Selasa, 18 April 2023
Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu,
Fudhail bin Iyadh (seorang ulama besar) berkata kepada seseorang yang telah mencapai umur 45, 55, 60, 70 tahun, Maka nasihat Fudhail kepadanya : Berarti kamu sekarang berjalan menuju kepada Tuhanmu dan hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa-dosamu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus...!
Maka para alim ulama memberi nasihat cara menjalani umur yang sudah mencapai 45, 55, 60, 70 tahun:
1. JANGAN banyak BERGURAU dan terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat
2. JANGAN berlebih-lebihan, BERHIAS, BERSOLEK, dan BERPAKAIAN
3. JANGANLAH BERLEBIH-LEBIHAN makan, minum, dan berbelanja barang yang kurang diperlukan untuk mendukung amal soleh
4. JANGAN BERKAWAN dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal kepada kita
5. JANGAN banyak berjalan dan MELANCONG ke sana sini tanpa MANFAATNYA yang dapat mendekatkan diri pada kehidupan akhirat
6. JANGAN gelisah, berkeluh kesah, dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dengan rasa sabar dan bersyukur
7. PERBANYAK doa mengharap keredhaan ALLAH agar husnul Khatimah (màti dalam kesudahan yang baik) dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah (màti yang tak baik)
8. TAMBAHKAN ilmu agama, perbanyak mengingat kemàtian, dan bersiap menghadapinya
9. Siapkan/tuliskan WASIAT yang berguna untuk kaum kerabatmu
10. Kerap menjalin SILATURAHIM dan mendekatkan hubungan yang telah renggang sebelumnya
11. MINTA MAAF dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah dizalimi
12. TINGKATKAN amal SOLEH terutama amal yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita màti
13. MAAFkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu
14. Bereskan segala HUTANG yang ada dan jangan buat HUTANG BARU walaupun untuk menolong orang lain
15. Berhentilah dari melakukan semua MAKSIAT!!!
16. MATA, berhentilah memandang yg tidak halal bagimu
17. TANGAN, berhentilah dari meraih yang bukan hak mu
18. MULUT, berhentilah makan yang tidak baik dan yang tidak halal bagimu, berhentilah dari GHIBAH (mengumpat ), FITNAH, dan berhentilah menyakiti hati orang lain
19. TELINGA, berhentilah mendengar hal-hal haram dan tak bermanfaat
20. Berbaik sangka lah kepada ALLAH atas segala sesuatu yang terjadi dan menimpa
21. Penuhi terus hati dan lisan kita dengan istighfar & taubat untuk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat dan setiap waktu
22. Banyakkan bersedekah dan sucikan harta dengan mengeluarkan zakat
Semoga bermanfaat bagi kita semua dan ALLAH lindungi kita dari segala musibah.
Aaminn.
SALAH SATU SIFAT PENGHUNI SURGA ADALAH SUKA MENGALAH
بِسْـــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
Tentang Qabil dan Habil, membuat sy menarik satu kesimpulan.
Bahwa salah satu sifat orang yang baik, calon ahli surga dan yg amalannya diterima oleh Allah adalah orang yang ngalahah, suka mengalah, gampang dan longgar.
Tidak suka membalas kejelekan orang lain dan mampu menahan sakit hati.
Sebaliknya, sifat orang yang tidak disukai oleh Allah adalah orang yang ambisius, merasa paling benar berdasarkan hawa nafsunya, memanjakan dorongan hasadnya, melakukan hal-hal tanpa banyak pertimbangan syariat sehingga menyebabkan dia menjadi nekad, dan suka menyalahkan orang lain atas nasib buruk yang menimpanya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, "Sungguh, aku pasti membunuhmu!" Dia (Habil) berkata, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.""
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 27)
"Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.""
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 28)
"Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.""
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 29
"Maka, nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 30)
Saat Allah mensyariatkan pernikahan silang antar saudara kembar pada anak anak Nabi Adam, Qabil menikah dengan saudara Habil dan Habil menikah dengan saudara Qabil, Qabil tidak terima. Dia merasa lebih berhak atas saudari kandungnya yang lebih cantik dibanding saudari Habil.
Mengetahui hal itu, Nabi Adam menyuruh dua anak lelakinya untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima oleh Allah maka dia berhak menikah dengan saudari Qabil yg cantik.
Habil yang bertakwa memberikan kambing terbaiknya karena dia adalah seorang peternak. Bukan agar memenangkan taruhan utk menikah dengan wanita tercantik. Tetapi memang karena jiwanya yg bersih dan bertakwa sehingga ia ingin memberi yg terbaik untuk Allah. Sedangkan Qabil, yang bekerja sebagai petani, memberikan buah-buahan yang kurang baik.
Diterimalah kurban Habil karena memang Allah hanya menerima yang baik-baik. Qabil, yang ambisius, marah dan ingin membunuh Habil. Dia lupa daratan. Lupa bahwa yang menyuruh untuk menikah dengan pernikahan silang itu Allah. Bukan atas keinginan Habil. Nafsu menguasai. Pikirannya diikat dengan kalimat "pokoknya harus aku. Pokoknya aku yang benar".
Bagaimanakah sikap Habil?
Dia tidak melawan meski mampu. Dia bersabar dan berharap pahala. Dia tidak masalah harus mati di tangan saudara sendiri.
Dia tidak mau membalas sebab membalas hanya akan menjadikan dia dan Qabil sama jahatnya. Qabil adalah seorang muslim. Bila Habil melawan dan dia menang berarti dia membunuh seorang muslim terlebih Qabil adalah saudara kandungnya sendiri. Makanya, dia tidak membalas.
Suka mengalah bukan berarti mudah kalah. Diam bukan berarti lemah. Bukan berarti bila dizhalimi tidak usah membela diri. Antara membela diri dengan dihiasi ambisi dan membela diri dengan dihiasi tawakkal itu beda. Bisa dirasakan bahkan oleh lawan.
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjadi pribadi yg seperti Habil.
۞ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ْعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ ۞
ANTARA WAKTU & USIA
*Dunia berputar dan waktu datang silih berganti. Dengan berubahnya waktu, kita mengira bahwa usia kita bertambah, namun sejatinya usia kita berkurang…*
_*Sesungguhnya kita tidak terlepas dari 3 jenis waktu :*_
1⃣ Waktu yang
telah berlalu dan takkan kembali lagi…
2⃣ Waktu yang saat ini kita berada di dalamnya, yang dalam waktu singkat ia pun akan berlalu…
3⃣ Waktu yang akan datang, yang tidak diketahui apakah kita kan bersua dengannya atau tidak…
_*Kita senantiasa berpacu dengan waktu, dan setiap kali ia berlalu, maka berlalu pula usia kita…*_
_*Yang tertinggal hanyalah 2 hal, yaitu dosa atau pahala:*_
1️⃣ _*Dosa yang menyisakan penyesalan, kerugian dan kegelisahan…*_
2️⃣ _*Dan pahala yang menghidupkan semangat baru, keberuntungan dan kegembiraan…*_
*RENUNGAN HIDUP*
Ayat² dalam Al Qur'an selalu relevan dengan kehidupan makhluk sejak Allah menciptakan Makhluk,alam dunia beserta isinya sampai sekarang dan sampai berakhirnya dunia ini, termasuk Ayat Al Qur'an surat 3 ( Ali Imran ) ayat 26 ini, terkait Kekuasaan Allah untuk menaikkan derjad atau menghinakan manusia di dunia ini.
Diatas genggaman Allah lah Kekuasaan itu kepada siapa DIA berikan. Dan diatas Genggaman ALLAH jugalah dicabutNYA kekuasaan itu dari tangan makhluk yg berkuasa di dunia.
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah, Wahai Tuhan yg mempunyai kerajaan! ENGKAU berikan kerajaan kpd org yg ENGKAU kehendak dan ENGKAU cabut kerajaan dari org yg ENGKAU kehendaki. ENGKAU muliakan org yg ENGKAU kehendaki dan ENGKAU hinakan org yg ENGKAU kehendaki. Ditangan-MU lah segala kebaikan. Sesungguhnya ENGKAU Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Allah dalam Al Qur'an, berulang kali mengatakan di pengunjung banyak ayat....
"Afala ta'qilun ?"( "Apakah kamu tidak berakal ?")
"Afalatatafakkarun ?"
( "Apakah kamu tidak berpikir ?").
"Afalayatadabbarun ?"
( "Apakah mereka tidak merenung ?").
"Afala Tadzakkarun ?"
