









Berkunjung ke Medan, menginaplah sesekali di Hotel Cirasa Medan. Hotel yang juga dilengkapi dengan Rumah Makan/Restoran ini tidak jauh dari pusat kota dan Bandara Polonia Medan. Hotel bernuansa asri dan islami ini menyuguhkan suasana kekeluargaan yg menghadirkan image positif penuh keakraban.04 Feb 2008
Munzir Baraqah
Abstrak
Didasari kesadaran untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita dituntut untuk lebih mendekatkan diri kepada alam dalam berbagai bentuk dan cara juga mendekatkan diri kepada sesama manusia dalam bentuk menjalin hubungan silaturahmi sehingga lebih merekatkan diri sambil berukhuwah sembari melebarkan dakwah.
Situasi dan kondisi silih berganti bermakna besar sebagai kajian untuk introspeksi diri, bagaimana menyikapi hidup, bagaimana menyikapi kesenjangan hidup, bagaimana memahami diri untuk menyikapi perbedaan kultur budaya hingga sampai bagaimana menyikapi timpangnya ekosistem sebagai kajian untuk menyelamatkan ekosistem kehidupan secara keseluruhan.
Raga menggeliat, selimut kusibak manakala azan subuh menggema di Sabtu pagi tanggal…di Bulan September 2007, yang membuatku sontak terjaga dari alam mimpi yang telah membawa sukmaku entah kemana. Kuguyur tubuh walau dingin terasa. Air wudhu hangatkan jiwa dan batinku. Basuh kening dan wajah mengharap terhapus dosa. Sujud diatas sajadah pada Dia Maha Pencipta. Perjalanan panjang yang kunanti, kini telah diambang pintu. Sibak lamunan, tepis keraguan, hadapi tantangan untuk rampungkan bekal diperjalanan nanti.
Bhinneka Tunggal Ika. Beragam suku, adat dan bahasa. Adakah rasa di jiwa untuk memperkaya, aneka rupa budaya, istiadat Nusantara. Sempat terbersit pertanyaan ini saat penjaja jalanan menawarkan Kerupuk Jangek (Rp.5rb) yang dipercaya dapat mengurangi gejala penyakit maag, di persimpangan Asrama Haji, Bandara Polonia, Medan.
RIAU
Hari ke-Dua
Memasuki Subuh, setelah sempat sekali rehat ngopi sejenak (Rp.16rb) jelang dini hari, sempat ku tertegun saksikan bangunan hijau berarsitektur ciamik, Masjid Al-‘Arafah yang berdiri megah di Indragiri, Duri, Kabupaten Bengkalis. Moment ini sayang untuk dilewatkan untuk sejenak bertafakkur hingga hangat pagi menjelang.
“Tak disangka tak diduga, Pekan Baru memang ok punya”, ujarnya. Gaya arsitektur yang bernuansa melayu, kental menyelimuti seluruh kota. Wajar menjadi sarana Convention Wisata tempat penyelenggaraan berbagai Festival.
JAMBI
Hari ke-Tiga
Pak Polisi tegak berdiri di tiap sudut simpang Kota Jambi. Belokkan kemudi mengisi kekosongan tangki (Rp.135). Hati riang tak terperi, memasuki halaman kediaman kerabat di kota ini. Puas menikmati teh kayu aro produksi PTPN VI Jambi, usai regangkan tangan dan kaki, tak lupa jejalkan perut, semangkuk penuh indomie, perjalananpun dilanjutkan kembali. Rombongan Yusuf Kalla yang berkunjung ke Sekolah Kepolisian Negara di kota ini, seakan mengiringi kepergian kami.
Kemacetan akibat perbaikan jalan yang menyambut ketika azan maghrib berkumandang di Masjid Raya yang berseberangan dengan jembatan Ampera di pusat
LAMPUNG
Hari ke-Empat
Sensasi yang cukup bermakna walau sesaat telah jauh dibelakang meninggalkan sungai Musi. Usai isi Bensin (Rp.119rb) di Indralaya, sepertinya mata sudah tidak bisa diajak berkompromi, namun tiba-tiba kami dikejutkan kejadian tabrakan antara kijang inova yg ternyata berplat BK (
Setelah melalui macet panjang akibat kecelakan maut, perjalanan dihadapan hanya gelap dan gelap sehingga rasa kantuk kembali menyerang, lihat jok belakang, rekan seperjalanan pada ngorok semua, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, mobil disinggahi ke sebuah rumah makan untuk minum kopi (Rp.36rb) dan mengistirahatkan tubuh & mata. Sekitar 2 jam kemudian, perjalanan dilanjutkan walau tidak lama kemudian kami berhenti kembali untuk sarapan pagi (Rp.10rb) di sebuah SPBU saat hangat pagi bergulir menyentuh kulit menerangi Taman Nasional Way Kambas, yang berdekatan tempat pelatihan gajah di Lampung Timur.
Kami tinggalkan SPBU tanpa mengisi bensin menuju pelabuhan yang jaraknya masih jauh. Di Lampung, Tim menemui pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) perajin bambu dan tepas disepanjang jalan negara menuju Pelabuhan penyeberangan Bakauheni. Matahari tepat di ubun, kala kenderaan tim merambat geladak kapal yang tertambat di Bakauheni - Merak setelah membayar tiket feri sebesar Rp 165 rb/mobil.
Nasi bungkus (Rp15rb) di Ferry menjadi pengganjal perut kami, sambil sesekali layangkan pandangan ke laut lepas, mengagumi alam ciptaan Tuhan. Tidak lama kemudian, kami yang beristirahat di ruang eksekutif (Rp.15rb) minus Atin yang entah kemana, mendengar kapal akan bersandar. Beberapa dari anggota tim yang belum pernah menginjakkan kaki di pulau jawa telah mempersiapkan handycam sebagai saksi dan dokumentasi GREENSURVEYOR Pulau Sumatera, Jawa & Bali.
Jawa via Pantai Utara
Banyak berjalan banyak dilihat, dari gunung sampai ke pantai, tidak hanya laut pantai selatan, tapi juga laut pantai utara. Seiring perut kapal bersandar, membuncah hasrat ‘tuk menjelajah, membuncah hasrat untuk menyusurinya. Begitu menjejakkan kaki di Tanah Jawa, sejenak hirup udara yang terasa nyaman walau polusi sesakkan dada.
Di rembang petang, kemudi mengarah ke jalur Pantura, masuki gerbang tol Jakarta-Cikampek (Rp.27rb). Disini ketahanan fisik, psikis dan kesolidan tim diuji, jarak dan waktu yang telah dan akan dilalui menyelimuti benak masing-masing peserta saat kenderaan berbelok menuju sebuah SPBU megah yang mempunyai konsep One Stop Solution, untuk kembali mengisi tangki yang memang sudah kosong (Rp.148rb).
Bulan Purnama langit Cikampek hantar diri ‘tuk rehat sejenak disebuah masjid ditemani masing-masing sebungkus nasi yang kami beli (Rp.36rb) di pintu keluar tol Cikampek. Sambil mendengar ceramah dari khatib yang sedang mengisi pengajian seusai tunaikan shalat, Tim sempatkan diri berbincang bareng pemudik yang juga sedang istirahat sambil menggali informasi jalur terbaik yang akan kami lalui. Selagi asyik berbincang, Tim melihat kedatangan pasangan suami istri yang baru mengalami kecelakaan sepeda motor yang berjalan terpincang-pincang menggendong bayinya yang alhamdulillah tidak mengalami luka sedikitpun. Setelah energi raga dan rohani terkumpul, Ba’da Isya perjalanan pun dilanjutkan menuju Indramayu.
JAWA BARAT
Sekitar pukul dua dini hari sesampai Indramayu, kantuk tak tertahankan. Mobil merapat ke sebuah masjid. Namun karena terganggu oleh serangan nyamuk akhirnya kami pun pindah tidur ke mobil.
Azan subuh menggema, sadarkan kami kalau Hasril ternyata tidak ada di tempat. Namun sejurus kemudian kulihat Atin yang ternyata baru selesai di pijat, berjalan menuju mobil.
Dia mendapat cerita unik kalau gadis-gadis Indramayu terkenal ayu. Eh, jangan piktor alias pikiran kotor dulu, beliau bukan dipijat oleh gadis-gadis dimaksud, tapi, "pijat sehat biar nggak masuk angin",katanya.
Setelah membeli Aqua (Rp 5rb) perjalanan kami lanjutkan menembus pekatnya kabut pagi.
JAWA TENGAH
Pantai Utara di Pulau Jawa, pusat syiar Islam menyebar, anugrah tim dapat berziarah ke makam Wali penyebar Syari’ah, mulai Sunan Gunung Jati hingga Sunan Ampel, dari
Ziarah dimulai dari makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Sunan Kalijaga atau R.M Syahid di Kadilangu, Demak.
Agak siangan kami masuki Masjid Demak untuk shalat di Masjid Demak. Setelah shalat kami masuki situs-situs di masjid dan melihat-lihat pekuburan raja-raja Demak.
Setelah puas kami keluar dan makan siang (20rb) aku juga membeli obat obat untuk menghilangkan masuk anign dan rasa pusing.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Pati dan mengisi bensin di Pati (162rb) untuk meneruskan perjalanan panjang kami.
JAWA TIMUR
Hari ke-6
Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim di Tuban, Sunan Muria di gunung Muria, Muria dan Sunan Kudus atau Ja’far Siddiq sekaligus melihat Menara Masjid Kudus di Kudus. Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maghribi dimakamkan di jalan Malik Ibrahim, kampung Gapura Gresik. Sunan Drajat atau Syarifuddin. Kemudian makam Sunan Giri atau Raden Paku di bukit Giri di Gresik.
Sarapan pagi (Rp 14rb)kami di Pasuruan di warung Mbak Umi yg tampil cantik pagi itu yg belum meyediakan banyak makanan, namun sedikit kami paksa untuk menyiapkan makanan bagi kami. Pintu masuk Bromo di Pasuruan hanya bisa kami pandangi (suatu hari nanti kami akan kembali). Selanjutnya di Rembang kami makan siang (Rp 31rb). Lewat Kediri dimalam hari kami dikejutkan dengan adanya razia, namun disini keampuhan topi pemberian Fahrizal, polisi-polisi itu nggak memeriksa banyak, selain melihat surat kami yg lengkap juga kami dengar teriakan teman sesama polisi yg mengatakan ‘”ada polisinya tuh” akhirnya kami lewat dengan aman hingga memasuki tol Surabaya (Rp 7rb) pada dini hari.
Hari ke-Tujuh
Dan akhirnya team tiba di Masjid tempat dimakamkannya Sunan Ampel atau Raden Rahmat dan pengikutnya di Surabaya pada pukul 2.00 jumat pagi atau Jum’at manis menurut kepercayaan penduduk setempat, membuat ramai peziarah yang berkunjung sehingga menimbulkan suasana magis di sekitar pemakaman yang ditumbuhi pohon-pohon beringin raksasa yang sudah berusia ratusan tahun.
Sebelum memasuki masjid Sunan Ampel kami makan nasi goreng di depan masjid (Rp 10rb). Kemudian memuaskan diri dengan shalat dan ziarah kepekuburan dilanjutkan dengan tidur-tiduran di masjid. Setelah Hasril membeli jerigen untuk mengambil air sumur di Masjid Sunan Ampel kami pamit pada seorang Mahasisawa yg bertugas untuk memandu pengunjung atau peziarah. Sekitar pukul 3.00 kami berangkat dan setelah membayar parkir (Rp2rb) kami lanjutkan melewati markas AL terbesar di Indonesia.
Surabaya yang panas tidak sempat kurasakan, usai subuh, sesuai schedule, tim bergerak menuju Porong, Sidoarjo, namun langit berwarna merah saat kuteringat perkataan Mahatma Gandhi, ”Dunia ini mampu menampung kebutuhan manusia namun dunia ini tak akan sanggup memenuhi keinginan atau hawa nafsu manusia.
Setengah jam meninggalkan kota Surabaya, terlihat asap mengepul dibalik benteng yang ternyata tunggul Lapindo. tepatnya dipersimpangan lampu merah hendak berbelok kanan menuju tanggul Lumpur lapindo kami dikejutkan dengan ketukan di kaca, ternyata korban-korban lumpur lapindo yg meminta sedikit sumbangan dari pengendara. Sesaat tim sedikit berbagi, sumbangkan buah rezeki pada korban ulah grup Bakrie, yang tak henti mengeksploitasi bumi. (Kalo gua Aburizal Bakri, gua kan jual setengah asset gue untuk membuatkan rumah bagi korban Lumpur Lapindo yg sengsara akibat ulah gue yg telah mengutak-atik tanah mereka. tapi ini yg kita lihat malah sebaliknya, dia malah makin kelimis. Coba kalau dulunya perusahaannya tidak mengganggu tanah itu, pasti tidak akan ada semburan Lumpur itu. Mana tanggung jawabmu mas Rizal?).
Melewati tanggul lumpur lapindo pada dini hari itu terasa kehebohan masyarakat sekitar. Dari asap panas di kejauhan hingga rumah 2 yg telah digenangi Lumpur akibat bocornya tanggul itu. Sampai kami lupa menayakan arah jalan hingga kelewatan dan kembali memutar arah untuk menuju Banyuwangi.
Pada umumnya perusahaan industri di sekitar kawasan pemukiman penduduk hanya fokus untuk mengembangkan usaha memperoleh keuntungan berlipat ganda, tetapi kebanyakan perusahaan tersebut lupa dengan keadaan sekitarnya. Perusahaan lupa akan kepedulian terhadap sesama, lupa terhadap kewajibannya kepada masyarakat disekitar lingkungan perusahaan atau Community Social Responsibility (CSR).
Memasuki Banyuwangi kami makan siang (Rp. 23rb) sambil ngobrol dengan sesama pengunjung warung sambil men charge handphone masing-masing. tidak jauh kami berjalan, kami lihat salah satu pengunjung rumah makan tadi mengalami trouble pada kenderaanya dan ketika kami hampiri, mereka katakan sudah ditangani dengan baik. Kami pun pamit sambil melambaikan tangan dan kembali melanjutkan perjalanan.
Feri penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk (Rp.80rb) mengantar Tim dengan hati berdebar, menuju Pulau Bali yang sudah didepan mata. Wajah-wajah ramah di geladak feri seolah menyambut kedatangan Tim. Memasuki Bali aku turun sesaat untuk melihat laut lepas dan pemandangan disekitar pelabuhan sambil mengambil dan mencium tanah Bali, tak lupa juga mengeluarkan yang sudah tersimpan lama di kantung kemih,ya , pipis dulu..
Seperti tidak ada hari esok, padahal hari menjelang petang. Tim sempatkan membekukan beberapa momen di Hutan Balai konservasi dan kegiatan pemujaan di tepi pantai kawasan konservasi tempat dilindunginya pepohonan dan binatang langka yang seringkali menjadi objek buruan.
Dari informasi yang didapat dari situs Departemen kehutanan, ular sanca atau mamalia seperti biawak & kura-kura boleh diekspor, selain untuk budidaya & penelitian juga diperbolehkan untuk souvenir dalam jumlah tertentu. Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan & Konservasi Alam nomor SK 06/IV-KKH/2008 yang di tanda tangani pada 18 Januari 2008 ini, menyisakan tanya. Persoalannya, terkadang teori dengan kenyataan dilapangan bisa jauh berbeda. Para pemburu binatang, berusaha dengan segala cara, mencari celah untuk melegalkan aksinya. Mungkin saja keputusan ini akan menjadi wacana pembenaran ekspor illegalnya.
Setelah mengisi bensin di Jembrana (165rb), Tim makan malam (Rp 35rb) di Gerobogan, sambil bertanya-tanya dimana tepatnya Jalan Poppys di wilayah Kuta. Tanpa menemui kesulitan berarti akhirnya kami temukan penginapan bersih di Hotel Dua Dara di Poppyes yg berharga 80 rb/malam. Malam itu, kami tidak kemana-mana kecuali Hasril yg sudah tidak sabar hendak melangkahkan kaki menyusuri jalanan di
Hari ke-Delapan
Bali, Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, no comment, adat istiadat nya, keseniannya, kerajinannya, taman nasionalnya, taman lautnya, tanah lot nya, pantai sanur nya, ombak jimbarannya, surfing kuta nya dan banyaknya yang lainnya. Juga sebuah monumen yang layak dibangun untuk memperingati tragedi bom bali di Legian, Kuta, 202 nama korban tragedi bom bali.
Bangun pagi bukannya kuterus mandi, tapi malah ngeliat-ngeliat sekeliling hotel dari lantai 3 kamar kami sambil sesekali bercengkerama dengan bule-bule yang berasal dari Australia di sebelah kamar kami yg sibuk dengan papan selancarnya. Hasril belum juga pulang ketika kami keluar hendak sarapan di pantai kuta (Rp 18rb) yang tidak jauh dari penginapan kami di Poppies. Setelah sejenak melihat suasana di Pantai Kuta, kami kembali ke penginapan untuk mengambil kenderaan agar bisa berjalan mengelilingi tempat tempat wisata lainnya di
Hari ke-Sembilan
Jika di Medan, orang ber Tattoo identik dengan preman, ternyata sama sekali jauh dari sangar pemuja Tattoo di
Kami lihat para bule berkemas mengepak papan selancarnya, rupanya mereka hendak pulang ke kampung halamannya. Setelah berbual-bual sejenak, kami turun makan (Rp 40rb) ke Pantai Kuta ditempat kami makan kemarin pagi, namu kali ini plus Hasril. Disini kami ketemu dengan anak
In memory, Good Bye