainnya.

6. Pengawetan Kayu Dengan Vakum

Biasanya cara pengawetan kayu dengan sistem vakum dilakukan oleh perusahaan kayu skala besar. Kelebihan metode ini adalah penetrasi dan retensi bahan pengawet yang sangat tinggi, proses kerja yang cepat dan dapat diaplikasikan pada kayu basah maupun kering. Akan tetapi cara ini juga memiliki kelemahan, yakni diperlukan biaya mahal serta tingkat ketelitian kerja yang tinggi.


*33 TAHUN BELAJAR DAPAT 8 HAL*

Assalamu'alaikum wr wb

*Belajar Selama 33 Tahun*

Suatu hari, Imam Syaqiq Al Balkhi bertanya kepada muridnya yang bernama 
Hatim Al Asham :

_"Sudah berapa lama engkau menuntut ilmu dariku?"_

_"Sudah 33 tahun"_, jawab Hatim.

_"Apa yang telah kau pelajari, selama 33 th ini?",_ tanya Imam Syaqiq.

_"Hanya 8 hal"_, jawab Hatim.

_" Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun..!_
_Kuhabiskan umurku untuk mendidikmu, namun kau hanya mempelajari 8 hal dariku?",_ Ucap Imam Syaqiq heran.

_"Benar Yaa Syeikh, aku hanya mempelajari 8 hal saja,_
_aku tidak mau berbohong kepada antum"_, jawab Hatim.

_"Coba sebutkan 8 hal yang telah kau pelajari itu !"_ pinta Imam Syaqiq.

Hatim Al Asham pun berkata :

*Pertama :*

_"Kulihat setiap manusia memiliki seorang kekasih._
_Ketika dia mati, kekasihnya ikut mengantarkannya hingga ke kuburan, lalu meninggalkannya sendirian di sana._

_Maka, aku lebih memilih amal kebajikan sebagai kekasihku._
_Sehingga ketika nanti aku masuk liang kubur, amalku akan ikut bersamaku"._

*Kedua :*

_"Aku merenungkan firman Allah SWT :_
_*"Dan Adapun orang-orang  yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surga lah yang akan menjadi tempat tinggalnya".*_
(QS. An Naazi'aat,79:40-41).

_Aku sadar, bahwa Firman Allah pastilah benar._
_Maka aku pun berjuang untuk melawan keinginan nafsuku, hingga nafsuku tunduk kepada Allah SWT "._

*Ketiga :*

_"Aku perhatikan manusia selalu memuliakan dan menyimpan harta benda berharga yang mereka miliki,_ 
_lalu kupelajari Firman Allah swt :_
_*"Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah akan kekal".*_
(QS. An Nahl,16:96).

_Maka setiap kali aku memperoleh sesuatu yg berharga,_
_aku pun menyedekahkannya dijalan Allah swt, agar hartaku selalu tetap terjaga di sisi-Nya"._

*Keempat :*

_"Aku melihat setiap manusia mengejar harta, kedudukan, jabatan, kehormatan dan kemuliaan nasab._
_Namun setelah aku mempelajarinya, ternyata semua itu tidak ada apa-apanya, saat Aku membaca firman Allah swt :_
_*"Sesungguhnya, orang yg paling mulia disisi Allah, adalah orang yg paling bertaqwa (kepada Allah) di antara kalian".*_
(QS. Al Hujuraat,49:13).

_Karena itulah, aku pun beramal utk mewujudkan Taqwa, agar aku memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT."_

*Kelima :*

_"Aku melihat manusia saling mencela dan melaknat, dan sumber semua itu adalah hasad (kedengkian)._
_Lalu aku mempelajari firman  Allah SWT :_
_*"Kami telah membagikan untuk penghidupan mereka di alam dunia".*_
(QS. Az Zukhruf,43:32).

_Akupun sadar, bahwa semuanya telah dibagi oleh Allah swt._
_Maka aku tinggalkan sifat Hasad (dengki), kujauhi manusia yang suka mencela, dan aku tidak bermusuhan dengan seorang pun"._

*Keenam :*

_"Kulihat manusia saling menganiaya dan saling membunuh, padahal Allah SWT berfirman :_
_*"Sesungguhnya syeitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu)".*_
(QS. Al Fathir,35:6).
)
_Oleh sebab itu, kutinggalkan permusuhan dengan manusia dan kujadikan Syeitan sebagai satu-satunya musuhku._
_Aku selalu mewaspadainya dengan sekuat tenaga, sebab Allah swt sendiri yg telah menjadikan Syeitan sebagai musuhku"._

*Ketujuh :*

_"Aku melihat setiap orang hanya demi sepotong roti (harta), mereka rela menghinakan diri mereka sendiri dengan melakukan hal2 yang diharamkan oleh Allah swt._
_Lalu kuperhatikan firman Allah SWT :_
_*"Dan tiada satupun binatang melata dibumi, melainkan Allah telah menanggung rezekinya".*_
(QS. Hud,11:6).

_Aku sadar, bahwa diriku adalah salah satu dari yang melata itu, dan Allah swt telah menjamin Rezeki ku._
_Oleh karena itu, kusibukkan diriku untuk menunaikan kewajiban yang telah diberikan oleh Allah swt dan aku tidak pernah merisaukan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah swt untukku"._

*Kedelapan :*

_"Aku melihat semua orang bergantung kepada makhluk Allah swt._
_Ada yang bergantung kepada ladangnya,_
_Ada yang bergantung kepada perniagaannya,_
_Ada yang bergantung kepada pekerjaannya, dan_
_Ada yang bergantung kepada kesehatan jasmaninya._
_Akupun kembali kepada Firman Allah :_
_*"Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya".*_
(QS. Ath-Thalaaq,65:3).

_Oleh karena itulah, aku pun bertawakkal (bergantung) kepada Allah swt yang Maha Perkasa dan Maha Agung, dan Allah swt pun mencukupi semua kebutuhanku"._

Mendengar jawaban dari Hatim Al Asham, 
Imam Syaqiq Al Balkhi berkata : 
_"Wahai Hatim, semoga Allah memberimu Taufiq._
_Aku telah mempelajari Zabur, Taurat, Injil dan Al Qur'an._
_Dan kutemukan bahwa semua jenis kebaikan dan ajaran Agama, berkisar pada 8 hal yang tadi telah kau sampaikan._
_Barang siapa mengamalkan 8 hal tersebut, maka berarti, dia telah mengamalkan isi dari empat kitab suci"._

**
Berapa lama kita menuntut ilmu? 

Apa yang kita dapatkan? 

Adakah pelajaran penting yang meresap kedalam hati kita dan selalu kita amalkan?

Atau semua itu hanya sekedar penghibur telinga dan fikiran kita saja?

Semoga Allah SWT, memberi kita Taufiq dan Hidayah,
sehingga kita dapat mengamalkan ilmu yang sudah kita dengar, kita lihat dan kita baca...

Aamiin yaa mujiibus-saailiin...

Wassalamu'alaikum wr wb

Air Kolam untuk Ikan Koi

 Ikan koi harus ditempatkan di kolam yang besar. Untuk kebutuhan airnya, setiap satu inci ikan berbanding dengan 10 galon air.

Khusus untuk ikan koi pH sekitar 7 merupakan pH yang ideal. Jika pH lebih tinggi dari 7 maka bahaya racun amonia akan semakin rentan terhadap koi.
Besarnya kolam koi sebaiknya disesuaikan dengan kepadatan atau jumlah ikannya. Selain itu, pembuatan saluran pembuangan kolam koi juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Normalnya, pembersihan kolam koi dilakukan dua kali dalam satu tahun.
Kolam koi sebaiknya mendapatkan sinar matahari yang cukup. Tidak terlalu panas, tapi tidak juga terlalu lembab dan tidak terkena cahaya matahari.
Terdapat 2 jenis filter yang bisa kamu pilih untuk diterapkan pada kolam koi, yaitu filter mekanik dan filter biologis. Filter mekanik bekerja dengan cara mengalirkan air ke wadah yang di dalamnya terdapat media penyaring seperti  serbut, kerikil, pasir, saringan sievejap-matt, busa atau foam, kapas, atau bahan sikat.
Filter biologis bekerja melalui makhluk hidup lain yang menguraikan kotoran dalam kolam koi. Makhluk hidup yang dapat digunakan sebagai media filter ini berupa tanaman eceng gondok atau tanaman filter lain, seperti melati air, tifa, payung-payungan, dan tumbuhan air daun kupu-kupu.
Adapun kedalaman kolam koi yang ideal adalah 1 meter untuk koi berukuran kurang dari 30 cm, sedangkan untuk koi berukuran antara 30-40 cm kedalaman kolam idealnya  1 meter sampai 1,5 meter dan untuk koi berukuran lebih dari 40 cm kedalaman kolam sebaiknya lebih dari 1,5 meter.
Adapun populasi yang ideal bisa dhitung dengan seekor ikan koi bisa menempati 3 kali ukuran tubuhnya.

Berbeda dengan dinding, pengacian pada kolam ditambahkan dengan zat merguson sebagai pengeras. Kemudian berikan efoxy untuk menghilangkan kadar zat alkali yang terkandung dalam semen. Terakhir, tambahkan coating sebagai pelapis agar kolam tidak mudah retak.

Biarkan selama 1 minggu pertama dan kuras setiap hari dengan tambahan obat pembunuh jamur dan kutu. Pada minggu kedua sampai ketiga, kolam perlu diberikan probiotik. Barulah pada minggu keempat sampai satu bulan, kolam tersebut bisa dicoba kelayakannya.

Selasa, 06 Juli 2021

AUTOPHAGI

Konsep autophagi adalah membuat tubuh lapar.

Ketika tubuh seseorang lapar, maka sel-sel tubuhnya pun ikut lapar.
Sel-sel yang lapar ini akan memakan sel-sel dirinya yang sudah tidak beguna lagi atau sel-sel yang telah rusak atau sel mati, agar tidak menjadi sampah dalam tubuh.
Dengan demikian sel-sel mati ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang bisa membahayakan tubuh...
Jadi, tubuh orang yang berpuasa akan membersihkan dirinya sendiri!!!..

Ilmuwan bernama Yoshinori Ohsumi ini telah membuktikan dan menemukan bahwa ketika seseorang lapar (PUASA) dalam jangka waktu tidak kurang dari 8 jam dan tidak lebih dari 16 jam, maka tubuh akan membentuk protein khusus di seluruh tubuh yang disebut *autophagisom*...

*Autophagisom* tersebut bisa dianalogkan sebagai suatu sapu raksasa yang mengumpulkan sel-sel mati yang tidak berguna dan bisa  membahayakan tubuh untuk dikeluarkan...

Sel-sel mati ini banyak dihasilkan oleh sel kanker dan sel berbentuk kuman (virus atau bakteri) penyebab penyakit...

Protein *autophagisom* tersebut menghancurkan dan memakan sel-sel berbahaya tersebut, lalu mengeluarkannya...

*Sebagai kesimpulan dari riset ini, dokter Yoshinori Ohsumi menyarankan agar seseorang bisa menjalani praktek melaparkan diri (PUASA) dua atau tiga kali dalam seminggu.*

Penelitian ini telah memenangkan penghargaan *NOBEL KEDOKTERAN* kepada dokter Yoshinori Ohsumi atas riset yang ia namakan *AUTOPHAGI.*

Alhamdulillah bagi Muslim, disunnahkan puasa Senin dan Kamis, dan diwajibkan bagi yang beriman berpuasa selama 1 bulan di Bulan Ramadhan...

Artinya bahwa konsep AUTOPHAGI sesungguhnya sudah disarankan sejak 15 abad yang lalu oleh Rasulullah SAW....
Tinggal kita mempraktekkannya dengan tata cara puasa yang benar...

*Wallahu a'lam bishawab*

Untuk artikel komplit silakan buka link berikut ini.  👇

https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2016/press-release/
-------------

*_Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1442 H.. Mhn maaf lahir & batin.. Semoga ibadah kita diterima Allah Subhanahu Wata'ala. Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin🤲🤲🙏_*...

Manfaat Air Pare

 Air pare yang panas dapat Membunuh Sel Kanker


Pare dapat membunuh sel kanker!
Potong 2-3 irisan tipis pare taruh dalam gelas,tuang air panas, air akan menjadi alkalin(basa),minum setiap hari,terhadap siapapun akan bermanfaat.

Air panas pare tsb akan mengeluarkan suatu zat anti kanker, ini adalah sebuah perkembangan baru didalam dunia kedokteran yg bermanfaat dalam mengobati kanker.

Air panas ekstrak pare akan berpengaruh terhadap kista dan tumor.sudah di buktikan dapat menolong pelbagai macam kanker.

Menggunakan pare dalam mengobati kanker, hanya akan mematikan sel sel jahat tumor, dia tidak akan mempengaruhi sel sel yg sehat.

Selain itu asam amino dan polyphenol oxidase drpd pare, dapat menyeimbangkan tekanan darah tinggi, melancarkan peredaran darah, mengurangi penggumpalan darah dan dapat mencegah terjadinya penggumpalan vena dalam (deep vein thrombosis).

*BOLU PISANG DAN ES KRIM*

"Ma, kakak ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim," rengek Dika putra sulungku. Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.


"Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu," janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suami sakit dulu.

Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.

Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak sekecewa ini.

Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.

Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.

Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.

Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.

Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.

(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.

Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.

(Bisa Mbak, mau berapa loyang?)

(2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?)

(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.

(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula.)

(Siap, Mbak. Otw dibuat.)

(Berapa harganya?)

(50.000 Mbak.)

(40.000 saja ya, kan gak pakai gula.)

Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.

(Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)

(Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)

(Oke siap.)

Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.

Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.

Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.

Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.

Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 20.000.

Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.

Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.

Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.

Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.

Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.

(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)

Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.

Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.

Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?

Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.

Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.

"Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis." Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.

"Kita pulang, Nak," ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.

Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.

Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.

Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.

Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.

"Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang."

"Ada apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.

"Gini, ibu jangan tersinggung ya." Bu Tia menatapku.

Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.

"Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. "

Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.

"Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya." Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.

Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.

"Asikkk." Dika bersorak, aku masih bergeming.

"Lo, yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.

"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. "

"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan."

"Benar Bu?" Aku bertanya tak percaya.

"Iya, berapa harganya?"

"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang."

"Ya sudah." Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.

"Ya Allah Bu ini kebanyakan ," ucapku.

"Sudah, gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.

Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.

***

Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.

Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.

Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.

Untung saja Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung.

"Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra sulungnya.

"Bagus dong, les dimana dia?"

"Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."

"Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.

"Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.

Bu Tia terdiam.

Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.

"Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.

"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah."

"Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar."

"Lagi pengen aja."

Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya.

Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.

***

Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka.

Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.

Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.

Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kinderj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.

Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.

Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?

Pengingat diri agar lebih peka. Ingat ini salah satu kerja maqami kesholehan sosial agar peduli tetangga kita

Saat Usia Senja

 Perlakukan *USIA SENJA* Dengan *BAIK*

Musim *BERGANTI*, tidak terasa kita _memasuki_ *USIA SENJA*
Sejak *TANGISAN* _pertama_ waktu *LAHIR* ke dunia hingga *rambut* berubah *PUTIH*, _beban perjalanan_ hidup kita *DIPENUHI* aneka *pengalaman* _suka duka_,  _pahit manis, naik turun_. Selanjutnya, bagaimana kita bisa *BERBAHAGIA* di _usia senja_ bergantung pada *KONDISI* _fisik_ & _mental_ kita

*Kebanggaan* & *kekecewaan* hidup sudah ada di *belakang* kita. Dan sekarang kita *MELANJUTKAN* hidup _keseharian_ dengan segala *rutinitasnya...*

Jika kita pernah *MEMIMPIKAN* _kemewahan_ hidup dunia, kini kita *menyadari* bahwa kehidupan *TERINDAH* & paling *berbahagia* adalah *MEMILIKI* _pikiran_ yang *TENANG* & _hati_ yang *tentram*

Tidak perlu *BINGUNG* menunggu *kunjungan* _anak cucu_. Mereka *MEMILIKI* _kehidupan_ *pribadi* yang harus *DIURUS*. Mereka seperti *gangsing* yang tidak _berhenti_ *BERPUTAR* Terjepit antara *orang tua* & *anak2*. Yang tua seperti *matahari senja*, yang muda bak *matahari pagi*. Dan tentu saja yang *MUDA* lebih mendapatkan banyak *perhatian*. Itu sudah *hukum alam* Itulah *siklus perjuangan* hidup

Dalam hidup entah sebagai *suami* & *istri*, atau *orangtua* & *anak*. Entah *harmonis* & *intim* atau tidak. Masing2 *UNIK* & *memiliki* hidupnya sendiri. Karena itu kita harus *BELAJAR* _mengatasi_ *kesepian* dengan _menemukan_ cara *menghibur* & *menyemangati* diri sendiri ketika merasa sendirian

Dalam mencapai *usia senja*, kita memiliki *harga diri* & *kemurahan* seperti *siklus 4 musim*. Masing2 memiliki *keindahan* & *kebaikannya* sendiri.

*USIA SENJA* adalah *awal fase* hidup yang *baik*. _Tenang, damai_, *tidak terburu-buru* & *sukacita*. Kita harus _mempertahankan_ *damai sejahtera*, tidak terlalu *menuntut*, lebih _legowo_ & _pemaaf_.

*JUJUR* & *TULUS* membuat _persahabatan_ *LANGGENG*. Jangan _mengharapkan_ *BALAS BUDI* atas apa yang *diberikan* pada orang lain. *Membahagiakan* orang adalah *PRESTASI* hidup yang *besar* bukan ?

WASSALAM...