( "Apakah kamu tidak mengambil pelajaran ?" ).
"Afala Tubsirun ?" ( "Apakah kamu tidak melihat ?" ).
“Afala Tasma'un ?” ( "Apakah kamu tdk mendengarkan ?").
Maka, ketika kita diberi AMANAH utk menggengam sedikit kekuasaan, berlaku BIJAK dan ADIL lah dalam bertindak dan bersikap. Jangan MENZHOLIMIN, krn Kekuasaan itu tidak ABADI.
Yang ABADI adalah Kebaikan dan Perbuatan Baikmu ketika berkuasa. Karena dia akan dikenang dan dibalas Allah di dunia dan di Akhirat kelak.
Wallahu 'alam bissawab.
Tanya Jawab Seputar ZAKAT dan ZAKAT MAAL
*1. Tanya :*
Apakah syarat wajib zakat maal ?
*_Jawab :_*
_1. Islam_
_2. Merdeka_
_3. Berakal dan baligh_
_4. Hartanya memenuhi nisab_
*2. Tanya :*
Berapa nisab zakat maal untuk harta baik tabungan atau dagangan dan cara menghitungnya ?
*_Jawab :_*
_Untuk harta tabungan pribadi dan harta dagangan sebesar 85gr emas atau setara 72.250.000 (asumsi harga emas Rp850.000)_
_Tabungan= 2,5% x jumlah tabungan_
_Harta dagangan = 2,5% x (Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan - hutang - kerugian)_
*3. Tanya :*
Apakah rumah atau mobil mewah wajib dihitung sebagai harta yang dizakatkan?
*_Jawab :_*
_Hukum asal rumah mewah dan mobil mewah yang tujuan kepemilikannya untuk dipakai sendiri tidak terkena zakat. Namun bila seseorang yang memiliki harta itu bertujuan untuk membisniskannya (jual beli untuk keuntungan) maka wajib dizakati setiap tahun._
*4. Tanya :*
Apakah rumah atau properti lainnya yang disewakan wajib dizakati ?
*_Jawab :_*
_Rumah maupun properti lainnya yang disewakan, tidak dizakati nilai fisiknya. Namun yang dizakati adalah hasil sewanya. Dalam keputusan Majma’ Fiqh Islami tentang zakat sewa tanah._
_Properti yang disewakan, wajib dizakati nilai sewanya saja dan bukan nilai fisiknya._ (Qarar Majma’ al-Fiqhi al-Islami, muktamat ke-11, Rajab 1409 H).
*5. Tanya :*
Bolehkah zakat maal di berikan dalam bentuk selain uang seperti sembako?
*_Jawab :_*
_Zakat Maal haruslah dalam bentuk asal harta tersebut atau nilainya, yaitu dalam bentuk uang. Tidak boleh dirupakan dalam bentuk barang, makanan, pakaian, atau selainnya. Jika terdapat fakir atau miskin yang memang tidak bermanfaat jika diberi uang, misal karena dia gila, atau mengalami keterbelakangan mental, sehingga jika diberi uang kurang bermanfaat baginya, atau malah menimbulkan mafsadat, maka saat itu boleh diberikan benda yang paling dia butuhkan._
*6. Tanya :*
Dan apa harus di ucapkan kalau ini dana zakat?
*_Jawab :_*
_Jika kamu menyerahkan zakat kepada orang yang kamu yakini dia berhak menerima, dengan niat zakat, maka ini menjadi zakat yang sah. Kami berharap semoga diterima oleh Allah Ta’ala. Dan anda tidak harus memberi tahukan kepada penerima bahwa itu zakat._
_(Fatwa Lajnah Daimah, no. 11241)_
_Sekali lagi, ini berlaku jika penerima adalah orang yang kita yakini sebagai pihak yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin atau lainnya._
_Sementra jika ini dititipkan ke lembaga atau yayasan penampung zakat, kita harus memberi tahu. Agar petugas bisa menyalurkannya ke sasaran yang benar._
*7. Tanya :*
Siapa saja penerima zakat?
*_Jawab :_*
_*1. Fakir* (Fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa atau punya sedikit kecukupan tapi kurang dari setengahnya)_
_*2. Miskin* (orang yang mendapatkan setengah kecukupan atau lebih tapi tidak memadai)_
_*3. Amil* (pengurus zakat)_
_*4.Muallaf* (orang-orang yang dibujuk hatinya)_
_*5. Riqab* (hamba sahaya)_
_*6. Gharimin* (orang-orang yang memiliki hutang di jalan Allah dan tidak sanggup_ membayarnya)
_*7. Fi sabilillah*(orang yang berjuang dijalan Allah)_
_*8. Ibnu sabil*(Orang yang dalam perjalanan karena Allah yang tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya)_
*8. Tanya :*
Bagaimana zakat maal yang dibagikan langsung ke anak-anak SMP dhuafa berupa uang tanpa melalui orang tuanya ?
*_Jawab :_*
_Jika memang anak SMP telah mumayyiz (akil baligh) dan termasuk dalam golongan yang berhak menerima zakat maka dibolehkan._
*9. Tanya :*
Apabila kita membayar zakat melalui panti asuhan yatim piatu apakah itu sah secara hukum Islam?
*_Jawab :_*
_Pada dasarnya, anak yatim tidak termasuk orang yang berhak menerima zakat. Akan tetapi bila anak yatim itu tidak mampu maka ia berhak menerima zakat. Jadi, yang menjadikan seorang anak yatim bisa menerima zakat bukan karena statusnya sebagai yatim, tapi sebagai orang yang tidak mampu._
*10. Tanya :*
Apakah boleh seseorang menyalurkan zakat untuk kakek kandung, nenek kandung, orang tuanya, istri, anak, atau cucunya?
Tidak boleh bagi seorang muslim mengeluarkan zakat untuk kedua orang tua kandung sampai ke atas (kakek dan nenek kandung) dan juga tidak boleh pula untuk anak-anaknya sampai ke bawah (cucu kandung). Bahkan kewajiban dia adalah memberi nafkah untuk mereka dari hartanya jika mereka butuh dan ia mampu untuk memberi nafkah. (Fatawa Al Mar-ah Al Muslimah, terbitan Darul Haytsam, cetakan pertama, 1423 H, hal. 168)
*_Jawab :_*
_Pada prinsipnya, zakat tidak boleh disalurkan kepada orang yang biaya hidupnya masih menjadi kewajiban/tanggungan muzaki._
*11. Tanya :*
Apakah boleh memberikan zakat kepada keluarga istri misalnya mertua, kakak ipar, atau adik ipar yang dipandang menjadi golongan penerima zakat?
*_Jawab :_*
_Memberikan zakat kepada mertua dan saudara ipar dibolehkan._
_Dikarenakan mertua atau keluarga istri secara umum, bukan termasuk orang yang wajib dinafkahi oleh seorang suami. Meskipun dianjurkan bagi suami untuk memperhatikan keadaan keluarga istrinya, sebagai bentuk mu’asyarah bil maruf (melakukan interaksi yang baik) kepada istrinya._
*12. Tanya :*
Bolehkah seorang istri berzakat kepada suami sendiri yang termasuk golongan mustahik zakat?
*_Jawab :_*
_Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan, tidak ada masalah bagi wanita yang mengeluarkan zakat perhiasan atau zakat lainnya kepada suami yang fakir atau memiliki utang yang tidak mampu dilunasi. Jika harta cukup nishab maka wajib zakat. Atau tidak berdosa istri memberi zakatnya kepada orang yang bukan menjadi tanggungan nafkahnya termasuk suami. Jadi, diperbolehkan menyalurkan zakat kepada suami dalam keadaan membutuhkan._
_Menurut jumhur ulama, suami bukanlah tanggungan istri dalam mencari nafkah, sehingga diperbolehkan berzakat kepada suami yang fakir._
*13. Tanya :*
Apakah boleh zakat disalurkan kepada kakak dan adik kandung sendiri?
*_Jawab :_*
_Muzakki boleh menyerahkan zakatnya kepada selain yang wajib dinafkahi, maka dari itu penyerahan zakat kepada saudara laki atau perempuan yang kurang mampu dibolehkan. Bahkan menyerahkan zakat ke mereka nilainya lebih utama. Karena di sana ada unsur membangun jalinan silaturahmi._
_(Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, no. 6695)._
*14. Tanya :*
Bolehkah memberikan zakat kepada paman, bibi, saudara kakek atau nenek atau keponakan ?
*_Jawab :_*
_Boleh dengan syarat kerabat tersebut bukan termasuk orang yang wajib kita nafkahi. Jika kerabat tersebut termasuk orang yang wajib kita nafkahi, maka tidak boleh menerima zakat dari kita._
_Boleh memberikan zakat maal kepada kerabat yang miskin. Bahkan memberikan zakat kepada kerabat, lebih diutamakan daripada memberikannya kepada orang lain._
_Sesungguhnya zakat kepada orang miskin nilainya zakat (saja). Sedangkan zakat kepada kerabat, nilainya dua : zakat dan silaturahim._
(HR. Nasai, Dariri, Turmudzi, Ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani)
Semoga bermanfaat.
(Dirangkumkan dari berbagai sumber)
AL QUR’AN, RAMADHAN, AKAL, DAN ILMU
Oleh: Zulkarnain Lubis
(Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Rektor Institut Bisnis IT&B)
_*Naskah dikirim ke Redaksi Waspada untuk dimuat di rubrik opini dalam menyambut Lailatur Qadar Ramadhan 1444 H*_
Kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan yang sering diperingati sebagai Nuzulul Qur’an. Nuzulul Qur’an ini oleh beberapa ulama dan pakar astronomi diyakini terjadi pada malam tanggal 17 Ramadhan yang dinyatakan sebagai peristiwa Al Qur’an diturunkan pertama kali ke muka bumi sebagai petunjuk bagi manusia, penyempurna kitab-kitab suci yang sudah ada sebelumnya, dan sumber pokok seluruh ajaran Islam baik yang menyangkut aqidah, syariah, maupun akhlak. Peristiwa pertama kali turunnya Al Qur’an tersebut terjadi di Gua Hira, melalui malaikat Jibril, dan diterima langsung oleh Nabi Muhammad. Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut adalah Surat Al ‘Alaq ayat 1-5 dan dengan turunnya ayat ini menjadi tanda awal kenabian Muhammad serta menjadi awal dari perjuangan menyebarkan agama Islam di jazirah Arab dan ke segala penjuru dunia. Di Indonesia, peringatan Nuzulul Qur’an tersebut dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti mengadakan ceramah agama, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al Qur’an, dan sebagainya. Sejak peristiwa tersebut, Malaikat Jibril kemudian menurunkan Al Qur’an tersebut kepada Rasulullah secara bertahap dan berangsur, ayat demi ayat, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari dan ayat terakhir yang turun adalah surat Al Maidah ayat 5 yang turun sesudah waktu Ashar pada hari Jumat di Padang Arafah saat musim haji terakhir. Dengan turunnya ayat terakhir tersebut, lengkap sudah Rasulullah menerima al Qur’an dan ayat sekitar 83 hari kemudian beliau dipanggil Allah untuk selama-lamanya.
Selain peristiwa Nuzulul Qur’an, peristiwa lain terkait dengan turunnya Al Qur’an yang senantiasa diperingati dan dinanti oleh semua umat Islam adalah Lailatur Qadar. Istilah Lailatul Qadar berasal dari dua kata bahasa arab yakni “lailatun” yang artinya “malam” dan “qadrun” yang artinya “kemuliaan”. Lailatul Qadar adalah malam yang agung sehingga tidak terjangkau oleh nalar manusia dan malam Lailatul Qadar hanya Allah swt yang mengetahuinya. Firman Allah dalam Al Qur’an surah Al-Qadr Ayat 1-5 menjelaskan tentang kemuliaan Lailatur Qadar tersebut yang disebutkan sebagai malam diturunkannya Al Qur’an pada malam kemuliaan yang lebih lebih baik dari seribu bulan, turun malaikat-malaikat, dan merupakan malam yang penuh kesejahteraan sampai terbit fajar. Pendapat yang paling populer adalah Lailatul Qadar terjadi di salah satu malam pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah saw senantiasa mengisi sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan beritikaf, sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah, mengatakan kalau Nabi Muhammad akan membangunkan seluruh keluarganya di malam hari pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam sebuah hadist lain, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw melakukan i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah mewafatkannya, kemudian istri-istrinya juga mengikuti untuk beri'tikaf.
Meskipun kedua peristiwa di atas yaitu Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar sama-sama dinyatakan sebagai peristiwa turunnya Al Qur’an, tidak ada pertentangan di dalamnya, dan kedua-duanya betul terkait dengan turunnya Al Qur’an. Perlu diketahui bahwa turunnya Al Qur’an terjadi dalam dua fase, yaitu fase pertama adalah malam diturunkannya Al Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia yang diturunkan sekaligus dalam satu malam yang disebut dengan Lailatur Qadar, serta fase kedua adalah turunnya Al Qur’an pertama kali dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Proses diturunnya Al Qur’an melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dilakukan secara bertahap ayat per ayat yang berakhir di Padang Arafah saat Rasulullah melaksanakan haji terakhir. Awal diturunkannya Al Qur’an oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad inilah yang disebut dengan Nuzulul Qur’an sebagaimana dijelaskan sebelumnya.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa Al Qur’an sangat dekat dengan Ramadhan, karena dua peristiwa penting sebagaimana diuraikan di atas yang berkaitan dengan Al Qur’an terjadi pada bulan Ramadhan. Oleh karena pantaslah kiranya bulan Ramadhan disebut juga dengan syahrul Qur'an di samping beberapa nama lainnya seperti syahrul qiyam, syahru ad du'a, syahru ar rahmah, syahrul maghfirah, syahrul ash shodaqah, syahrul baraqah, dan syahrut tarbiyah. Sehubungan dengan itulah kita perlu lebih intensif berinteraksi dengan Al Qur’an pada bulan ini, dengan harapan intensitas interaksi tersebut berlanjut sesudah selesai Ramadhan, sehingga dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya semakin dekat kehidupan kita dengan Al Qur’an, karena sesungguhnya bagi kaum muslim, berinteraksi dengan Al Qur’an adalah suatu kewajiban.
Ada minimal tujuh cara untuk berinteraksi dengan Al Qur’an mulai dari sekedar mendengarkan dan menyimak, membaca dengan tartil, menjaga dan menghafalkan, mentadabburi, belajar sekaligus mengajarkan dan mendakwahkan, mengamalkan dalam kehidupan, membela sampai kepada mensyiarkan. Melalui interaksi yang intensif dengan Al Qur’an tersebutlah fungsi Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, sebagai penyempurna kitab-kitab suci sebelumnya, dan sebagai sumber pokok seluruh ajaran Islam baik aqidah, syariah, maupun akhlak bisa implementasikan. Melalui interaksi yang intensif dengan Al Qur’an tersebut juga akan bisa memanfaatkannya secara lebih rinci yaitu menjadi Al Huda (petunjuk), Al Furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil), Al Burhan (bukti kebenaran), Al Dzikr atau Al Tadzkirah (peringatan), Al Syifa (obat penyembuh), Al Mau’idhah (nasihat, pelajaran), Al Rahmah (rahmat), Al Nur (cahaya), Al Bayan (keterangan), Al Balagh (keterangan yang cukup), Al Bashair (bukti atau keterangan yang jelas), Al Busyra (berita gembira), Al Basyir (pemberi kabar gembira), dan Al Nadzir (pemberi peringatan).
Berbagai fungsi Al Qur’an di atas` terkait dengan berbagai sebutan lain tentang Al Qur’an seperti Al Kitab, Al Mubin, Al Karim, Al Kalam, Al Nur, Al Huda, Al Furqan, Al Syifa, Al Haqq, Al ’Ilm dan sebutan lainnya. Salah satu di antara nama tersebut adalah Al ’Ilm karena Al-Qur’an dijadikan sebagai menjadi sumber ilmu pengetahuan. Al-Qur’an tidak hanya mengatur urusan masalah ubudiyah saja, tetapi juga memuat ayat-ayat yang berhubungan dengan sains dan teknologi. Banyak ayat Al-Qur’an yang memberikan isyarat tentang berbagai bidang ilmu seperti biologi, kedokteran, fisiologi, pertanian, sejarah, arkeologi, arsitektur, astronomi, astropologi, antropologi, geografi, mineralogi, kosmologi, fisika, kimia, matematika, ekonomi, psikologi, sosiologi, serta bidang ilmu lainnya. Intinya, Al Qur'an selain berisi hubungan antara manusia dengan Penciptanya, juga mengandung berbagai pelajaran mengenai, kehidupan dan pergaulan manusia, petunjuk mengenai hubungan antar sesama manusia, hubungannya dengan makhluk lain dan hubungan manusia dengan alam semesta, termasuk mengelolanya. Munculnya ilmiawan-ilmiawan muslim beserta kara-karya besar serta temuan ilmiah mereka terutama di abad ke-7 sampai abad ke-14 adalah bersumber dari ayat-ayat Al Qur'an. Melalui Al Qur'an, para kaum terdidik dan terpelajar muslim mengetahui bahwa awan yang terbentang di udara, hujan yang tercurah dari awan, bintang yang gemerlapan di langit biru, bulan dan matahari, seluruh jagad diciptakan untuk kepentingan manusia yang berakal dan berfikir. Para ilmiawan masih bisa menggali lebih jauh dari ayat-ayat dalam Al Qur’an untuk meningkatkan kemanfaatan bagi umat manusia seperti misalnya penyebutan beberapa hewan, yaitu unta, sapi, domba, laba-laba, lebah, gajah, lalat, burung gagak, kuda, rayap, burung hud-hud, semut, anjing, keledai, serigala, ular, bahkan babi. Begitu juga dengan beberapa tumbuhan yang secara khusus disebutkan, yaitu tin, zaitun, kurma, anggur, delima, labu, dan pisang. Pastilah Allah mencantumkan nama hewan dan tumbuhan tersebut memiliki tujuan yang perlu digali oleh manusia dengan akal, pikiran, dan ilmu.
Dunia memang mengenal beberapa nama besar ilmiawan muslim yang berkontribusi besar terhadap dunia ilmu pengetahuan dan menjadi penemu berbagai karya yang bermanfaat seperti Ibnu Sina yang berkontribusi besar di bidang kedokteran, menguasai bahasa Arab, geometri, fisika, logika, ilmu hukum Islam, teologi, dan ilmu kedokteran, Al Farabi merupakan ahli di bidang matematika, pengobatan, musik, dan agama, Al Khawarizmi yang berkontribusi besar di bidang matematika, geografi dan astronomi, AI-Kindi yang merupakan ahli metafisika, etika, logika, psikologi, farmakologi, matematika, astrologi, dan optik. Dunia juga mengenal Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan Islam, ekonom, sejarawan, dan sosialogi Islam, Al Zahrawi, tokoh peletak dasar-dasar ilmu bedah modern, Abbas ibn Firnas, seorang pelopor di bidang penerbangan dan aerodinamik. Ada pula Al-Ghazali sebagai filsuf dan teolog, Ibnu Haitsam yang dikenal sebagai Bapak Optik Modern, Ibnu Rusyd seorang ahli fikih, kalam, sastra Arab, matematika, fisika astronomi, kedokteran, dan filsafat, Jabir bin Hayyan seorang Bapak Kimia Bangsa Arab. Selain itu masih ada lagi Al Battani, seorang ahli astronomi dan matematika, Ismail Al-Jazari, seorang seniman sekaligus matematikawan, Tsabit bin Qurra yang merupakan Bapak Penemu Statistika, At Tabari seorang hakim, ulama muslim, dokter, ahli fisika dan psikolog legendaris muslim, Al-Asma'i, sosok yang paling awal mengembangkan sains dan zoologi. Al Dinawari, seorang ahli botani, Al Biruni yang merupakan ilmuwan muslim bidang kajian matematika, kedokteran, fisika, geografi, kronologi dan astronomi, sejarah, musik, farmasi. Selain itu adalagi Ar Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan dan pengobatan seputar penyakit cacar.
Manusia memang diciptakan Allah sebagai makhluk berpikir dan berakal yang membedakannya dengan makhluk lainnya serta dengan kemampuan berpikir dan berakal tersebutlah menjadi modal utama bagi manusia menjadi khalifah di muka bumi, sehingga manusia mampu mengatasi kuat dan dahsyatnya fenomena alam dan mengendalikan makhluk lain yang jauh lebih kuat, lebih tahan, lebih besar, dan lebih cepat dari manusia. Perintah untuk berpikir, berakal dan berilmu ini jelas dalam Al Qur’an, perkataan terkait dengan akal, ilmu, dan fikir diulang berkali-kali. Perkataan ‘ilm itu dituliskan sebanyak 105 kali, dan jika termasuk kata jadiannya lebih dari 744 kali. ’Aql disebutkan sebanyak 49 kali, ta’qilun diulang sebanyak 24 kali, ya’qilun diulang sebanyak 22 kali termasuk perkataan ’aqala, na’qilu, dan ya’qilun masing-masing terdapat satu kali. Selain itu ada pula penggunaan bentuk pertanyaan yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat seperti kata afala ta’qilun diulang sebanyak 13 kali. Ada lagi perkataan lain terkait berilmu, berakal, dan berfikir, afala tadzakkarun, afala tatadabbarun, afala tatafakkrun yang intinya menyuruh manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya.
Dari semua yang diuraikan di atas, adalah wajib bagi kita untuk selalu berinteraksi dengan Al Qur’an dan setiap bulan Ramadhan mestinya momen yang tepat bagi kita untuk meningkatkan interaksi kita dengan Al Qur’an yang membuat kita menjadi sahabat bagi Al Qur’an. Bentuk interaksi yang kita bangun dengan Al Qur’an kita pilih dan tentukan sesuai kapasitas dan kapabilitas kita. Idealnya memang kita menjadi pengkaji, pengamal, penyebar, pendakwah, pengajar, pembaca, pendengar, sekaligus pencinta isi dan kandungan Al Qur’an. Bagi orang awam yang tidak mengenal dan tak pandai membaca, minimal jadilah orang yang menjadi pendengar, tetapi kita juga harus meningkatkan kemampuan kita untuk berinteraksi, sehingga dari Ramadhan ke Ramadhan, tingkatan interaksinya bertambah, dari hanya sekedar pendengar menjadi pembaca, untuk seterusnya menjadi pembelajar, pengajar, penyebar, dan pengamal. Bila memiliki kapasitas keilmuan dan kemampuan, tentu akan lebih baik lagi jika menjadi pengkaji sehingga bisa menjadi penerus Ibnu Sina, Al Farabi, AI-Kindi, Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, dan para ilmuan muslim lainnya. Masih sangat banyak kandungan Al Qur’an sebagai Al ‘Ilm yang bisa dan perlu digali dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan lahirnya intelektual dan ilmiawan muslim baru yang mengacu pada Al Qur’an serta menjalani kehidupan dengan berpedoman pada Al Qur’an, maka kebangkitan dan keberjayaan Islam akan dicapai. _Wallahu a’lam._
Jumat, 14 April 2023
ANIS BASWEDAN : *_"Memimpin itu menggerakkan"_*
_“Saya tidak terlalu sependapat dengan orang yang menawarkan diri *Saya akan hadir menyelesaikan masalah Anda*_.
_Menurut saya itu kuno,”_ jelas Anies ketika saya tanyakan apa konsepnya tentang kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia saat ini dan ke depan.
_Kepemimpinan, menurut Anies Baswedan, memberikan nyawa, memberikan nuansa, dan memberikan perasaan tujuan yang sama._
Menurutnya, pendekatan yang lebih tepat adalah _“kepemimpinan yang hadir untuk merangsang semua orang mau menyelesaikan masalah yang mereka hadapi”_.
_“Istilah kami menggerakkan,”_ katanya, seraya menambahkan, hal inilah yang dia terapkan dalam Gerakan Indonesia Mengajar yang dipimpinnya.
_“Kami tidak berencana menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, tapi kami berencana mengajak semua pihak turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan Indonesia_”.
Problem yang ada di bangsa ini luar biasa banyak, katanya.
_“Tidak bisa kita berharap satu orang menyesaikan every single detail,_” ujarnya
Yang diperlukan, menurutnya, _“kepemimpinan yang membuat kita punya arah, yang membuat kita punya visi, punya bayangan cita-cita kita apa_”.
Anies membayangkan, kepemimpinan seperti dirigen dalam sebuah orkestra.
_“Tanya pada pemain biola: Anda bisakah main tanpa dirigen? Bisa! Tanya pemain piano, bisakah main tanpa dirigen? Bisa! Tanya seluruh pemain orkestra, semuanya bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, tanpa kehadiran seorang dirigen”._
_“Tapi”, lanjutnya,”kehadiran dirigen itu memberikan nyawa, memberikan nuansa, memberikan perasaan tujuan yang sama.”_
Di situ, menurutnya, kepemimpinan Indonesia dibutuhkan. _“Jadi kepemimpinan itu menggerakkan, dia mengarahkan, memberikan tujuan dengan penjelasan yang simple (sederhana)_”.
Langganan:
Postingan (Atom)
