10 Agustus 2008
Munzir Baraqah
Pada hari selasa, 5 februari 2008 di Harian Analisa terbitan Medan pada kolom “Sumatra Utara” mengenai tulisan berjudul "Ahmad Nazri Nasution, Pencipta Lagu Daerah Tapanuli Selatan (Tapsel) yang Kini Terlupakan yang ditulis oleh Al Benny H Damanik", saya mengucapkan terima kasih pada penulis yang telah secara bijaksana mengangkat cerita tentang Ahmad Nazri, salah satu pahlawan kita dibidang seni yang merupakan salah satu dari sekian banyak orang-orang yang terpinggirkan, kalau bisa dibilang telah terlupakan. Namun, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada penulis, ada sedikit yang mengganjal di hati saya sewaktu membaca tulisan dibawah gambar Ahmad Nazri yang bertuliskan,“SEPEDA ANGIN : Seniman musik daerah Ahmad Nazri Nasution (61) minder dalam kehidupan, meskipun masih tetap memakai sepeda angin botot model “penjajahan belanda”, dalam kegiatan kesehariannya.
Disini saya hanya ingin berbagi kepada Sdr Al Benny H Damanik, bahwa sepeda dimata kita semua yang sekarang sedang giat-giatnya menekan pemanasan global akibat pemakaian energi dari perut bumi yang berlebihan bukanlah barang botot, bahkan, Bapak Ahmad Nazri Nasution bisa dibilang bukan hanya sebagai pahlawan dibidang seni, namun kita semua perlu mengangkat beliau sebagai Pahlawan Lingkungan Hidup yang mencintai anak cucunya agar tidak menghirup racun polusi dari asap kenderaan yang dihasilkan orang-orang yang masih banyak tidak menyadari atau memang sombong dengan pakaian duniawinya. Sosok Ahmad Nazri tidak pernah dan tidak sedikitpun terbetik di hatinya perasaan minder menjalankan sepeda antiknya, dia berkeliling kampung yang dijaganya agar tetap asri, bahkan beliau bangga telah menjadi bagian dari orang-orang yang membantu ikut dalam mencegah rusaknya iklim dunia.
Terima kasih Pahlawanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar