Selasa, 19 November 2019

Nafkah Batin yang Sesungguhnya

Baru saja aku sampai dari kerja ketika terdengar suara tangis dari dalam kamar. Suara istri dan si kecil.

Nampak di dalam ruangan itu berserakan mainan anakku. Si sulung berhenti bermain ketika melihatku.

"Is, Uni, is." Putraku mendekat sambil nunjuk ibunya. Aku paham apa maksudnya. "Nangis. Umi nangis."

Kuletakkan ransel di lantai. Lalu menggendong si bungsu yang masih nangis di samping istri, berusaha menenangkannya. Tak lama setelah itu, aku jongkok dan memijat lembut kaki istri dan menjalar sampai ke paha.

"Ada apa?" tanyaku perlahan.

Dia masih sesenggukan, "Aku capek. Anak-anak gak mau diem dari tadi. Pingin jalan2"

"Jalan2 ke mana?"

"Ke Sabang, lah."

"Iya, nanti kita liburan bareng. Kalau aku libur kerja."

"Aku capek, Bang. Ngurus dua anak, malam gak bisa bobo ayun sm abang, gara-gara mereka gantian rewel. Pagi harus nyuci piring, nyuci baju, masak buat bekal Abang, beresin  rumah. Siang juga gak bisa istirahat, satunya bobo, satunya gantian bangun. Itu kasur depan udah tiga kali aku beresin, tiga kali juga diberantakin sama dias. Aku capek. Rumah udah kayak kapal Gurita pecah."

Aku terus pijit paha istri yg halus mulus sampai kedekat selangkangan.

"Mana Abangnya gak mau bantuin. Momong anak bentar udah dikasihkan ke aku lagi. Anak e'ek dikasihkan ke aku lagi."

Inilah hebatnya seorang wanita, bahkan saat nangis pun masih bisa ngeluarin banyak kata.

"Aku gak bisa nyebokin si kecil. Kalau cebok sendiri mah udah ahli," timpalku tanpa dosa.

"Gak usah bercanda. Aku capek."

"Hehe. Iya maaf bercanda tadi."

"Gak usah bercanda! Dibilangin aku capek."

Aku mingkem.

"Bantuin aku lah,  Bang. Biar aku gak ngerasa capek sendiri di sini."

"Oke. Tenang. You'll never walk alone," ucapku.

***

Esoknya, alias tadi, setelah sholat Subuh, aku langsung ke dapur. Nampak piring-piring kotor beserta sampah berserakan di sana. Jijik euy. Orang kebiasaan pegang piano, sekarang pegang sampah.

Tapi bismillah demi nepatin janji...

Aku nyalain air, kemudian mulai mencuci. Satu dua piring sih gak masalah. Tapi lama-kelamaan, kok pegel juga ya aktivitas nyuci piring ini. Bonyok alias tulang belakang jadi agak nyut-nyutan.

Setelah nyuci piring, aku cuci baju. Ternyata kegiatan ini tambah bikin pegel.

Aku gak bisa bayangin gimana capeknya istri ketika harus menahan kantuk sebab seharian tak bisa tidur, lalu melakukan rutinitas seperti ini pada subuh hari, berhari-hari. Jadi sangat beralasan jika dia ngaku capek. Emang beneran capek. Ini aku cuma nyuci piring ama baju. Sedangkan istri biasa lanjut masak, mandiin anak, momong mereka. Ya Allah, jelas capek luar biasa.

Di tengah mencuci baju, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Aku kaget, kupikir kuntilanak. Ternyata dia istriku.

"Makasih ya, Bang. Udah bantuin aku meski cuma sekali-kali ini seumur hidup," ucapnya lemah.

Aku menoleh, dia tersenyum.

"Sama-sama, Neng."

"Udah, Abang sekarang berhenti. Biar aku yang lucutin bajunya abang, biar aku yg pelorotin celananya abang.  Abang udah niat mau bantuin aku aja, batin ini udah seneng banget. Sekarang abang boleh masukin. Kalo abang capek, Sini aku gantiin, Bang, biar aku yg goyang diatas."

"Gak papa kok, Neng. Biar aku goyang aja dulu ."

"Makasih, ya, Bang. Makasih banyak."

Aku mengangguk.

Dalam hati aku berucap, Ya Allah, baru dibantuin sehari saja sudah seperti ini rasa syukur istri padaku.

Aku seperti disadarkan, bahwa istri sudah melakukan hal ini berulang-ulang, berhari-hari, bertahun-tahun.

Tapi seringkali aku lupa untuk membalas segala lelahnya meski hanya sekedar mengucap, "Terimakasih."

Neng, nanti ke Sabang lagi, yuk...

(Catatan kecil Reza - Banda Aceh 2018)

Tidak ada komentar: