East & West in Harmony at
www.mediasisumut.blogspot.com
Sabtu, 03 Januari 2009
GREENSURVEYOR to Sumatera Jawa Bali 2007 (BALI)
Bali
Feri penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk (Rp.80rb) mengantar Tim dengan hati berdebar, menuju Pulau Bali yang sudah didepan mata. Wajah-wajah ramah di geladak feri seolah menyambut kedatangan Tim. Memasuki Bali aku turun sesaat untuk melihat laut lepas dan pemandangan disekitar pelabuhan sambil mengambil dan mencium tanah Bali, tak lupa juga mengeluarkan yang sudah tersimpan lama di kantung kemih,ya , pipis dulu..
Seperti tidak ada hari esok, padahal hari menjelang petang. Tim sempatkan membekukan beberapa momen di Hutan Balai konservasi dan kegiatan pemujaan di tepi pantai kawasan konservasi tempat dilindunginya pepohonan dan binatang langka yang seringkali menjadi objek buruan.
Dari informasi yang didapat dari situs Departemen kehutanan, ular sanca atau mamalia seperti biawak & kura-kura boleh diekspor, selain untuk budidaya & penelitian juga diperbolehkan untuk souvenir dalam jumlah tertentu. Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan & Konservasi Alam nomor SK 06/IV-KKH/2008 yang di tanda tangani pada 18 Januari 2008 ini, menyisakan tanya. Persoalannya, terkadang teori dengan kenyataan dilapangan bisa jauh berbeda.Para pemburu binatang, berusaha dengan segala cara, mencari celah untuk melegalkan aksinya. Mungkin saja keputusan ini akan menjadi wacana pembenaran ekspor illegalnya.
Setelah mengisi bensin di Jembrana (165rb), Tim makan malam (Rp 35rb) di Gerobogan, sambil bertanya-tanya dimana tepatnya Jalan Poppys di wilayah Kuta. Tanpa menemui kesulitan berarti akhirnya kami temukan penginapan bersih di Hotel Dua Dara di Poppyes yg berharga 80 rb/malam. Malam itu, kami tidak kemana-mana kecuali Hasril yg sudah tidak sabar hendak melangkahkan kaki menyusuri jalanan di Bali. Malam itu aku dan Ucok tidur nyenyak. Grhek… grhekg..grkhk…
Hari ke-Delapan
Bali, Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, no comment, adat istiadat nya, keseniannya, kerajinannya, taman nasionalnya, taman lautnya, tanah lot nya, pantai sanur nya, ombak jimbarannya, surfing kuta nya dan banyaknya yang lainnya. Juga sebuah monumen yang layak dibangun untuk memperingati tragedi bom bali di Legian, Kuta, 202 nama korban tragedi bom bali.
Bangun pagi bukannya kuterus mandi, tapi malah ngeliat-ngeliat sekeliling hotel dari lantai 3 kamar kami sambil sesekali bercengkerama dengan bule-bule yang berasal dari Australia di sebelah kamar kami yg sibuk dengan papan selancarnya. Hasril belum juga pulang ketikakami keluar hendak sarapan di pantai kuta (Rp 18rb) yang tidak jauh dari penginapan kami di Poppies. Setelah sejenak melihat suasana di Pantai Kuta, kami kembali ke penginapan untuk mengambil kenderaan agar bisa berjalan mengelilingi tempat tempat wisata lainnya di Bali. Sekitar jam 10 pagi, Hasril yang kami tunggu-tunggu tak jua menampakkan batang hidungnya, sempat terbersit perasaan was-was, kemana gerangan si Hasril yang sama dengan kami, belum pernah menjejakkan kaki ke Pulau Bali. Apakah dia tersesat? Atau malah dapat berkencan dengan cewe-cewe bule?.. Dengan mobil kami arah kan tujuan ke Sanur sambil melihat-lihat berbagai macam kerajinan dan barang seni yg membuat hati ingin rasanya memboyong pengrajinnya ke Medan untuk dapat menularkan ilmunya ke Masyarakat di Sumut. Setiba di Sanur, kami susuri pantai yang tidak berujung melewati hotel demi hotel, sambil melihat bule-bule dan warga lokal yg kebetulan sok bergaya bule ikutan berjemur berbikini ria bahkan bertelanjang dada. Lelah kaki melangkah, kami singgah di warung yang tidak jauh dari hotel sanur beach sambil memesan minuman ringan (Rp 8rb) dan tidak lama kemudian terlibat percakapan unik dengan warga setempat yang mempunyai tubuh kekar bertato, bertampang seram plus berambut panjang melewati pantat, namun mempunyai sifat ramah yang membuat kita nyaman berlama-lama ngobrol sambil mengorek keterangan tempat-tempat mana yang layak untuk kami kunjungi berikutnya. Dari Sanur kami menuju lokasi perhotelan yang tidak sembarang orang dapat memasukinya, disinilah bakal diadakannya pertemuan IPCCC. Setelah itu kami ke Pantai yang kebetulan sedang mengadakan upacara melarungkan sesajen. Perut terasa lapar, kemudi yang kami arahkan ke Pura Tanah Lot untuk melihat matahari terbenam yang terkenal keindahannya, kami singgahkan sementara di warung penjual Mie Ayam (Rp.12rb) yang kelezatannya terasa dilidah hingga saat ini. Namun kami harus bergegas, jam sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore, Tanah Lot masih jauh, sementara kami masih meraba-raba dimana posisi yang tepat, sambil berhenti sesekali bertanya pada orang-orang di sepanjang jalan. Ketika bus pariwisata yang kelihatannya menuju arah yang sama, kami coba ikuti dan ternyata memang tepat, kami satu tujuan. Setelah membayar tiket masuk (Rp 20rb) kami bergeagas, karena hari sudah mulai gelap. Sungguh indah pura Tanah Lot diwaktu senja, seandainyaaku membawa kamera yang dapat merekam keadaan senja disini, tidak jauh berbeda dengan yang ada di foto-foto para professional yang telah mengabdikan gambar kedalam bentuknya yg sempurna. Tiba-tiba hujan turun, kamipun berlarian keluar, namun hujan makin deras hingga kami berteduh di Pertokoan yg memajang bermacam barang seni dan oleh-oleh. Mungkin sekitar 45 menit kami berteduh, walau hujan belum berhenti, kami terobos saja hujan untuk menuju ke parkiran mobil. Tanah lot kami tinggalkan, walau ada semacam ketidakpuasan karena waktu yang sempit untuk menikmati sunset di Tanah Lot, namun aku berharap akan kembali suatu hari nanti. Di perjalanan pulang kami merasa tidak enak hati karena telah meninggalkan Hasril sekian lama, sempat terpikir, apakah dia akan marah nantinya atau bermacam pikiran seandainya dia masih belum kemabali juga ke hotel. Namun ketika hendak memasuki parkiran hotel, kami lega melihat dia telah duduk santai menunggu kepulangan kami. Dan ketika mendengar kabar darinya, ternyata dia semalam bergadang dan berenjoy ria di Bounty Café yang ada di jl Legian, namun ketika pulang dia mencoba berkeliling sejenak berjalan kaki namun tersesat hingga tidak tahu jalan menuju kembali ke Hotel. Dan sampai saat ini, dia belum makan pagi, siang dan malam karena sudah kehabisan uang, puih!!!. Mendengar ceritanya kami terbahak namun sedih juga melihat teman seperjalanan yg belum makan seharian ini. Kusarankan Hasril untuk membeli Junk Food Mc Donald (Rp 20rb) yang ada didepan pantai Kuta, tepatnya disebelah Hard Rock Hotel. Selesai menemani Hasril dinner kami nikmati sejenak udara malam di PantaiKuta, sambil melihat pasangan kasmaran yg tak merasakan dinginnya air, bercengkerama bermain air di pantai lalu kami susuri jalanan di Legian yang dijejali toko-toko dan tempat hiburan sambil melihat geliat kehidupan malam yang panas menyiratkan makna seakan malam tak pernah berakhir. Didepan Bounty Café ada warung yang menjual nasi bungkus murah meriah yang enak rasanya dilidah untuk pengganjal perut. Kami nongkrong makan disitu sambil menikmati musik live yang menghentak keras dari tempat hiburan disekitar Legian. Botol bir (Rp 20rb) ditangan bule meggoda Hasril untuk ikut mencicipinya. Setelah puas melihat bule berjojing ria, kami pamit dengan bapak si empunya warung dan menyusuri malam dengan berjalan kaki mengelilingi Pedestrian way di Pantai Kuta untuk kembali ke hotel dan bermimpi indah…
Hari ke-Sembilan
Jika di Medan, orang ber Tattoo identik dengan preman, ternyata sama sekali jauh dari sangar pemuja Tattoo di Bali. Disini, seni dan budaya benar-benar dijunjung tinggi. Pusat perbelanjaan, Hotel dan Kafe berada dalam jarak yang berdekatan, dibangun tidak menutup jarak pandang dengan garis pantai yang rapat dengan pepohonan, mudah ditempuh dengan berjalan kaki di pedestrian way yang nyaman, sungguh sangat seimbang dengan lingkungannya. Dan bila kuat untuk tetap terjaga, banyak aktifitas yang dapat dilakukan. Golf, Snorkling, Diving, Shopping, Dancing, Clubbing dll.
Kami lihat para bule berkemas mengepak papan selancarnya, rupanya mereka hendak pulang ke kampung halamannya. Setelah berbual-bual sejenak, kami turun makan (Rp 40rb) ke Pantai Kuta ditempat kami makan kemarin pagi, namu kali ini plus Hasril. Disini kami ketemu dengan anak Medan tepatnya di kawasan Perumnas Simalimgkar bernama Roy bersama abangnya yang baru menetap 2 tahun di Bali. Mereka anak-anak pantai yang hidupnya dari menyewakan papan selancar dan menjual minuman ringan sambil sesekali menemani cewe bule untuk jadi gaet atau teman kencan. Disini aku menemukan bentuk kehidupan lain yang merupakan realita kehidupan yang merupakan mata rantai yang menunjang tetap berkibarnya Pariwisata di Bali. Kami memesan minuman dan berbagi cerita tentang kehidupan anak-anak pantai, namun, walau rasanya masih ingin berlama-lama menikmati suasana pantai di KutaBeach, waktu tak bisa kami hindari, kami harus pulang. Walau sesaat, suasana sudah sangat terasa akrab dan terjalin dengan baik, oleh karenanya mereka sangat berterimakasih ketika Teh Botol yang kami minum 3 buah, kubayar dengan uang 50rb, tanpa meminta uang kembaliannya. Sebelumnya aku membeli busur dan panah (Rp 150rb) Kalimantan untuk oleh-oleh dibawa pulang. Di Pedestrian way menuju hotel banyak toko yang menjual oleh-oleh. Beberapa kali kami singgah namun harga terasa mahal jadi kami hanya membeli seadanya saja. Setelah merekam gambar sejenak di Monumen Tragedy bom bali yg menewaskan 202 orang yang kebanyakan warga Australia, kami singgah sebentar di warung bapak yang aku lupa namanya didepan Bounty Café untuk membeli makanan (Rp 25rb) sebagai persiapan kami dijalan menuju pulang. Setelah membayar kamar berikut charge karena penambahan waktu (Rp 120rb) kami berangkat pulang, namun sempat juga berkeliling sekali mengitari pantaikuta lalu tancap gas menuju Gilimanuk. Di perjalanan pulang aku singgahi sebuah took buku untuk membeli peta pulau Jawa dan Bali (Rp 25rb) sebagai panduan karena kami tidak akan melewati jalur Pantura lagi, namun mengambil jalur yang berbeda yaitu melalui pantai selatan yang banyak melewati kawasan pegunungan dan perbukitan.
Thanks pd Kadek Niti atas pernyataannya. Sorry baru saat ini aku menuliskan sedikit penyesalan krn tdk sempat bertatap muka dgn kadek. Krn pd tgl 5 Jan 2009 yg lalu, aku berangkat dgn rencana awal menuju merauke. Dan akhirnya hanya sampai di Bima, & sempat bermalam di Bali.
4 komentar:
Thanks pd Kadek Niti atas pernyataannya. Sorry baru saat ini aku menuliskan sedikit penyesalan krn tdk sempat bertatap muka dgn kadek. Krn pd tgl 5 Jan 2009 yg lalu, aku berangkat dgn rencana awal menuju merauke. Dan akhirnya hanya sampai di Bima, & sempat bermalam di Bali.
Maaf kepada yg menulis buat Munzir, Ucok dan Hasril..Terima kasih atas penghormatannya pd kegiatan kami..tq
Ya..saya ma'af kan.Ga usah nunggu lebaran ! Hahaha...
ha hah aa
Posting Komentar