Selasa, 18 April 2023
AL QUR’AN, RAMADHAN, AKAL, DAN ILMU
Oleh: Zulkarnain Lubis
(Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Rektor Institut Bisnis IT&B)
_*Naskah dikirim ke Redaksi Waspada untuk dimuat di rubrik opini dalam menyambut Lailatur Qadar Ramadhan 1444 H*_
Kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan yang sering diperingati sebagai Nuzulul Qur’an. Nuzulul Qur’an ini oleh beberapa ulama dan pakar astronomi diyakini terjadi pada malam tanggal 17 Ramadhan yang dinyatakan sebagai peristiwa Al Qur’an diturunkan pertama kali ke muka bumi sebagai petunjuk bagi manusia, penyempurna kitab-kitab suci yang sudah ada sebelumnya, dan sumber pokok seluruh ajaran Islam baik yang menyangkut aqidah, syariah, maupun akhlak. Peristiwa pertama kali turunnya Al Qur’an tersebut terjadi di Gua Hira, melalui malaikat Jibril, dan diterima langsung oleh Nabi Muhammad. Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut adalah Surat Al ‘Alaq ayat 1-5 dan dengan turunnya ayat ini menjadi tanda awal kenabian Muhammad serta menjadi awal dari perjuangan menyebarkan agama Islam di jazirah Arab dan ke segala penjuru dunia. Di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur’an tersebut dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti mengadakan ceramah agama, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al Qur’an, dan sebagainya. Sejak peristiwa tersebut, Malaikat Jibril kemudian menurunkan Al Qur’an tersebut kepada Rasulullah secara bertahap dan berangsur, ayat demi ayat, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari dan ayat terakhir yang turun adalah surat Al Maidah ayat 5 yang turun sesudah waktu Ashar pada hari Jumat di Padang Arafah saat musim haji terakhir. Dengan turunnya ayat terakhir tersebut, lengkap sudah Rasulullah menerima al Qur’an dan ayat sekitar 83 hari kemudian beliau dipanggil Allah untuk selama-lamanya.
Selain peristiwa Nuzulul Qur’an, peristiwa lain terkait dengan turunnya Al Qur’an yang senantiasa diperingati dan dinanti oleh semua umat Islam adalah Lailatur Qadar. Istilah Lailatul Qadar berasal dari dua kata bahasa arab yakni “lailatun” yang artinya “malam” dan “qadrun” yang artinya “kemuliaan”. Lailatul Qadar adalah malam yang agung sehingga tidak terjangkau oleh nalar manusia dan malam Lailatul Qadar hanya Allah swt yang mengetahuinya. Firman Allah dalam Al Qur’an surah Al-Qadr Ayat 1-5 menjelaskan tentang kemuliaan Lailatur Qadar tersebut yang disebutkan sebagai malam diturunkannya Al Qur’an pada malam kemuliaan yang lebih lebih baik dari seribu bulan, turun malaikat-malaikat, dan merupakan malam yang penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Pendapat yang paling populer adalah Lailatul Qadar terjadi di salah satu malam pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah saw senantiasa mengisi sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan beritikaf, sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah, mengatakan kalau Nabi Muhammad akan membangunkan seluruh keluarganya di malam hari pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam sebuah hadist lain, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah mewafatkannya, kemudian istri-istrinya juga mengikuti untuk beri'tikaf.
Meskipun kedua peristiwa di atas yaitu Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar sama-sama dinyatakan sebagai peristiwa turunnya Al Qur’an, tidak ada pertentangan di dalamnya, dan kedua-duanya betul terkait dengan turunnya Al Qur’an. Perlu diketahui bahwa turunnya Al Qur’an terjadi dalam dua fase, yaitu fase pertama adalah malam diturunkannya Al Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia yang diturunkan sekaligus dalam satu malam yang disebut dengan Lailatur Qadar, serta fase kedua adalah turunnya Al Qur’an pertama kali dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Proses diturunnya Al Qur’an melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dilakukan secara bertahap ayat per ayat yang berakhir di Padang Arafah saat Rasulullah melaksanakan haji terakhir. Awal diturunkannya Al Qur’an oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad inilah yang disebut dengan Nuzulul Qur’an sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa Al Qur’an sangat dekat dengan Ramadhan, karena dua peristiwa penting sebagaimana diuraikan di atas yang berkaitan dengan Al Qur’an terjadi pada bulan Ramadhan. Oleh karena pantaslah kiranya bulan Ramadhan disebut juga dengan syahrul Qur'an di samping beberapa nama lainnya seperti syahrul qiyam, syahru ad du'a, syahru ar rahmah, syahrul maghfirah, syahrul ash shodaqah, syahrul baraqah, dan syahrut tarbiyah. Sehubungan dengan itulah kita perlu lebih intensif berinteraksi dengan Al Qur’an pada bulan ini, dengan harapan intensitas interaksi tersebut berlanjut sesudah selesai Ramadhan, sehingga dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya semakin dekat kehidupan kita dengan Al Qur’an, karena sesungguhnya bagi kaum muslim, berinteraksi dengan Al Qur’an adalah suatu kewajiban.
Ada minimal tujuh cara untuk berinteraksi dengan Al Qur’an mulai dari sekedar mendengarkan dan menyimak, membaca dengan tartil, menjaga dan menghafalkan, mentadabburi, belajar sekaligus mengajarkan dan mendakwahkan, mengamalkan dalam kehidupan, membela sampai kepada mensyiarkan. Melalui interaksi yang intensif dengan Al Qur’an tersebutlah fungsi Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sebagai penyempurna kitab-kitab suci sebelumnya, dan sebagai sumber pokok seluruh ajaran Islam baik aqidah, syariah, maupun akhlak bisa implementasikan. Melalui interaksi yang intensif dengan Al Qur’an tersebut juga akan bisa memanfaatkannya secara lebih rinci yaitu menjadi Al Huda (petunjuk), Al Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil), Al Burhan (bukti kebenaran), Al Dzikr atau Al Tadzkirah (peringatan), Al Syifa (obat penyembuh), Al Mau’idhah (nasihat, pelajaran), Al Rahmah (rahmat), Al Nur (cahaya), Al Bayan (keterangan), Al Balagh (keterangan yang cukup), Al Bashair (bukti atau keterangan yang jelas), Al Busyra (berita gembira), Al Basyir (pemberi kabar gembira), dan Al Nadzir (pemberi peringatan).
Berbagai fungsi Al Qur’an di atas` terkait dengan berbagai sebutan lain tentang Al Qur’an seperti Al Kitab, Al Mubin, Al Karim, Al Kalam, Al Nur, Al Huda, Al Furqan, Al Syifa, Al Haqq, Al ’Ilm dan sebutan lainnya. Salah satu di antara nama tersebut adalah Al ’Ilm karena Al-Qur’an dijadikan sebagai menjadi sumber ilmu pengetahuan. Al-Qur’an tidak hanya mengatur urusan masalah ubudiyah saja, tetapi juga memuat ayat-ayat yang berhubungan dengan sains dan teknologi. Banyak ayat Al-Qur’an yang memberikan isyarat tentang berbagai bidang ilmu seperti biologi, kedokteran, fisiologi, pertanian, sejarah, arkeologi, arsitektur, astronomi, astropologi, antropologi, geografi, mineralogi, kosmologi, fisika, kimia, matematika, ekonomi, psikologi, sosiologi, serta bidang ilmu lainnya. Intinya, Al Qur'an selain berisi hubungan antara manusia dengan Penciptanya, juga mengandung berbagai pelajaran mengenai, kehidupan dan pergaulan manusia, petunjuk mengenai hubungan antar sesama manusia, hubungannya dengan makhluk lain dan hubungan manusia dengan alam semesta, termasuk mengelolanya. Munculnya ilmiawan-ilmiawan muslim beserta kara-karya besar serta temuan ilmiah mereka terutama di abad ke-7 sampai abad ke-14 adalah bersumber dari ayat-ayat Al Qur'an. Melalui Al Qur'an, para kaum terdidik dan terpelajar muslim mengetahui bahwa awan yang terbentang di udara, hujan yang tercurah dari awan, bintang yang gemerlapan di langit biru, bulan dan matahari, seluruh jagad diciptakan untuk kepentingan manusia yang berakal dan berfikir. Para ilmiawan masih bisa menggali lebih jauh dari ayat-ayat dalam Al Qur’an untuk meningkatkan kemanfaatan bagi umat manusia seperti misalnya penyebutan beberapa hewan, yaitu unta, sapi, domba, laba-laba, lebah, gajah, lalat, burung gagak, kuda, rayap, burung hud-hud, semut, anjing, keledai, serigala, ular, bahkan babi. Begitu juga dengan beberapa tumbuhan yang secara khusus disebutkan, yaitu tin, zaitun, kurma, anggur, delima, labu, dan pisang. Pastilah Allah mencantumkan nama hewan dan tumbuhan tersebut memiliki tujuan yang perlu digali oleh manusia dengan akal, pikiran, dan ilmu.
Dunia memang mengenal beberapa nama besar ilmiawan muslim yang berkontribusi besar terhadap dunia ilmu pengetahuan dan menjadi penemu berbagai karya yang bermanfaat seperti Ibnu Sina yang berkontribusi besar di bidang kedokteran, menguasai bahasa Arab, geometri, fisika, logika, ilmu hukum Islam, teologi, dan ilmu kedokteran, Al Farabi merupakan ahli di bidang matematika, pengobatan, musik, dan agama, Al Khawarizmi yang berkontribusi besar di bidang matematika, geografi dan astronomi, AI-Kindi yang merupakan ahli metafisika, etika, logika, psikologi, farmakologi, matematika, astrologi, dan optik. Dunia juga mengenal Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan Islam, ekonom, sejarawan, dan sosialogi Islam, Al Zahrawi, tokoh peletak dasar-dasar ilmu bedah modern, Abbas ibn Firnas, seorang pelopor di bidang penerbangan dan aerodinamik. Ada pula Al-Ghazali sebagai filsuf dan teolog, Ibnu Haitsam yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern, Ibnu Rusyd seorang ahli fikih, kalam, sastra Arab, matematika, fisika astronomi, kedokteran, dan filsafat, Jabir bin Hayyan seorang Bapak Kimia Bangsa Arab. Selain itu masih ada lagi Al Battani, seorang ahli astronomi dan matematika, Ismail Al-Jazari, seorang seniman sekaligus matematikawan, Tsabit bin Qurra yang merupakan Bapak Penemu Statistika, At Tabari seorang hakim, ulama muslim, dokter, ahli fisika dan psikolog legendaris muslim, Al-Asma'i, sosok yang paling awal mengembangkan sains dan zoologi. Al Dinawari, seorang ahli botani, Al Biruni yang merupakan ilmuwan muslim bidang kajian matematika, kedokteran, fisika, geografi, kronologi dan astronomi, sejarah, musik, farmasi. Selain itu adalagi Ar Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan dan pengobatan seputar penyakit cacar.
Manusia memang diciptakan Allah sebagai makhluk berpikir dan berakal yang membedakannya dengan makhluk lainnya serta dengan kemampuan berpikir dan berakal tersebutlah menjadi modal utama bagi manusia menjadi khalifah di muka bumi, sehingga manusia mampu mengatasi kuat dan dahsyatnya fenomena alam dan mengendalikan makhluk lain yang jauh lebih kuat, lebih tahan, lebih besar, dan lebih cepat dari manusia. Perintah untuk berpikir, berakal dan berilmu ini jelas dalam Al Qur’an, perkataan terkait dengan akal, ilmu, dan fikir diulang berkali-kali. Perkataan ‘ilm itu dituliskan sebanyak 105 kali, dan jika termasuk kata jadiannya lebih dari 744 kali. ’Aql disebutkan sebanyak 49 kali, ta’qilun diulang sebanyak 24 kali, ya’qilun diulang sebanyak 22 kali termasuk perkataan ’aqala, na’qilu, dan ya’qilun masing-masing terdapat satu kali. Selain itu ada pula penggunaan bentuk pertanyaan yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat seperti kata afala ta’qilun diulang sebanyak 13 kali. Ada lagi perkataan lain terkait berilmu, berakal, dan berfikir, afala tadzakkarun, afala tatadabbarun, afala tatafakkrun yang intinya menyuruh manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya.
Dari semua yang diuraikan di atas, adalah wajib bagi kita untuk selalu berinteraksi dengan Al Qur’an dan setiap bulan Ramadhan mestinya momen yang tepat bagi kita untuk meningkatkan interaksi kita dengan Al Qur’an yang membuat kita menjadi sahabat bagi Al Qur’an. Bentuk interaksi yang kita bangun dengan Al Qur’an kita pilih dan tentukan sesuai kapasitas dan kapabilitas kita. Idealnya memang kita menjadi pengkaji, pengamal, penyebar, pendakwah, pengajar, pembaca, pendengar, sekaligus pencinta isi dan kandungan Al Qur’an. Bagi orang awam yang tidak mengenal dan tak pandai membaca, minimal jadilah orang yang menjadi pendengar, tetapi kita juga harus meningkatkan kemampuan kita untuk berinteraksi, sehingga dari Ramadhan ke Ramadhan, tingkatan interaksinya bertambah, dari hanya sekedar pendengar menjadi pembaca, untuk seterusnya menjadi pembelajar, pengajar, penyebar, dan pengamal. Bila memiliki kapasitas keilmuan dan kemampuan, tentu akan lebih baik lagi jika menjadi pengkaji sehingga bisa menjadi penerus Ibnu Sina, Al Farabi, AI-Kindi, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, dan para ilmuan muslim lainnya. Masih sangat banyak kandungan Al Qur’an sebagai Al ‘Ilm yang bisa dan perlu digali dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan lahirnya intelektual dan ilmiawan muslim baru yang mengacu pada Al Qur’an serta menjalani kehidupan dengan berpedoman pada Al Qur’an, maka kebangkitan dan keberjayaan Islam akan dicapai. _Wallahu a’lam._
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar