_*Tuanku Raja Sulaiman, Cucu Sultan Aceh Terakhir"_
Inilah salah seorang cucu Sultan Muhammad Daud Syah. Nama beliau Tuanku Raja Sulaiman. Jika Anda mencari posisi foto ini. Pergilah ke Lamlo (Kota Bakti, Pidie), berbeloklah ke arah Jabal Ghafur. Sekitar 10 meter melewati Polsek Kecamatan Sakti (nama resmi Lamlo yang diganti masa Gubernur Aceh Ali Hasymy). Bersebelahan dengan satu sekolah dasar, ada kios kecil. Di depan kios kecil itulah rumahnya.
Orang-orang Lamlo mengenal tempat tersebut sebagai Lampoh Ranup. Di sanalah Tuanku Raja Sulaiman, dibantu istri dan anaknya mengelola kios tersebut.
"Piyoh Pak Guru," begitu biasa beliau menyapa saya bila melintas.
Menurut cerita, setelah Sultan Muhammad Daud Syah mangkat di Batavia, anaknya Tuanku Raja Ibrahim dipulangkan ke Aceh. Tepatnya di Lampoh Ranup tersebut.
"Kabarnya istrinya tidak hanya satu. Salah satunya anak Ampon Daud Cumbok," ujar Dosen Sejarah FKIP Unsyiah Teuku Abdullah atau biasa disingkat TA. Sakti.
Seperti diketahui, Teuku Daud Cumbok, Uleebalang Lamlo adalah pemimpin perang pihak Uleebalang melawan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang dipimpin Daud Beureu-eh.
"Tapi ibu Tuanku Raja Sulaiman bukan anak Ampon Cumbok. Mak beliau orang kampung biasa di (gampong) Riweuk," jelas TA. Sakti. Riweuk kampung pedalaman di Kecamatan Sakti. Tokoh GAM dari Riweuk adalah Adnan Beuransyah, dosen IAIN Ar-Raniry, bergabung dengan GAM, dan pernah menjadi anggota DPRA.
"Makanya yang terima Penghargaan Pahlawan Nasional Laksamana Kemalahayati tempo hari bukan beliau. Tapi saudara dari lain ibu yang kini tinggal bersama anaknya di Lombok," ungkap dosen Unsyiah itu.
TA. Sakti bercerita bahwa dulu ia sempat melihat sendiri Tuanku Raja Ibrahim. Anak sultan tersebut sangat hobi menembak. Hampir saban hari ia masuk dan keluar satu kampung ke kampung berikutnya untuk berburu burung atau tupai. Sementara di rumahnya di Lampoh Ranup, dua anjing besar dan galak, menurut pengakuan TA. Sakti, bikin anak-anak kampung -- termasuk TA. Sakti -- berpikir dua kali jika harus ke Kedai Lamlo.
"Apa karena punya menantu anak sultan maka Ampon Cumbok ingin bergabung dengan Belanda lagi setelah Soekarno dan Hatta membacakan pernyataan kemerdekaan?" tanya saya.
TA. Sakti beranggapan bahwa Uleebalang Lamlo tersebut memang dikenal pandai dan kuat. Bukan karena faktor punya menantu anak sultan. Dan, kekalahan Ampon Cumbok lawan PUSA hanya satu sebab. Meriam peninggalan Jepang bisa dipergunakan PUSA di Gle Gapui karena ada seorang Jepang yang tidak pulang ke negerinya yang membantu PUSA menembakkan meriam ke pusat kekuasaan Ampon Cumbok di Lamlo.
"Saya dengar dari orangtua, kediaman atau pusat Uleebalang Lamlo di Kompi di Kecamatan Sakti yang sekarang," sebut T. Abdullah.
Jika Anda ke Lamlo, Anda masih dapat menemukan keseharian Tuanku Raja Sulaiman yang seharinya berjualan kecil-kecilan di depan rumah. Ia ramah. Sikapnya tidak seperti yang kita bayangkan. Entah karena tidak pernah tinggal di istana. Saya tidak tahu. Tanya saja sendiri kalau memang ingin tahu. Yang jelas, saya tidak tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar