Sekitar pukul dua dini hari sesampai Indramayu, kantuk tak tertahankan. Mobil merapat ke sebuah masjid. Namun karena terganggu oleh serangan nyamuk akhirnya kami pun pindah tidur ke mobil.
Azan subuh menggema, sadarkan kami kalau Hasril ternyata tidak ada di tempat. Namun sejurus kemudian kulihat Atin yang ternyata baru selesai di pijat, berjalan menuju mobil.
Dia mendapat cerita unik kalau gadis-gadis Indramayu terkenal ayu. Eh, jangan piktor alias pikiran kotor dulu, beliau bukan dipijat oleh gadis-gadis dimaksud, tapi, "pijat sehat biar nggak masuk angin",katanya.
Setelah membeli Aqua (Rp 5rb) perjalanan kami lanjutkan menembus pekatnya kabut pagi.
Pantai Utara di Pulau Jawa, pusat syiar Islam menyebar, anugrah tim dapat berziarah ke makam Wali penyebar Syari’ah, mulai Sunan Gunung Jati hingga Sunan Ampel, dari Cirebon hingga Surabaya.
Ziarah dimulai dari makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Sunan Kalijaga atau R.M Syahid di Kadilangu, Demak.
Agak siangan kami masuki Masjid Demak untuk shalat di Masjid Demak. Setelah shalat kami masuki situs-situs di masjid dan melihat-lihat pekuburan raja-raja Demak.
Setelah puaskami keluar dan makan siang (20rb) aku juga membeli obat obat untuk menghilangkan masuk anign dan rasa pusing.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Pati dan mengisi bensin di Pati (162rb) untuk meneruskan perjalanan panjang kami.
Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim di Tuban, Sunan Muria di gunung Muria, Muria dan Sunan Kudus atau Ja’far Siddiq sekaligus melihat Menara Masjid Kudus di Kudus. Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maghribi dimakamkan di jalan Malik Ibrahim, kampung Gapura Gresik. Sunan Drajat atau Syarifuddin. Kemudian makam Sunan Giri atau Raden Paku di bukit Giri di Gresik.
Sarapan pagi (Rp 14rb)kami di Pasuruan di warung Mbak Umi yg tampil cantik pagi itu yg belum meyediakan banyak makanan, namun sedikit kami paksa untuk menyiapkan makanan bagi kami. Pintu masuk Bromo di Pasuruan hanya bisa kami pandangi (suatu hari nanti kami akan kembali). Selanjutnya di Rembang kami makan siang (Rp 31rb). Lewat Kediri dimalam hari kami dikejutkan dengan adanya razia, namun disini keampuhan topi pemberian Fahrizal, polisi-polisi itu nggak memeriksa banyak, selain melihat surat kami yg lengkap juga kami dengar teriakan teman sesama polisi yg mengatakan ‘”ada polisinya tuh” akhirnya kami lewat dengan aman hingga memasuki tol Surabaya (Rp 7rb) pada dini hari.
Hari ke-Tujuh
Dan akhirnya team tiba di Masjid tempat dimakamkannya Sunan Ampel atau Raden Rahmat dan pengikutnya di Surabaya pada pukul 2.00 jumat pagi atau Jum’at manis menurut kepercayaan penduduk setempat, membuat ramai peziarah yang berkunjung sehingga menimbulkan suasana magis di sekitar pemakaman yang ditumbuhi pohon-pohon beringin raksasa yang sudah berusia ratusan tahun.
Sebelum memasuki masjid Sunan Ampel kami makan nasi goreng di depan masjid (Rp 10rb). Kemudian memuaskan diri dengan shalat dan ziarah kepekuburan dilanjutkan dengan tidur-tiduran di masjid. Setelah Hasril membeli jerigen untuk mengambil air sumur diMasjid Sunan Ampel kami pamit pada seorang Mahasisawa yg bertugas untuk memandu pengunjung atau peziarah. Sekitar pukul 3.00 kami berangkat dan setelah membayar parkir (Rp2rb) kami lanjutkan melewati markas AL terbesar di Indonesia.
Surabaya yang panas tidak sempat kurasakan, usai subuh, sesuai schedule, tim bergerak menuju Porong, Sidoarjo, namun langit berwarna merah saat kuteringat perkataan Mahatma Gandhi, ”Dunia ini mampu menampung kebutuhan manusia namun dunia ini tak akan sanggup memenuhi keinginan atau hawa nafsu manusia.
Setengah jam meninggalkan kota Surabaya, terlihat asap mengepul dibalik benteng yang ternyata tunggul Lapindo. tepatnya dipersimpangan lampu merah hendak berbelok kanan menuju tanggul Lumpur lapindo kami dikejutkan dengan ketukan di kaca, ternyata korban-korban lumpur lapindo yg meminta sedikit sumbangan dari pengendara. Sesaat tim sedikit berbagi, sumbangkan buah rezeki pada korban ulah grup Bakrie, yang tak henti mengeksploitasi bumi. (Kalo gua Aburizal Bakri, gua kan jual setengah asset gue untuk membuatkan rumah bagi korban Lumpur Lapindo yg sengsara akibat ulah gue yg telah mengutak-atik tanah mereka. tapi ini yg kita lihat malah sebaliknya, dia malah makin kelimis. Coba kalau dulunya perusahaannya tidak mengganggu tanah itu, pasti tidak akan ada semburan Lumpur itu. Mana tanggung jawabmu mas Rizal?).
Melewati tanggul lumpur lapindo pada dini hari itu terasa kehebohan masyarakat sekitar. Dari asap panas di kejauhan hingga rumah 2 yg telah digenangi Lumpur akibat bocornya tanggul itu. Sampai kami lupa menayakan arah jalan hingga kelewatan dan kembali memutar arah untuk menuju Banyuwangi.
Pada umumnya perusahaan industri di sekitar kawasan pemukiman penduduk hanya fokus untuk mengembangkan usaha memperoleh keuntungan berlipat ganda, tetapi kebanyakan perusahaan tersebut lupa dengan keadaan sekitarnya. Perusahaan lupa akan kepedulian terhadap sesama, lupa terhadap kewajibannya kepada masyarakat disekitar lingkungan perusahaan atau Community Social Responsibility (CSR).
Memasuki Banyuwangi kami makan siang (Rp. 23rb) sambil ngobrol dengan sesama pengunjung warung sambil men charge handphone masing-masing. tidak jauh kami berjalan, kami lihat salah satu pengunjung rumah makan tadi mengalami trouble pada kenderaanya dan ketika kami hampiri, mereka katakan sudah ditangani dengan baik. Kami pun pamit sambil melambaikan tangan dan kembali melanjutkan perjalanan.
Feri penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk (Rp.80rb) mengantar Tim dengan hati berdebar, menuju Pulau Bali yang sudah didepan mata. Wajah-wajah ramah di geladak feri seolah menyambut kedatangan Tim. Memasuki Bali aku turun sesaat untuk melihat laut lepas dan pemandangan disekitar pelabuhan sambil mengambil dan mencium tanah Bali, tak lupa juga mengeluarkan yang sudah tersimpan lama di kantung kemih,ya , pipis dulu..
Seperti tidak ada hari esok, padahal hari menjelang petang. Tim sempatkan membekukan beberapa momen di Hutan Balai konservasi dan kegiatan pemujaan di tepi pantai kawasan konservasi tempat dilindunginya pepohonan dan binatang langka yang seringkali menjadi objek buruan.
Dari informasi yang didapat dari situs Departemen kehutanan, ular sanca atau mamalia seperti biawak & kura-kura boleh diekspor, selain untuk budidaya & penelitian juga diperbolehkan untuk souvenir dalam jumlah tertentu. Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan & Konservasi Alam nomor SK 06/IV-KKH/2008 yang di tanda tangani pada 18 Januari 2008 ini, menyisakan tanya. Persoalannya, terkadang teori dengan kenyataan dilapangan bisa jauh berbeda.Para pemburu binatang, berusaha dengan segala cara, mencari celah untuk melegalkan aksinya. Mungkin saja keputusan ini akan menjadi wacana pembenaran ekspor illegalnya.
Setelah mengisi bensin di Jembrana (165rb), Tim makan malam (Rp 35rb) di Gerobogan, sambil bertanya-tanya dimana tepatnya Jalan Poppys di wilayah Kuta. Tanpa menemui kesulitan berarti akhirnya kami temukan penginapan bersih di Hotel Dua Dara di Poppyes yg berharga 80 rb/malam. Malam itu, kami tidak kemana-mana kecuali Hasril yg sudah tidak sabar hendak melangkahkan kaki menyusuri jalanan di Bali. Malam itu aku dan Ucok tidur nyenyak. Grhek… grhekg..grkhk…
Hari ke-Delapan
Bali, Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, no comment, adat istiadat nya, keseniannya, kerajinannya, taman nasionalnya, taman lautnya, tanah lot nya, pantai sanur nya, ombak jimbarannya, surfing kuta nya dan banyaknya yang lainnya. Juga sebuah monumen yang layak dibangun untuk memperingati tragedi bom bali di Legian, Kuta, 202 nama korban tragedi bom bali.
Jika di Medan, orang ber Tattoo identik dengan preman, ternyata sama sekali jauh dari sangar pemuja Tattoo di Bali. Disini, seni dan budaya benar-benar dijunjung tinggi. Pusat perbelanjaan, Hotel dan Kafe berada dalam jarak yang berdekatan, dibangun tidak menutup jarak pandang dengan garis pantai yang rapat dengan pepohonan, mudah ditempuh dengan berjalan kaki di pedestrian way yang nyaman, sungguh sangat seimbang dengan lingkungannya. Dan bila kuat untuk tetap terjaga, banyak aktifitas yang dapat dilakukan. Golf, Snorkling, Diving, Shopping, Dancing, Clubbing dll.
Pelabuhan Ketapang, waktu menunjukkan pukul 11.00 malam, ferry (Rp.80rb) bersandar ditengah suara petir menggelegar. Cuaca buruk hujan gerimis, suara halilintar berlomba bergemuruh tak surutkan langkah kami. Banyuwangi mendadak lengang, yang membuat bergidik apabilamengingat kejadian beberapa waktu lalu yang mengakibatkan lusinan orang terbunuh akibat isu dukun santet.
SPBU yang lengkap dan mempunyai musholla yg bersih memang menjadi pemandangan biasa di Pulau Jawa, begitu juga di Banyuwangi. Setelah mengisi bensin (Rp 140rb) kami istirahat sejenak untuk shalat dan sedikit bersitegang mengenai jalur yang akan ditempuh.
Disini Hasril menunjukkan rasa takut untuk melintasi jalur yang baru. Namun setelah diyakinkan akhirnya ia mengalah dan setuju. Disini baru kita dapat melihat. Biasanya kita hanya mendengar suasana mencekam akibat isu santet di Banyuwangi. Lalu lihat lah jalur transportasi yang mulus, sangat jauh dengan Sumut. Walau suasana malam sudah sepi, kami tetap melajukan kenderaan dengan yakin.
Hari ke-Sepuluh
Jurang yang menganga di kiri dan kanan badan jalan ditengah ketinggian pegunungan sepeninggal kota Banyuwangi untuk menghampiri Kota Lumajang yang mendadak kelam. Rute selatan penuh tantangan, disini perjalanan sesungguhnya di uji ketika tim merambah wilayah perbukitan yang sejuk, susuri pegunungan berkabut, gelitik pinggang Gunung Merapi saksikan hamparan gugusan Gunung Raung dan Gunung Kukusan, hangatnya hidangan rangkaian Semeru, Argopuro, Bromo dan Mahameru.
Sesekali kudengar mereka berdebat mengenai arah mana yg harus diikuti, namun akhirnya kami jelang pagi di Lumajang dan singgah di warung nenek yang sedikit cemberut karena nasi pecalnya tidak habis kami santap. Setelah membayar (Rp 15rb) perjalanan kami lanjutkan menuju Blitar
Pesona alam tak terlupakan, eksotisme budaya masa silam. Tantangan ekspedisi variasi hidup, membawa kami dari Kepanjen menyusuri Waduk Sutami, Waduk Kesamben dan Waduk Wlingi ke kota Blitar, di tengah suasana gerimis, ke tempat peristirahatan terakhir Bapak Proklamator RI, Ir. Soekarno.
Sesampai di Blitar, kami makan siang di Warung yg ternyata dimiliki orang Medan juga (Rp 25rb) yang tidak jauh dari makam bung Karno. Setelah berbasa-basi dengan pemilik warung yang katanya rindu kampung halaman, kami pamit menuju Makam Sukarno. Beberapa saat berziarah,dan membeli oleh-oleh di sekitar makam Sukarno, kami lanjutkan perjalanan kembali menuju Malang
Mendung bergayut, awan berarak, waktu berlalu begitu cepat, Gunung Kelud didepan mata, tunjukkan tanda gejala amarah. Dari pusat posko bencana, setelah sempatkan turut memantau aktivitas gunung berapi yang kian menunjukkan gejala aktifnyakami segera berbenah, beranjak di ambang senja, meninggalkan jejak di kaki Gunung Kelud, Kediri.
Siang di rembang petang setiba di Loceret dengan maksud menemui orang tua di Kota Nganjuk.
Sebelum memasuki Nganjuk, aku menghubungi adikku yang ada di Kalimantan untuk menanyakan alamt rumahnya yg ada di Nganjuk. Setelah dapat kami langsung ke sasaran, namun sebelumnya kami menbeli sedikit penganan (?) menjelang maghrib tiba. Suasana nyaman dan udara yg segar di kampung memang terasa sekali. Usai shalat Magrib kami berbincang-bincang melepas rindu dilanjutkan dengan makan malam. Setelah berfoto sejenak, kamipun yg sebenarnya diharapkan untuk menginap, menolak dengan halus, karena jalan masih panjang. Dipintu keluar jalan raya kami singgah untuk membeli obat pereda sakit kepala danmasuk angin untuk berjaga-jaga. Setelah mengisi bensin di Nganjuk (Rp 155rb) perjalanan dilanjutkan mengarah ke Magelang.
Ngawi, Sragen, Surakarta. Indah Bengawan Solo, dan Keraton Surakarta jangan sampai ini terlewatkan, tambatkan kaki walau sekejap.
Hari ke-Sebelas
Ingin lihat Jogja dari dekat pasca bencana teramat dahsyat luluh lantakkan separuh jagat, bernostalgia walau sesaat mengenang masa yang telah lewat. Keraton Susuhunan Jogjakarta, Borobudur yang kata dunia sudah tidak ajaib lagi.
Setelah mandi dan sarapan (Rp 20rb) kami juga mengecas handphone yg hampir low bat, kami mendapat informasi dari bapak yang memakai seragam dinas ABRI kalau Borobudur tidak begitu jauh lagi. Sesampai di borobudur aku yg sudah sering kemari hanya membelikan tiket masuk (Rp 20rb) untuk 2 orang. Kubiarkan Ucok dan Hasril berjalan melihat-lihat Borobudur sepuasnya. sementara aku duduk memesan soft drink (R.p 5rb) sambil melihat-lihat sekeliling yg banyak menjual souvenir. Ketika mereka kembali kulihat gambaran kelelahan dimata mereka namun gembira karena telah sampai ke situs terbesar didunia. Setelah membeli souvenir kami lanjutkan kembali perjalanan,
Satu hal menarik di Kawasan Wisata Borobudur, souvenir dan batiknya cenderung lebih murah dari pasaran di Kota Jogja..
Prambanan, Sewu, Kalasan. Ratusan situs dan petilasan, sarat sejarah budaya Indonesia. Always in my mind…
Hamparan persawahan Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Hijau asri menyegarkan panorama Banjar, Ciamis dan Tasik. Ciamik lekukan, tebing lereng Gunung Galunggung. Udara sejuk hawa di Garut, rindang pepohonan rimbun dedaunan, sungguh ingin ngaso sejenak.
Kali ini menuju Kebumen dan dijadwalkan makan siang di Kebumen. Nikmat banget makan siang kali ini, sambalnya ok punya. (Rp 40 rb). Di Banyumas kami lihat ban yg kempes dan minta ditambah anginnya (Rp 5rb). Selanjutnya bensin diisi di Tasikmalaya (Rp 155rb) dan makan malam yg tidak enak dan mahal di tol Purbaleunyi (Rp 48rb).
Bandung
Kota Bandung atau kota Kembang, suguhkan berbagai gaya dan rupa. Belanja sambil bernostalgia, tawarkan panorama kota tua. Sebelum kaki melangkah pulang, sempatkan diri mampir sejenak, hawa dingin udara Lembang, hembusan angin di puncak kawah, Tangkuban Perahu Bumi Parahyangan.…
Tak bisa disangkal, mengapa selama ini daerah yang dilanda konflik iri melihat perkembangan pesat di pulau Jawa. Tak satupun daerah yang tidak tersentuh pembangunan, jalan-jalan propinsi, kabupaten, kecamatan, desa sampai dusun-dusun semua teraspal mulus, jembatan raksasa yang tidak ada sebuah pun di pulau Sumatra, waduk-waduk berkilometer panjangnya, tidak salah mendapat julukan gemah ripah loh jinawi
Ohh Jakarta, semakin mendekati, semakin asap polusi tak terkendali. Pesona Batavia dahulu kala, haruskah polusi merajalela. Haruskah banjir kerap melanda. Haruskah sampah semakin menggila. Membuat sesak Jembatan Lima..
Memasuki tol cikampek (Rp.48rb) dan tol dalam kota Jakarta (Rp.6rb) pada dini hari terasa lengang. Setelah hilir mudik mencari penginapan dari mess milik Pemprovsu di jl Sambu dekat Taman Sari yang seperti tidak ada penghuni, sampai ke beberapa hotel di kawasan Cikini hingga akhirnya kami terdampar di Istiqlal menunggu pagi menjelang.
Hari ke-Dua Belas
Si Pitung legenda Betawi, kemacetan makin tak terkendali, Sesak ibukota membuat lupa untuk berhenti. Pada tahun 1992 Indonesia telah mencoba menangani pengendalian pemcemaran udaramelalui program Langit Biru yang melahirkan undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Kini, tahun 2008, kenyataan yang terjadi, asap kendaraan makin menjadi, hingga pepohonan lupa tumbuh kembali, kering diberangus si asapputih membuatTim lupa kemana pergi, sesat kehilangan arah kemudi.
Namun, bagi yang belum pernah ke Ibukota, ada satu kelebihan menarik, jika tidak memiliki pemandu, dengan mudah kita akan mendapatkan informasi dan transportasi. Banyak pilihan menuju tempat tujuan mulai dari Bus Way, Kereta Api sampai taksi. Bila membawa keluarga, Taman Impian Jaya ancol sampai saat ini menjadi tempat yang menyenangkan.
Kejadian yg tak terduga, ketika perutku terasa mulas, aku mencoba mencari toilet. ternyatapenuh oleh anak-anak sekolah baru aku tahu berasal dari Jawa Timur yg kebetulan juga sedang mengadakan tour di Jakarta. Jadi deh gua kebingungan mencari toilet. di ke empat sudut istiqlal tak ada jg tempat untuk mengeluarkan ampas perut ini. Akhirnya…
Setelah shalat shubuh, kudapati teman seperjalanan masih belum beranjak dari tidurnya, kubangunkan untuk segera menunaikan shalat....setelah melihat sekeliling istiqlal kulihat ada penjaja makanan dan kuhampiri untuk sarapan pagi (Rp 10rb).
Setelahnya kami bergerak untuk mencari hotel, dan akhirnya tak jauh dari Istiqlal kami temukan hotel (Rp 410rb) dan segera beristirahat.
Pelayan hotel menawarkan jasa untuk mencuci mobil (Rp 25rb) yang keadaannya seperti kubangan kerbau, maklum saja, sudah 2 minggu mobil belum pernah di cuci.
Pukul 12.00 kami bangun dan mencari makan siang yg kebetulan ada didepan hotel (Rp 28 rb). Hari ini kami habiskan untuk merebahkan diri melepaskan lelah meluruskan punggung, melonggarkan pinggang dan berbagai kalimat yang artinya sama juga dengan melepas lelah.
Hari ini kami menunggu kedatangan rekan kami yang tinggal di Jakarta. Adi namanya. Setelah dia sampai, kami bergerak malamnya, dan kubawa rekanku ke Ancol (Rp 50rb). Setelah puas berkeliling di Ancol, kami menuju Mc Donal di jl Thamrin (Rp 78rb).