Selasa, 11 Oktober 2022
Meminta Maaf
*Assalamu alaikum.*
Saudaraku dan sahabatku sekalian. Agama mengajarkan kita untuk segera meminta maaf ketika kita menyadari kesalahan. Jika kepada Allah, kita beristighfar mohon ampun segera setelah menyadari adanya perbuatan dosa, kekeliruan, dan niat yang buruk yang sempat muncul dan kita lakukan, maka kepada sesama manusia, kita juga perlu bersegera mendatangi orang yang terlanjur tersakiti, terluka, atau kecewa untuk meminta maaf atas perbuatan, tindakan, sikap, ataupun perkataan kita.
Jadi, kata yang semestinya terucap setelah melakukan kesalahan adalah _"maaf"_, namun meminta maaf membutuhkan keberanian yang luar biasa. Walau hanya satu kata, tapi kadang sukar sekali mengucapkannya. Ada karena orang lebih mendahulukan gengsi, ada karena kesombongan yang berada di dalam diri, ada karena merasa diri memiliki jabatan yang jauh lebih tinggi, atau ada pula karena merasa lebih kaya, lebih pintar, atau lebih tua. Padahal hanya dengan satu kata _"maaf"_, kita mampu menghilangkan permusuhan maupun rasa dendam bahkan kita bisa mampu kembali menjalin hubungan yang telah retak, kita bisa mendapatkan seorang teman lagi, kita bisa meraih damai lagi, dan bisa mendapatkan ketenangan hidup kembali.
Akan tetapi sesungguhnya ada hal lain yang tidak kalah penting daripada _"meminta maaf"_, yaitu _"memaafkan"_. Dari berbagai literatur disebutkan bahwa sikap _"memaafkan"_ dan _"meminta maaf"_ dapat dijadikan sebagai terapi kejiwaan. Meskipun dua-duanya bukan pekerjaan mudah, tapi _"memaafkan"_ dianggap memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi daripada _"meminta maaf"_. Kalau _"minta maaf"_ butuh keberanian dan kelapangan hati untuk mengakui kesalahan, sementara _"memaafkan_" butuh lebih banyak kelapangan hati, kesabaran dan keikhlasan. Oleh karena itu, memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu akhlak mulia yang perlu ditanamkan pada diri umat muslim.
Rasulullah saw telah banyak mendorong umat muslim untuk bersikap pemaaf pada orang lain melalui contoh perbuatannya semasa hidup beliau.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah kemudian beliau menjawab, _“Rasulullah tidak pernah berbuat jahat, tidak berbuat keji, tidak mudah meludah dih tempat keramaian, dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan melainkan selalu memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain.”_ (HR. Imam Bukhari)
Selanjutnya, hadist Rasulullah lainnya sebagaimana diriwayatkan oleh Al Anshari berbunyi, _"Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya,"_
Hadist Rasulullah lainnya yang terkait dengan perintah menjadi _"pemaaf"_ adalah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Ad Dailami, yang berbunyi, _"Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada."_
Di dalam Al Qur'an juga banyak ayat yang memerintahkan kita untuk menjadi pemaaf yaitu antara lain seperti tercantum pada surah Ali Imran ayat 134 yang berbunyi, _"...........dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan"_. Begitu juga pada surah An Nisa ayat 149 yang bunyi, _"Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa."_ Ayat lain yang memperintahkan kita untuk memiliki sifat pemaaf ada pada surah Al A'raf ayat 199 yang berbunyi, _"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."_.
Memafkan memang bukan hal mudah, terlebih jika kesalahan yang dilakukan orang terhadap kita dianggap cukup berat dan besar.
Namun, justru pada saat itulah keimanan seseorang diuji. Apakah ia akan mengedepankan egonya atau mengalahkan amarahnya untuk memberikan maaf. Memaafkan juga harus bisa tulus dan ikhlas menghilangkan dendam yang membara dan mampu menghilangkan noda dan bekas luka di hati. Jika demikian, barulah maaf diterima dengan baik dan hubungan dengan orang tersebut bisa terjalin dengan baik kembali.
Jadi, tidak salah jika dikatakan bahwa _*memaafkan memang tak akan mengubah masa lalu, tapi pasti memaafkan akan mengubah masa depan*_, karena setiap momen memaafkan kesalahan orang lain akan menyembuhkan luka dihati yang dirasakan. Intinya, ketika kita mampu memaafkan orang lain, saat itulah momen bagi kita mendapatkan kebahagiaan.
*Wallahu a'lam bisshawab*
*Wassalam*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar