Selasa, 28 Januari 2020

Bukan Raja Idrus

Alkisah dua sejoli Raja IDRUS dan Ratu MARKONAH yg menipu presiden Soekarno dan khalayak Indonesia di awal tahun 1958.

Semua bermula di Palembang, 8 Agustus 1957. Idrus bin Trees, seorang pria 42 tahun menemui para pejabat sipil dan militer. Ia mengaku sebagai RAJA KUBU, suku di pedalaman Sumatra Selatan. Juga keturunan dinasti Sriwijaya. Klaimnya disokong 5 orang punggawa kerajaan yang ia bawa. Pertemuan dg para pejabat tsb berbuah surat keterangan. Masa itu memang banyak wilayah di Sumatra belum terjamah otoritas negara. Perkataan Raja Idrus dipercaya begitu saja.

Berbekal surat itulah sang Raja bisa bertemu Presiden Soekarno di Istana Negara, Jakarta, 10 Maret 1958. Soekarno saat itu tengah dipusingkan berdirinya Pemerintah Revolusioner RI di Sumatra, digawangi Sjafruddin Prawiranegara dkk. Tak heran Raja Idrus disambut hangat. Kehadirannya dianggap dukungan untuk pemerintah di Jakarta. Sambutan tsb membuat Idrus tak segan meminta Walikota Jakarta, Soediro [kakek Tora Soediro], jadi yang pertama menjamu Raja Idrus – yang juga mulai memintal cerita. Dikisahkan rakyatnya berbeda dg orang Jakarta. Mereka masih bercawat kulit kayu. Pun kurus² karena hanya mengkonsumsi daging segar, selalunya ular.

Dari Jakarta, Raja Idrus mengunjungi Bandung. Soediro sendiri yang menghubungi walikota Priatnakusumah. Juga menyediakan surat, bahwa menemui Idrus akan membawa manfaat untuk rakyat Kubu.

Usai Bandung, Semarang jadi tujuan. Di kota inilah tokoh Ratu Markonah masuk, Raja Idrus sampai di Semarang 20 Maret 1958. Pakaiannya sudah lebih parlente. Berjas, berpantalon, bersepatu. Di sinilah ia terpincut Markonah, perempuan dari kampung Slerong (?) yang ia jumpai saat ke bioskop. Ialah yang lantas mendampingi Raja Idrus, sebagai Ratu Markonah, Ciri khas Ratu Markonah adalah berkacamata hitam besar kemanapun pergi. Orang menyebutnya KACAMATA Markonah.

Ia memang tak seberapa siap dg posisi barunya. Namun Raja Idrus mengarang cerita matanya rusak terkena bisa ular kobra. Selain itu ia juga sesumbar miliki 15 orang istri. Rajutan cerita Raja Idrus bertambah banyak saat mendatangi Solo dan Jogja. Melihat Kraton, ia berkata juga punya istana : di dalam goa, penerangnya mata² tikus. Pun saat menengok pelbagai pusaka Kraton, ia mengaku pula menyimpan mumi 40 orang Belanda dan beberapa orang Jepang.

Bagaimanapun kebohongan Raja Idrus dan Ratu Markonah mulai terbongkar di Madiun. Saat tahu sang Raja gemar daging mentah dan darah hewan, selama di Madiun kedua menu tsb disediakan. Namun ternyata, petugas hotel lantas menemukan daging dan darah hanya dibuang ke tong sampah. Meski sudah tercium kejanggalan, dari Madiun Raja Idrus dan Ratu Markonah masih diantar ke Surabaya. Jamuan besar sudah disiapkan di sana.

Namun CPM juga bergerak menyelidiki mereka. Begitu info valid didapat, mobil yang membawa tamu besar tsb diarahkan ke kantor Polisi Militer. Di Surabaya mereka tamat. Ternyata Idrus bekas kepala desa, Markonah pelacur. Keduanya kawin siri. Maret 1959 mereka divonis hukum 8 dan 6 bulan bui oleh pengadilan Madiun.

Total kerugian aksi tipu² Raja Idrus dan Ratu Markonah tak pernah diketahui. Cuma pemerintah kota Madiun yang menyebut angka : 5.000 rupiah. Harga beras kelas satu saat itu 7,5 rupiah.

Foto : Bukan RAJA IDRUS 🤩

Tidak ada komentar: