Minggu, 18 Mei 2025

MENDAMBAKAN NEGERI YANG GEMAH RIPAH DAN BERKAH

by Zulkarnain Lubis Konon kabarnya ada sebuah negeri yang berada entah di antah berantah dan entah di bumi sebelah. Negeri ini punya pemandangan alam yang sangat indah, membentang sepanjang dan seluas negeri dengan alam, laut, gunung, dan hamparan aneka tumbuhan dan dengan tampilan pesona sejuta wajah. Kekayaan alam melimpah ruah, mulai dari perut bumi, hutan, dan air yang mestinya tak akan membuat hidup susah. Namun sayangnya negeri ini seakan tak bertuah, boleh jadi Allah seakan enggan memberi berkah, justru yang ada adalah hutang berlipat-lipat dan bertambah-tambah, rakyatnya semakin banyak yang hidup susah, kekayaan yang melimpah malah dikuasai oleh orang-orang serakah. Orang-orang berebut untuk menjadi penguasa dan saling memaksa untuk menjadi bagian dari yang memerintah. Pemerintahnya suka melanggar sumpah, gila disembah, dan tak suka disanggah. Penguasanya serakah, politisinya banyak berakhlak rendah, legislatifnya banyak yang perilakunya parah, pengusahanya banyak yang tukang hisap laksana lintah, premannya banyak dan nuraninya sekelas sampah, banyak pula yang serasa intelektual gagah, tambil dalam bungkusan jubah, dengan sederat gelar akademik megah, tapi diperoleh dengan cara salah, sehingga ilmunya tak sampai sepenggalah, karena sesungguhnya tak jelas apakah tamat sekolah atau mungkin tak pernah sekolah. Di negeri itu banyak penjahat yang tampak gagah padahal sesungguhnya adalah sampah dan etikanya rendah, mereka maling berjamaah, memanfaatkan penegakan hukum yang lemah dan pandai mencari celah. meraka adalah para begundal dan bedebah yang menguasai pemerintah atau justru bagian dari pemerintah. Mereka bisa duduk manis dengan wajah cerah, bersembunyi di balik sikap yang ramah, namun bisa juga dengan muka merah dan marah bahkan bisa membuat mangsanya berdarah-darah, ketika kedudukannya dan kepentingannya dijamah. Mereka siap tampil dalam debat dengan berbantah-bantah, adu argumen dan debat kusir yang tak pernah mengaku salah dan tak mau kalah, meskipun argumentasinya lemah dan bicaranya tak genah. Ada lagi yang lebih parah, yaitu pejabat pemerintah yang tampil sebagai penguasa bermental rendah, ada pula pengusaha serakah, dan politisi bermental sampah. Mereka berjamaah untuk menjarah dengan cara memecah, membelah, membuat resah, mengubah-ubah, membedah, mencegah, dan membuat tumpah, sehingga yang benar dijadikan salah, yang masak bisa dijadikan mentah, yang utuh bisa dinyatakan pecah, yang putih bisa dikatakan merah, bahkan gajah bisa dikatakan sebagai jerapah. Mereka bisa melakukannya karena mereka yang punya mahkamah, mereka yang menguasai orang-orang berjubah, mereka yang mengatur para pensiasah, pengadil rasuah, dan segala kasus jenayah. Semakin lengkap nasib negeri ini seperti kehilangan berkah, ketika rakyat di negeri itu juga tidak mau kalah, mereka tak mau peduli dan tak mau susah, banyak yang tak peduli benar atau salah, tak mau berlelah-lelah, tidak mau memilah-milah, mudah percaya terhadap kabar dan berita, apalagi gosip dan gibah, semua ditelan mentah-mentah. Memang negeri ini sepertinya sedang terkena musibah, gunjing, gosip, dan gibah tumpah ruah di seluruh wilayah dan masuk ke rumah-rumah, di tengah sawah, di halaman sekolah, di tempat jualan buah, di tempat orang makan mi kuah, di gedung mewah, bahkan di tempat ibadah. Bergunjing dan bergibah juga menjadi terbiasa dilakukan ketika menyampaikan makalah, saat menikmati juadah, ketika sedang rehat melepas lelah, sewaktu berbincang dengan tetangga sebelah, sedang mencuci pecah belah, atau sedang membuat gerabah. Bergunjing dan gibah juga merata, mulai dari yang masih gagah sampai mereka yang fisiknya sudah lemah, mulai dari mereka yang berpendidikan rendah sampai pendidikannya tinggi dengan sederet gelar yang megah. Gunjing, _hoax_, gosip, dan gibah semakin parah dengan kelakuan para pendegung yang bikin resah, baik pendengung yang mendapatkan jatah maupun yang sukarela mendengung meskipun tak mendapatkan jatah. Para pendengung ini memang sering membuat jengah, mereka membuat berita untuk mengupayakan popularitas pujaannya berada di puncak yang megah atau membuat pesaing mereka jatuh terpuruk ke lembah terendah. Melalui pendengung ini, kita bisa berpersepsi salah, pandangan bisa berubah, semut bisa dilihat seperti gajah, dan batang yang kokoh bisa pula dipandang sekedar pelepah. Rakyat juga banyak yang salah kaprah, dikasih uang sedikit saja, langsung berubah, banyak yang tidak punya pendirian dan pendiriannya hanya diukur dengan setingkat remah, langsung membela tanpa melihat lagi siapa yang benar siapa yang salah. Mereka sadar atau tak sadar untuk ikut perintah, bahkan kadang dalam sekejap mereka bisa menyerang ibarat sekelompok lebah yang sarangnya dijamah, dengan mudahnya rakyat terpisah dan terbelah. Negeri ini memang seakan kehilangan tuah, sehingga susah untuk mendapatkan berkah, bagaimana pula akan berkah ketika hampir semua ranah menjadi menyalah, melawan arah, tak terarah, aturan berubah-ubah, banyak pemegang amanah justru tak amanah. Demikianlah memang yang terjadi, serba kontroversi, serba kontradiksi, penuh dengan hipokrasi, jauh dari konsistensi, lebih banyak berapologi, penuh dengan basa basi, lain di mulut lain di hati lain lagi yang dieksekusi. Banyak yang senang mengumbar janji tapi tak banyak yang ditepati, banyak yang gemar berdusta, seakan berbohong sudah mentradisi, banyak yang mementingkan diri sendiri yang memperjuangkannya dengan cara menyakiti, melukai, memasukkan ke bui, bahkan membuat merana sampai mati. Sosok pemimpin yang berkomitmen, bertanggungjawab, amanah, dan jujur sudah semakin langka dan susah dicari, tenggelam dalam banyaknya sosok pengkhianat, perilaku bejat, tega melakukan perbuatan terlaknat, terlibat dalam persekongkolan jahat, dan menggemari maksiat, tapi semua keburukan mereka dibungkus dengan perilaku yang seolah-olah baik, seolah-olah penyayang, sepertinya derrmawan dan pemurah, serta kelihatannya seperti ringan tangan dan penolong. Mereka dibalut pula oleh tampilan yang mempesona serta tindakan yang terkesan sopan dan ucapan yang santun dalam bertutur kata. Hal di ataslah sesungguhnya penyebab mala petaka, sehingga masyarakatnya dihadapkan kepada para pelaksana negara yang tidak kompeten di bidangnya, justru bertentangan dari yang seharusnya. Kasus korupsi ditangani oleh penggemar tindak korupsi, berharap penyelesaian masalah oleh orang-orang yang punya masalah bahkan merekalah sesungguhnya sumber masalah, penjahat ditugasi membina orang-orang jahat dan menangani kasus-kasus kejahatan, pencuri disuruh mengurangi pencurian dan menangkap para pencuri, penjilat justru jadi pejabat, pemimpin justru orang yang karakternya tak layak jadi pemimpin, yang palsu dipuja yang asli justru dihina, yang betul-betul hebat hidup melarat, yang pura-pura hebat mendapat tempat terhormat, ulama sejati dengan ilmu mumpuni dicaci dan tidak dihargai tapi orang yang pura-pura jadi ulama yang pandai main drama justru menjadi ternama, dinanti-nanti ceramahnya yang sesungguhnya lebih banyak retorika dan propaganda. Di negeri ini, orang yang sekedar pandai bicara yang kadang cacat logika dan tidak berdasarkan fakta lebih dipercaya daripada para intelektual yang bicara dengan bukti dan data, memiliki segudang ilmu dan jelas reputasinya. Aneh memang negeri ini, pejabat yang diangkat justru banyak yang kelakuannya tidak terpuji, banyak yang masih hijau dan tak punya bekal berarti, hanya berbekal bahagian dari dinasti, bermodalkan materi untuk membayar suara dan bersekongkol dengan panitia, baik yang berjudul komisi maupun panitia seleksi. Ada lagi yang kebagian kursi karena menjadi pendukung, pemuja, dan pembela membabi buta terhadap junjungannya, maka ketika junjungan berhasil duduk di singgasana, mereka mendapatkan cipratan kekuasaan menjadi urusan khusus, staf ahli, bahkan menjadi menteri. Memang negeri ini susah dimengerti, perbedaan pendapat tidak diakomodasi, mereka yang mengkritik dituduh sebagai barisan sakit hati, mereka yang berpendapat beda sering dihujat, orang yang pernyataannya tidak disukai, banyak yang dikriminalisasi. Penjara dan rumah tahanan menjadi ancaman untuk membungkam mereka yang dianggap sebagai opisisi, rekayasa menjadi cara untuk mengkriminalisasi, melalui kasus yang dibuat-buat, pasal-pasal yang dipaksakan untuk menjerat, saksi disiapkan secara cermat, sehingga target bisa disasar dengan akurat. Ada lagi yang disindir dan dihujat dengan ungkapan dan kata-kata menyengat, menyuruh minggat dari negerinya, menuding kampungan, mengancam membuldoser, menyebut kalau mau bersih-bersih tunggu nanti di sorga, kalau mau sempurna pergi saja ke sorga, serta berbagai ungkapan lainnya yang menyudutkan dan memojokkan orang-orang yang tidak seirama dengan mereka. Negeri itu kelihatannya sudah seperti berada di jaman jahiliyah, perlu sosok yang bisa membawa negeri ini untuk berhijrah, berpindah dari suasana gelap menjadi cerah, sehingga yang datang bukan lagi musibah tetapi adalah berkah. Memang bukan saatnya lagi negeri itu untuk mencari pemimpin yang bisa membawa hijrah, karena pestanya sudah usai dan para pemimpin terpilihlah sudah, bukan saatnya lagi bagi mereka untuk mencari dan menuding siapa yang salah, kini adalah saatnya bagi negeri itu untuk berbenah. Kita mungkin hanya berharap dan meminta para pemimpin mereka yang barusan terpilih pada tingkatan mana sajapun untuk mengajak berubah yang tentu dimulai dari diri mereka untuk bertekad hijrah agar keadaan negeri itu tidak semakin parah. Para pemimpinnya diharapkan terus istiqamah dalam memegang amanah, sehingga negeri itu kembali bertuah, sehingga terwujud masyarakat negeri yang gemar ripah dalam berkah Allah.

Tidak ada komentar: