”Jika tindakan-tindakan anda mengilhami orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, bekerja lebih, dan menjadi lebih baik, anda adalah seorang pemimpin.” John Quincy Adams.
Tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. (Deng Xiaoping (1904-1997), Pemimpin Partai Komunis China.
Orang-orang yg menyukai rapat seharusnya tidak diberi tanggung jawab apapun.
”Allah tidak suka kepada orang yang kalau berbicara tidak mau kalah (hanya mau menang sendiri). Orang semacam ini bagaikan sapi di tempat penggembalaan-nya. Demikianlah Allah memasukkan lidah (lisan) dan muka (wajah) mereka ke dalam neraka.”
Didasari kesadaran untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita dituntut untuk lebih mendekatkan diri kepada alam dalam berbagai bentuk dan cara juga mendekatkan diri kepada sesama manusia dalam bentuk menjalin hubungan silaturahmi sehingga lebih merekatkan diri sambil berukhuwah sembari melebarkan dakwah.
Untuk mencapai misi yang penuh hikmah diatas, harapan semoga tercapai dengan melakukan perjalanan menyisir pulau Sumatra, Jawa dan Bali yang menempuh jarak tak kurang dari 7600 km dengan melalui beragam suku dan adat istiadat penduduk setempat serta menghabiskan masa 17 hari perjalanan.
Program dan schedule yang teringkas apik menjadi panduan kedisiplinan, sehingga terwujud sudah angan umtuk melepas kerinduan dan temu kangen dengan segenap sanak famili dan handai taulan yang tak mampu menghalau binar di mata yang tampak nyata setiap menyambut kunjungan dadakan yang mengusung semangat Natural dan Religius.
Situasi dan kondisi silih berganti bermakna besar sebagai kajian untuk introspeksi diri, bagaimana menyikapi hidup, bagaimana menyikapi kesenjangan hidup, bagaimana memahami diri untuk menyikapi perbedaan kultur budaya hingga sampai bagaimana menyikapi timpangnya ekosistem sebagai kajian untuk menyelamatkan ekosistem kehidupan secara keseluruhan.
Akar Rencana dan Destination pada Hari Pertama
Raga menggeliat, selimut kusibak manakala azan subuh menggema di Sabtu pagi tanggal…di Bulan September 2007, yang membuatku sontak terjaga dari alam mimpi yang telah membawa sukmaku entah kemana. Kuguyur tubuh walau dingin terasa. Air wudhu hangatkan jiwa dan batinku. Basuh kening dan wajah mengharap terhapus dosa. Sujud diatas sajadah pada Dia Maha Pencipta. Perjalanan panjang yang kunanti, kini telah diambang pintu. Sibak lamunan, tepis keraguan, hadapi tantangan untuk rampungkan bekal diperjalanan nanti.
Tepat pukul 11.00 Wib, mesin berderu menambah riuhnya hiruk pikuk lalu lintas kotaMedan. Papan speedometer Toyota Avanza yang telah melalui seleksi mekanik di bengkel resmi, menunjukkan keadaan tangki bensin yang telah terisi full (Rp.175rb) dan angka penunjuk di kilometer 047065 menandakan titik awal dimulainya perjalanan, membawa Ahmad Hamonangan Ritonga alias Ucok, Hasyril Syah yang akrab dipanggil Atin dan penulis sebagai Tim Leader, siap melintasi hamparan gunung dan bukit, sungai dan laut, taklukkan hujan dan kabut, nikmati alam dan rimba yang hadirkan beraneka ragam gugusan pesona.
Sungguh tak dinyana, schedule tour yang padat meyusuri object wisata di Sumatra Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam menjadi landasan Tim untuk mengambil langkah besar, langkah terencana untuk lebih mengenal alam di seantero nusantara. Berbekal pengalaman dan Bismillah, langkah menjadi ringan, fikiran menjadi tenang sehingga dapat membagi dan menyebarluaskan rincian pengalaman Tim Ekspedisi GREENSURVEYOR WAKIL selama dalam perjalanan.
Sumatra Via Lintas Timur
Bhinneka Tunggal Ika. Beragam suku, adat dan bahasa. Adakah rasa di jiwa untuk memperkaya, aneka rupa budaya, istiadat Nusantara. Sempat terbersit pertanyaan ini saat penjaja jalanan menawarkan Kerupuk Jangek (Rp.5rb) yang dipercaya dapat mengurangi gejala penyakit maag, di persimpangan Asrama Haji, Bandara Polonia, Medan.
Pertanyaan tadi tak sempat terjawab saat setengah jam selepas kemacetan akibat pembangunan Fly Over yang menambah semrawut lalu-lintas di simpang Amplas tim memasuki Kota Perbaungan, untuk tunaikan shalat dan membeli nasi bungkus (Rp.49rb) di Restorant Simpang Tiga , tepatnya di pertigaan menuju objek wisata Pantai Cermin.
Sebagai musafir, Tim meringankan waktu dengan menjamak shalat untuk mengantisipasi keadaan jalanan yang tak bisa ditebak. Nasi bungkus yang tak hangat lagi akibat kemacetan di Pusat Kota Serdang Bedagai Tim lahap ketika berangjasana ke pemondokan keluarga di Tebing Tinggi untuk meredam lambung yang telah mengeluarkan irama sumbangnya.
Sejurus kemudian, Tim telah berada kembali dibalik kemudi, bergegas meninggalkan Kota Lemang, melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam melewati perkebunan sawit dan karet menuju Kota Kerang, untuk menghadiri resepsi pertunangan salah seorang rekan sejawat.
Pertigaan Inalum atau Industri Asahan Aluminium kelihatan lengang. Simpan sejuta kebobrokan persoalan lingkungan. Mulai dari pencemaran air, udara dan hutan mangrove yang telah disulap menjadi kebun kelapa sawit.
Melewati Simpang kawat, pintu gerbang menuju Kota Tg Balai yang dulu terkesan gawat dan rawan penyelundupan, suasana kini berubah sangat, terlihat sepi. Kawasan yang dahulu banyak meninggalkan cerita, kini redup tidak menunjukkan geliat, terutama sejak Sutanto resmi menjabat Kapolri, menutup rapat perjudian import pat gulipat.
Padahal, bila ditangani secara sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin Tg Balai mampu menjadi Hongkong atau Macau kedua yang mampu mengembangkan pelabuhan bertaraf internasional, terutama bila pemerintah punya kemampuan mengoptimalkan SDM, SDA dan benar-benar berperan aktif dalam menelurkan kebijakan dan memihak pada rakyat dalam menerbitkan peraturan perundang-undangan dengan menerapkannya secara transparan dan akuntable.
Namun kondisi hutan bakau dikawasan pesisir disini jauh lebih parah dari 800 hektar hutan bakau di Desa Lubuk Bansi Kecamatan Seuruway Kabupaten Aceh Timur yang telah luluh lantak dialihfungsikan menjadi lahan kelapa sawit.
Pukul 18.00 menjelang maghrib Tim tiba di penginapan tempat kerabat Atin berkumpul menyempatkan diri bersilaturahmi sejenak, untuk selanjutnya menuju ke rumah saudari Tiwi calon mempelai saudara Atin. Berhubung hari telah beranjak malam, untuk mempersingkat waktu, setelah tunaikan shalat dan makan malam, doa restu kami pohonkan pada sanak keluarga atas kerelaannya melepas keberangkatan, terutama pada calon mempelai wanita, berhubung keikutsertaan calon mempelai pria tunaikan visi dan misinya untuk melakukan perjalanan kembali.
Jam tunjukkan pukul 20.00 Wib, ketika masuki SPBU (Rp.160rb) beberapa menit di luar kota Tg. Balai. Dari sini Tim bergerak sedikit ekstra hati-hati berhubung kakak dari saudara Atin, Hasnita yang sedang sakit parah ikut menumpang ke Pekan Baru.
Setelah shalat Isya sambil menghirup udara segar sejenak di Masjid Rantau Prapat, perjalanan Tim lanjutkan kembali menempuh jalanan jelek berlubang melalui iring-iringan mobil tangki dan truk-truk intercooler yang membawa kayu gelondongan menuju Pabrik Kertas RAPP. Sejenak berhenti mengambil beberapa momen penting terkait Illegal Logging seperti tumpukan kayu gelondongan yg tersusun rapi di depan kantor Polisi sepanjang jalan.
Memasuki Subuh, setelah sempat sekali rehat ngopi sejenak (Rp.16rb) jelang dini hari, sempat ku tertegun saksikan bangunan hijau berarsitektur ciamik, Masjid Al-‘Arafah yang berdiri megah di Indragiri, Duri, Kabupaten Bengkalis. Moment ini sayang untuk dilewatkan untuk sejenak bertafakkur hingga hangat pagi menjelang.
Memasuki pusat kota Duri, SPBU disambangi karena papan speedometer menunjukkan jarum yang mendekati empty. Usai pengisian (Rp.178rb), Tim plus Hasnita sarapan pagi bersama (Rp.17rb) sambil menikmati suasana kota dan keramahan masyarakat Duri.
Baru sekira empat jam menempuh perjalanan usai sarapan di Indragiri, Ucok terperangah ketika memasuki kota Pekan Baru, 10 tahun berlalu dan kini…
“Tak disangka tak diduga, Pekan Baru memang ok punya”, ujarnya. Gaya arsitektur yang bernuansa melayu, kental menyelimuti seluruh kota. Wajar menjadi sarana Convention Wisata tempat penyelenggaraan berbagai Festival.
Pekan Baru memang mempunyai konsep yang jelas dalam penanganan tata kota dan tata bangunan dengan memadukan gaya arsitektur secara menyeluruh dengan mengacu pada adat dan budaya melayu nya, seakan menyiratkan kesatuan pandang dan kebersamaan pihak eksekutif dan legislatif untuk kemajuan masyarakat yang di wakili. Untuk sekedar diketahui, salah seorang yang berperan besar dalam pembangunan kota Pekan Baru adalah Bapak Kaharuddin Nasution mantan Gubernur Sumatra Utara yang kini di tabalkan namanya pada salah satu ruas jalan di Pekan Baru.
Negara kepulauan Indonesia banyak miliki potensi destinasi tersembunyi. Magnet turis lokal dan asing. Sayang sungguh disayang, kurangnya syiar dan syair, turis pun tak tahu kemana akan pergi.
Usai menghantar saudari Hasnita dan mengisi kembali bensin (Rp.135rb), sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota berikutnya, Tim lapar mata dan singgah untuk mencicipi mie ayam (Rp.31rb) di pojok kota Pekan Baru.
Riau ibarat siang dan malam, ada gelap ada terang. Disatu sisi menunjukkan kemegahannya, namun, disisi lain menunjukkkan kehancurannya. Pembangunan kota di satu sisi, penggundulan hutan di sisi yang lain. Bagaimana tidak, sepanjang lintas sumatra, perbatasan Riau, Duri terutama kabupaten Pelalawan yang menjadi saksi kejamnya perbuatan manusia merusak bumi. Apakah mereka tidak menyadari Iklim bumi yang terus meningkat, mencairnya es di kutub utara yang berimbas pada peningkatan volume air laut. Penyebab semua ini adalah akibat eksploitasi perut bumi yang terlalu berlebihan. Penggunaan minyak bumi, batubara, penebangan pohon dan pembangunan yang tidak memperhatikan alam lingkungan akan menyebabkan bencana maha dahsyat pada kehidupan generasi mendatang. Apa mau dikata, segelintir orang kenyang menikmati, generasi mendatang “Emang Gua Pikirin !!!”.
Sudah saatnya kita bertindak dengan cara-cara yang elegan untuk mendesak aparatur pemerintah agar bertindak tegas dengan secepatnya memeriksa sejumlah pejabat terutama kepala pemerintahan yang terlibat illegal logging tanpa takut terhadap tekanan politik serta bertindak adil terhadap oknum aparat yang jadi beking atau bahkan cukong kayu itu sendiri.
“I want to Pee”, teriak Atin usik lamunan. Segera setir ku belokkan di SPBU tepat di sebelah pintu gerbang menuju Pusat Kota Pelalawan. Udara panas menyengat, terhampar bukit tandus minus pepohonan. Ku teguk Lasegar (Rp.22rb) hilangkan dahaga singkirkan gerah..
Fajar menyingsing di ufuk timur, pertanda maghrib akan segera tiba. Belokkan kemudi tunaikan shalat di Simpang Japura. Lanjutkan ngopi (Rp.30rb) dan makan malam (Rp.35rb) pengganti tenaga hapuskan penat sebelum lintasi malam, hutan dan pekat.
Pak Polisi tegak berdiri di tiap sudut simpang Kota Jambi. Belokkan kemudi mengisi kekosongan tangki (Rp.135). Hati riang tak terperi, memasuki halaman kediaman kerabat di kota ini. Puas menikmati teh kayu aro produksi PTPN VI Jambi, usai regangkan tangan dan kaki, tak lupa jejalkan perut, semangkuk penuh indomie, perjalananpun dilanjutkan kembali. Rombongan Yusuf Kalla yang berkunjung ke Sekolah Kepolisian Negara di kota ini, seakan mengiringi kepergian kami.
Pepohonan karet di perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan cukup rindang temani makan siang dibawah pohonnya. Bermodal selembar tikar yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya, serta nasi bungkus yang dibeli (Rp.34rb) berselang baru lalu, tim makan dengan lahap diselingi canda riang dan tawa……semoga terulang kembali pengalaman mengesankan ini?
Kemacetan akibat perbaikan jalan yang menyambut ketika azan maghrib berkumandang di Masjid Raya yang berseberangan dengan jembatan Ampera di pusat kotaPalembang bukanlah menjadi halangan untuk merajut tali silaturahmi yang selama ini terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Namun takdir berkata lain, via telepon Tim mendapat kabar keberadaan kerabat yang hendak dikunjungi ternyata sedang berada di Padang, Sumatera Barat. Ba’da Maghrib, Tim menyusuri seputaran kota dan kaki lima menuju Jembatan Ampera yang tidak jauh dari Masjid Jami’ dengan berjalan kaki.
Jembatan Ampera jembatan penuh sejarah, sedang giat berbenah agar layak menjadi ikon kotaPalembang. Lampu-lampu bertebaran menerangi suasana malam, perahu dan sampan hilir mudik berhiaskan lampu berkelap-kelip, pendar cahaya temaram silaukan sungai Musi nan penuh pesona.
Masuk Angin akibat zat asam lambung yang meningkat membuat Atin sedikit emosi dan memaksa Tim singgah ke apotik di kotaPalembang sebelum kami makan malam. (tips: Makanlah teratur & siapkan snack di perjalanan).
Insiden kecil sempat terjadi setiba di warung asri setelah sebelumnya ketika hendak singgah di warung pecel lele, selera makan tiba-tiba hilang melihat anjing yang mendengus-dengus di dekat meja makan. Mungkin karena sudah capek, sebelum makanan sampai dimeja, tiba-tiba ucok nyeletuk mengatakan "Aku nggak percaya kalo itu maag", spontan Hasril marah dan berkata “aku bukan Preman”.. Aku pun terkejut, kok dari masalah maag jadi masalah preman.? Aku netralisir keadaan dengan meluruskan ucapan Hasril sembari berkata, “ jangan marah dulu, ucok kan hanya mau membahas, apa- apa yg pernah dokter periksa atau kemana saja dia pernah berobat?.. bukannya tiba-tiba malah marah yg tak tau juntrungannya. Kulihat wajah Ucok yg memendam amarah, tapi masih mampu ditahannya, dan ketika Hasril hendak mengucapkan sesuatu, ketus dia menjawab,” udah, makan aja!!!”.Setelah membayar makanan (36rb) kami pun melanjutkan perjalanan dengan suasana dingin di tengah udara malam yang dingin. Perjalanan masih panjang…….
Sensasi yang cukup bermakna walau sesaat telah jauh dibelakang meninggalkan sungai Musi. Usai isi Bensin (Rp.119rb) di Indralaya, sepertinya mata sudah tidak bisa diajak berkompromi, namun tiba-tiba kami dikejutkan kejadian tabrakan antara kijang inova yg ternyata berplat BK (Medan) kontra truk coltdiesel di perjalanan menuju lampung. Mengerikan sekali, kejadian ini membuat kami menjadi lebih berhati-hati.
Setelah melalui macet panjang akibat kecelakan maut, perjalanan dihadapan hanya gelap dan gelap sehingga rasa kantuk kembali menyerang, lihat jok belakang, rekan seperjalanan pada ngorok semua, daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, mobil disinggahi ke sebuah rumah makan untuk minum kopi (Rp.36rb) dan mengistirahatkan tubuh & mata. Sekitar 2 jam kemudian, perjalanan dilanjutkan walau tidak lama kemudian kami berhenti kembali untuk sarapan pagi (Rp.10rb) di sebuah SPBU saat hangat pagi bergulir menyentuh kulit menerangi Taman Nasional Way Kambas, yang berdekatan tempat pelatihan gajah di Lampung Timur.
Kami tinggalkan SPBU tanpa mengisi bensin menuju pelabuhan yang jaraknya masih jauh. Di Lampung, Tim menemui pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) perajin bambu dan tepas disepanjang jalan negara menuju Pelabuhan penyeberangan Bakauheni. Matahari tepat di ubun, kala kenderaan tim merambat geladak kapal yang tertambat diBakauheni - Merak setelah membayar tiket feri sebesar Rp 165 rb/mobil.
Nasi bungkus (Rp15rb) di Ferry menjadi pengganjal perut kami, sambil sesekali layangkan pandangan ke laut lepas, mengagumi alam ciptaan Tuhan. Tidak lama kemudian, kami yang beristirahat di ruang eksekutif (Rp.15rb) minus Atin yang entah kemana, mendengar kapal akan bersandar. Beberapa dari anggota tim yang belum pernah menginjakkan kaki di pulau jawa telah mempersiapkan handycam sebagai saksi dan dokumentasi GREENSURVEYOR Pulau Sumatera, Jawa & Bali.
Banyak berjalan banyak dilihat, dari gunung sampai ke pantai, tidak hanya laut pantai selatan, tapi juga laut pantai utara. Seiring perut kapal bersandar, membuncah hasrat ‘tuk menjelajah, membuncah hasrat untuk menyusurinya. Begitu menjejakkan kaki di Tanah Jawa, sejenak hirup udara yang terasa nyaman walau polusi sesakkan dada.
Di rembang petang, kemudi mengarah ke jalur Pantura, masuki gerbang tol Jakarta-Cikampek (Rp.27rb). Disini ketahanan fisik, psikis dan kesolidan tim diuji, jarak dan waktu yang telah dan akan dilalui menyelimuti benak masing-masing peserta saat kenderaan berbelok menuju sebuah SPBU megah yang mempunyai konsep One Stop Solution, untuk kembali mengisi tangki yang memang sudah kosong (Rp.148rb).
Bulan Purnama langit Cikampek hantar diri ‘tuk rehat sejenak disebuah masjid ditemani masing-masing sebungkus nasi yang kami beli (Rp.36rb) di pintu keluar tol Cikampek. Sambil mendengar ceramah dari khatib yang sedang mengisi pengajian seusai tunaikan shalat, Tim sempatkan diri berbincang bareng pemudik yang juga sedang istirahat sambil menggali informasi jalur terbaik yang akan kami lalui. Selagi asyik berbincang, Tim melihat kedatangan pasangan suami istri yang baru mengalami kecelakaan sepeda motor yang berjalan terpincang-pincang menggendong bayinya yang alhamdulillah tidak mengalami luka sedikitpun. Setelah energi raga dan rohani terkumpul, Ba’da Isya perjalanan pun dilanjutkan menuju Indramayu.