3. Rasa & kualitas kopi adalah segalanya.
Kenapa rela merogoh kocek lebih dalam di kedai kopi, ketimbang menenggak kopi kemasan? Kopi itu adalah sebuah tanaman yang cukup unik karena seberapapun hebatnya pupuk dan obat tanaman, nggak bakal bisa mempengaruhi karakter dan rasanya. Rasa yang keluar dari biji kopi sangat tergantung sama iklim, suhu, jenis tanah dimana si pohon ditanam, hingga usia si pohon sendiri. Itulah kenapa walaupun sama-sama ditanam di pulau Sumatera misalnya, biji kopi punya rasa yang berbeda.
Nah, harga biji kopi yang berkualitas baik ini per kilogramnya bisa lebih dari 100.000 rupiah. Oh ya, itu harga biji kering mentah lho! Gimana dengan biji yang udah dipanggang? Contoh aja, seperempat kilogram kopi Toraja Pulu-Pulu itu harganya sekitar 70rb hingga 80rb rupiah. Salah satu jenis kopi dari dataran tinggi Gayo berharga sekitar 50rb sampai 60rb rupiah per seperempat kilogramnya. Jadi dengan harga segitu jelas nggak masuk akal kalau harga per-gelasnya 2rb rupiah perak. Bahkan 5rb rupiah segelas pun nggak mungkin.
Terus, kok kopi kemasan itu bisa murah? Dari segi kualitas bisa dibilang kopi dalam kemasan punya kualitas paling rendah. Beberapa merk kopi kemasan bahkan mencampur biji kopi sama biji jagung supaya bisa dijual murah. Produsen kopinya menipu dong? Nggak juga sih, orang produsennya juga nggak bilang kalau itu 100 persen biji kopi asli.
So, pepatah bilang, ada harga ada barang. Segembel apapun kedai kopi, tapi kalau yang dijual adalah kopi-kopi berkualitas tinggi, harganya nggak bakal semurah kopi kemasan.
4. Menikmati proses meracik kopi
Kopi hitam harus di-treat secara khusus. Nggak asal pakai air panas, untuk mengeluarkan rasa asli si biji kopi, ia harus diseduh dengan air bersuhu 87-90°C. Belum lagi soal teknik meraciknya, ada teknik Tubruk yang asli Indonesia, French Press, Syphon, Pour Over, Vietnam Drip, Turkish, Aeropress dan lain sebagainya. Ingat, itu cuma racikan kopi hitam. Racikan capuccino, machiato, frapuccino, caffe latte dan sejenisnya lebih rumit lagi karena suhu susu, lama pemrosesan buih susu juga harus tepat. Nah, para penggemar kopi rela membayar mahal untuk melihat proses meracik yang unik ini.
5. Barista nggak cuma jual kopi.
Kita para penggemar kopi rela bayar mahal di coffee shop nggak cuma pengen merasakan racikan kopi si barista, tapi juga pengen ngobrol dan bercengkerama sama si barista. Barista sendiri memang nggak sekedar harus bisa meracik kopi nikmat, tapi juga harus punya wawasan luas supaya bisa nyambung sama obrolan si pelanggan.
Soal kemampuan mengolah kopi, si barista mesti ingat secara detil pesanan tiap pelanggan. Masalahnya tiap pelanggan punya keinginannya masing-masing, misalnya minta less sugar, nggak pake whip cream, tambah sirup tiramisu, pakai susu lowfat, dan pesanan-pesanan aneh lainnya. Kopi di warung pinggir jalan kita nggak bakal bisa rewel begini sama si pelayan.
6. Penggemar kopi itu friendly.
Mereka juga biasanya enak diajak ngobrol, sehingga nggak heran banyak pertemanan, bisnis, bahkan percintaan dimulai dari kedai kopi.
7. Ambience kedai kopi
Para pemilik kedai kopi berusaha maksimal buat membangun suasana yang tenang di kedainya. Malahan kalau diperhatikan, suasana yang dibangun di kedai kopi ini lebih mirip sama suasana perpustakaan ketimbang suasana restoran.
Masalahnya bro, sis, internet tanpa kopi adalah hampa. Sebaliknya, kopi tanpa internet itu bagai sayur tanpa garam. Begitu keduanya bertemu, hasilnya ide-ide kreatif dan brilian. Mau bukti? JavaScript yang ada di komputer atau laptop kalian itu dihasilkan dari seorang penikmat kopi Jawa. Itu dia kenapa Brendan Eich, Founder JavaScript memberi nama temuannya yang brilian itu dengan kata 'Java'.
Tapi perlu diingat, nggak semua kedai kopi atau kafe mahal itu menyediakan kopi yang berkualitas karena nyatanya kebanyakan pengunjungnya cuma sekedar mencari gengsi atau mencari ketenangan semata aja. Sebaliknya, nggak semua warung kopi pinggir jalan itu kopinya jelek karena banyak juga yang menyediakan kopi-kopi berkualitas dengan harga yang miring, walau nggak semurah kopi kemas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar