Rabu, 29 Januari 2020

Filosofi Kopi

*FilosofiKOPI,,,* πŸ‘☕πŸ’ͺ

Dalam sebuah acara Reuni, beberapa alumni menjumpai *guru sekolah mereka  dulu.*

Mereka menceritakan kisah sukses masing-masing ...

Ada yang menjadi :
- Menteri
- Gubernur
- WaGub
- Walikota
- WaWalikota
- Bupati
- Wakil Bupati,
- Direktur BUMN,
- Direktur Bank,
- Pengusaha sukses,
- PNS,
- Guru,
- Dokter,
- Arsitek,
- Pengacara,
- Anggota dewan,
- Ketua LSM,
- Wartawan,
- Konsultan,
- Kepala Desa
dan lain-lainnya.

Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur kemudian mengambil seteko kopi panas dan beberapa *cangkir kopi yang berbeda-beda.*

‎Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.

_“Sudah, sudah ..._
_Ngobrolnya berhenti dulu._
_Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,”_
seru sang guru memecah *keasyikan obrolan* mereka.

Hampir serempak, mereka kemudian berebut *cangkir terbaik* yang bisa mereka dapat.
Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang *paling jelek.*

Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.

_“Mari, silakan diminum,”_
ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari *cangkir terakhir yang paling jelek.*

_“Bagaimana rasanya?_
_Nikmat kan?_
_Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”_

_“Wah, enak sekali Pak ... Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,”_
timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.

_“Nah, kopinya enak ya?_
_Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan._
_Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?”_
tanya sang guru.

Murid-murid itu pun saling berpandangan.

_"Perhatikanlah, bahwa kalian semua memilih *cangkir yang bagus* dan kini yang tersisa hanyalah *cangkir yang murah dan tidak menarik.*_

_Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi._

_Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu._

_Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkan-nya._

_Pikiran kalian terfokus pada *cangkir,* padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan *kopinya.‎*_

_Hidup kita, baik kehidupan dunia maupun kehidupan ibadah, seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah sarana, pekerjaan, jabatan, atau harta benda yang kita miliki."_

Semua alumni tertegun mendengar penjelasan dari sang guru.

Penjelasan dari sang guru telah menyentak kesadaran mereka.

_"Anak-anakku tercinta ..."_
lanjut sang guru.

_"Jangan pernah membiarkan *cangkir* mempengaruhi *kopi* yang kita nikmati._

_*Cangkir* bukanlah yang utama, *kualitas kopi itulah yang terpenting.*_

_Jangan berpikir bahwa :_
*- kekayaan yang melimpah,*
*- sarana yang mewah,*
*- karier yang bagus dan*
*- pekerjaan yang mapan*
merupakan jaminan kebahagian hidup dan kenikmatan dalam beribadah.

_*Itu konsep yang sangat keliru.*_

_Kualitas hidup dan ibadah kita ditentukan oleh :_
*"Apa yang ada di dalam"*
bukan
*"Apa yang kelihatan dari luar"*

_Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, popularitas, adalah sebuah predikat yang disandang._
_Tak salah jika kita mengejarnya._
_Tak salah pula bila kita ingin memilikinya._

_*Namun, semua itu hanya sarana.*_

_Sarana hanya bermanfaat apabila bisa mengantarkan kita pada tujuan._

_Apa gunanya  memiliki segala sarana, namun tidak pernah merasakan :_
_- kedamaian,_
_- ketenteraman,_
_- ketenangan,_
*dan*
_- kebahagian sejati di dalam kehidupan kita, yaitu forever love❤ ?_

_*Itu sangat menyedihkan.*_

_Karena hal itu sama seperti kita menikmati *kopi* kualitas buruk yang disajikan di sebuah *cangkir* kristal yang mewah dan mahal ..."_

_Kunci menikmati *kopi* bukanlah seberapa bagus *cangkir*-nya, tetapi seberapa bagus kualitas *kopi*-nya ..."_

Have a nice Thursday

Semoga Bermanfaat sbg renungan,,πŸ™

Tidak ada komentar: