Gitaris legendaris dari grup musik Queen, Brian May, ternyata adalah seorang doktor di bidang Astrophysics atau ilmu fisika dan kimia yang mempelajari obyek astronomi. Gelar lengkapnya adalah Brian May, CBE, PhD, FRAS. Cukup mengesankan. Apalagi bila ia membacakan judul disertasinya, “Survey of Radial Velocities in the Zodiacal Dust Cloud.” Entah apa isinya. Ia ilmuwan yang dianggap bersejarah atas karyanya meneliti obyek terjauh yang pernah dijangkau oleh mesin luar angkasa. Ia juga menulis buku bersama rekannya tentang sejarah alam semesta, dan duduk di antara para ilmuwan di NASA (lembaga antariksa USA) membicarakan planet Pluto.
Ternyata Brian May belajar untuk program Ph.D nya saat melakukan tur keliling dunia dengan Queen, termasuk dengan Freddie Mercury. Walaupun kuliahnya pernah terhenti, namun Brian May melanjutkannya kembali. Bila Freddie memilih untuk berpesta liar di sela-sela penampilannya, Brian May memilih untuk belajar. Capek? Banget! Lebih enak berpesta seks dan narkoba daripada belajar rumus yang ruwet. Apalagi tidak ada perlunya mendapatkan gelar demi sebuah pekerjaan, karena ia sudah punya warisan untuk tujuh turunan berikutnya.
Pilihan-pilihan mereka (Brian May dan Freddie Mercury) menentukan masa depan mereka. Yang satu menjadi ilmuwan, yang lain meninggal karena AIDS. Brian May tidak hanyut dalam kesuksesannya menjual 300 juta rekaman dan bermain di hadapan 250.000 fans. Ia masih mengejar sesuatu yang lebih besar, dan memacu diri untuk terus bertumbuh di bidang yang lain.
Ketika kesuksesan sudah di tangan, apa yang Anda lakukan? Berhenti di “comfort zone” atau terus bertumbuh? Dapatkah Anda meraih sukses tanpa menghancurkan diri sendiri? Apakah sukses sebagai tujuan akhir atau batu loncatan untuk sesuatu yang bernilai? (Esther Idayanti)
BERUSAHALAH BUKAN MENJADI SESEORANG YANG SUKSES, MELAINKAN SESEORANG YANG BERNILAI (Albert Einstein)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar