Senin, 12 Agustus 2019

Cinta Monyet to Cinta Gorilla

10 Agustus 1997 - 10 Agustus 2019

Here we go ....

Saya mengenal laki-laki ini sejak 33 tahun lalu. Dua belas tahun kami tumbuh bersama sebelum akhirnya menikah. Laki-laki ini lebih cepat matang dibanding saya ketika itu.

Ia berusaha memahami lugu dan polosnya masa kanak-kanak saya. Salah satunya ketika laki-laki ini tersenyum dan sabar menunggu di bawah pohon jambu, saat saya masih sesukanya naik dan nangkring di atas pohon itu. Sementara kedatangannya belum saya pahami sebagai bentuk "apel". 🤭
Serta banyak lagi tingkah kekanakan saya yang tak jarang bikinnya tersenyum atau menahan kesal ya? 😂

Hingga waktu akhirnya mengajari saya bagaimana harusnya bersikap sebagai anak perempuan. Selama itu pula, laki-laki ini sabar menunggu dan ikut menikmati proses pendewasaan itu.

Dua belas tahun kami selalu menjaga kebersamaan itu dengan tulus. Dua belas tahun, laki-laki ini begitu sabar menemani proses pendewasaan saya. Dari anak perempuan yang cenderung cuek sampai menjelma menjadi gadis yang sesungguhnya. ☺

Waktu itu, bukan tidak ada yang mencoba mereka-reka jika kebersamaan kami hanyalah sementara dan akan kandas oleh laju usia. Sebab mereka menganggap bahwa rasa sayang dan cinta yang perlahan tumbuh itu tidak kuat. Cinta monyet! Begitu katanya. Namun ternyata yang dinilai sebagai "cinta monyet" itu justru bertumbuh menjadi "cinta gorilla". 😂😅😋

Laki-laki ini memang luar biasa sabar menunggu saya benar-benar "matang" untuk memahami apa itu kasih sayang dan kesungguhan yang berproses di dalam kebersamaan kami.
Sampai pada masa-masa kuliah yang menjadi ujian lumayan berat buat saya. Salah satunya adalah belajar untuk setia pada cinta laki-laki ini, sementara mata dan hati saya mulai dipaksa untuk tergoda melihat dan memilah-milih. Sedangkan laki-laki ini justru semakin menunjukkan kesetiaan yang bertambah kuat. Itu yang membuat saya takluk.

Dan ketika tiba saatnya ia melamar lalu meminta saya menjadi pendamping hidupnya, saya semakin yakin, bahwa laki-laki inilah pasangan hidup yang Allah berikan untuk saya. Saya bersedia menerima lamarannya. 😍

Kini kami sudah menjadi orangtua untuk kedua anak kami. Kisah kami pun sesekali mengurai dan menjadi salah satu obrolan jika anak-anak iseng bertanya tentang bagaimana awalnya orangtua mereka saling mengenal. Ada yang bikin mereka tertawa, terharu, dan ada yang membuat mereka "malu-malu kucing" untuk menyimaknya.

Intinya anak-anak kami kagum pada proses tumbuh kembang dan kebersamaan orangtua mereka yang bisa bertahan hingga menghalau semua praduga dan prahara.
Walaupun begitu, kami tidak pernah mencontohkan bahwa pacaran sebelum menikah itu adalah solusi. Proses itu cukup sampai di kami saja. Episode pacaran itu tak boleh diwariskan. 🙈
Sebab, dulu kami tidak belajar dan pemahaman kami tentang itu minim. Kini anak-anak kami harus jauh lebih luas pemahamannya tentang Islam. Kami sebagai orangtua mereka tidak boleh berpura-pura dan menutupi sejarah masa lalu, namun di samping itu kami juga wajib memberi pemahaman yang sesuai dengan syari'at.

Ada satu statement yang anak-anak kami ucapkan setelah menyimak kisah kami, bikin saya tersenyum haru. "Don't try to imitate the love story of Mom and Dad. We will not survive." ☺🤭

Hingga hari ini, di luar kebersamaan dua belas tahun sebelumnya, sudah genap 22 tahun kami mengarungi bahtera yang dilandasi oleh cinta, kasih sayang, kepercayaan, serta rasa saling menghormati satu sama lain. Dan semua itu disandarkan pada ridho Allah SWT semata. 😇

Namun, bukan tidak pernah ada riak bahkan prahara. Bukan tidak pernah ada guncangan. Bahkan yang kami rasa terberat pun pernah dan sudah kami alami serta sempat memancing ombak besar yang membuat bahtera kami nyaris oleng. Sebab tidak ada kehidupan yang sempurna apalagi dalam berumah tangga karena ujian itu berbentuk rupa-rupa. Allah memberikan satu yang terbesar dan kami harus belajar untuk mampu menjadi tangguh melampauinya.

Satu hal yang membuat bahtera ini kembali stabil adalah perlindungan Allah dan keteguhan dalam menjaga komitmen serta cinta yang sudah bertumbuh sejak masa kanak-kanak itu. Sehingga mampu menenangkan ombak yang nyaris menggulung bahtera yang dinakhodainya. Bahtera itu tetap bisa kembali berlayar hingga hari ini. Dan semoga terus menuju lautan tenang sampai di garis finish kehidupan hingga berlanjut di keabadian jannah-Nya kelak. Aamiin.

Well ... takut lebih panjang lagi dan bikin ill fill 😋 dan khawatir kehabisan ide juga untuk bahan novelnya nanti. 😂🤭

Happy anniversary my hubby ... please, be a good Imam and istiqamah to hold my "hand" and our children to jannah. Aamiin. 😇❤🤗

Tidak ada komentar: